Di Hari Kedua Studi Banding, Kementerian Pendidikan Pakistan Berkunjung Ke PP-PAUD Dan Dikmas Jabar Terkait Soal Sistem Pendidikan Nonformal Indonesia

Sistem Pendidikan Nonformal yang dimiliki oleh Indonesia menjadi tempat pembelajaran tim delegasi Kementerian Pendidikan Pakistan di PP-PAUD dan Dikmas Jabar.  (Foto: Santi)
Sistem Pendidikan Nonformal yang dimiliki oleh Indonesia di PP-PAUD dan Dikmas Jabar menjadi tempat studi banding tim delegasi Kementerian Pendidikan Pakistan. (Foto: Santi)

BANDUNG – Dalam rangka melakukan studi banding terkait soal sistem pendidikan nonformal, hari ini Kementerian Pendidikan Pakistan melakukan perjalanan ke Lembang, Bandung, Jawa Barat untuk mengunjungi PP-PAUD dan Dikmas yang berada di Jayagiri.

Setibanya di kantor PP-PAUD dan Dikmas, Jayagiri, Lembang, Bandung mereka bertemu dan berdiskusi dengan Kepala Pusat PP-PAUD dan Dikmas Jabar beserta jajarannya.

“Kunjungan hari ini bagi PP-PAUD dan Dikmas Jabar adalah sangat membanggakan. Karena PP-PAUD dan Dikmas yang mana tugasnya sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pusat dari Kemendikbud di wilayah propinsi Jabar, pada hari ini menjadi tempat untuk studi banding Kementerian Pendidikan Pakistan. Tentunya program-program yang baik dari PP-PAUD dan Dikmas bisa diambil sebagai contoh buat mereka dalam rangka untuk mempraktekan pola atau model pengelolaaan Paud dan Dikmas di Pakistan,” ucap Bambang.

Saat diskusi berlangsung ada banyak pertanyaan mengenai sistem pendidikan nonformal yang ada di Indonesia. Dan diskusi yang berjalan kurang lebih 2 jam ini mendapat tanggapan yang positif dari tim delegasi Kementerian Pendidikan Pakistan karena jawaban yang diberikan oleh Bambang Winarji selaku Kepala Pusat PP-PAUD dan Dikmas Jabar beserta jajarannya sangat lengkap dan jelas.

“Yang dipertanyakan mereka adalah bagaimana pengelolaan PAUD dan Dikmas mulai dari program-programnya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan sampai dengan pendanaan, kerjasama antara pusat dan daerah bentuknya seperti apa, sifatnya seperti apa, regulasinya seperti apa, dan terutama soal bagaimana pengelolaan keaksaraan (program pemberantasan/penanganan buta aksara) di Indonesia khususnya di Jabar. Karena tadi saat diskusi secara detail mereka bertanya soal pengelolaan keaksaraan dan pendidikan kesetaraan mulai dari Paket A, B dan C yang mana legalitas lulusan paket tersebut apakah sama dengan pendidikan formal ? Pertanyaannya sampai kesana dan kami jawab di Indonesia hal itu dihargai sama. Karena yang lulus paket A setara SD bisa masuk SMP lalu yang lulus paket B setara SMP bisa masuk ke SMA dan yang lulus paket C setara SMA bisa masuk di perguruan tinggi,” tuturnya.

“Dalam diskusi tadi saya juga menjelaskan kepada mereka bahwa program-program PP-PAUD dan Dikmas Jabar ada banyak karena itu sistem pengelolaannya adalah dengan sistem tatap muka, daring/online atau perpaduan keduanya (tatap muka dan daring). Untuk vocational sama dengan pendidikan formal. Jadi untuk mata pelajaran tertentu itu juga kita mengacu kepada pendidikan formal,” tambah Kepala Pusat PP-PAUD dan Dikmas Jabar Bambang Winarji kepada Theindonesiatimes.Com saat ditemui usai diskusi di kantor PP-PAUD dan Dikmas Jabar, Jayagiri, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/3).

Tim delegasi Kementerian Pendidikan Pakistan yang datang ke Indonesia didampingi tim dari Jepang, diungkap oleh Chiho dari JICA dengan adanya sifat homogen di masyarakat Pakistan memang menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan sebuah sistem atau program untuk pendidikan nonformal di Pakistan. Dan ia pun mengatakan jika kedatangannya hari ini untuk belajar banyak dari Indonesia tentang bagaimana memiliki sistem serta menerapkan sistem pendidikan nonformal di masyarakat.

“Sebagai Japan Internasional Corporation Agency kami membawa tim delegasi pendidikan Pakistan untuk mengetahui bagaimana sistem pendidikan nonformal bisa berjalan di Indonesia. Kami ingin belajar banyak soal ini dari Indonesia agar sekembalinya dari sini bisa segera mulai diterapkan di Pakistan. Karena Indonesia sudah lebih dulu menemukan dan menjalankan sistem pendidikan nonformal disini oleh karena itu kami ingin belajar dari Jayagiri center seperti soal sistem pendidikan nonformalnya, bagaimana menjalankan kurikulum, material dan tugas-tugasnya. Bagaimana semuanya itu bisa fleksibel untuk dijalankan dan bisa masuk hingga ke tingkat komunitas masyarakat,” kata Chiho dari JICA, Jepang saat ditemui ditempat yang sama.

“Saya rasa sangat mungkin sistem pendidikan nonformal yang dimiliki oleh Indonesia bisa di aplikasikan ke sistem pendidikan di Pakistan. Baik itu di level pemerintah pusat & masyarakat di daerah untuk memakai sistem pendidikan nonformal selain pendidikan formal walaupun kesulitannya memang ada disana karena tipe masyarakatnya yang homogen. Dari diskusi hari ini kami belajar banyak soal sistem pendidikan nonformal dari Indonesia, dan kami sangat yakin bisa di aplikasikan di Pakistan. Karena sebelumnya kami juga pernah kesini tahun 2011 dan hasil dari studi banding yang pertama sudah berhasil diterapkan di sistem pendidikan di Pakistan,” ungkapnya.

Beranggotakan 18 orang, usai diskusi dengan PP-PAUD dan Dikmas Jabar, tim delegasi Kementerian Pakistan besok akan mengunjungi beberapa lembaga pendidikan non formal yang ada di wilayah Bandung, Jawa Barat.

“Sepertinya di Pakistan itu isu soal pendidikan nonformal sudah dibicarakan ditingkat nasionalnya namun belum bisa nyambung di tingkat bawahnya dan hal itu yang belum mereka punya, sementara negara kita sudah punya untuk menyambungkan semuanya itu. Jalan tengah untuk bisa menemukan aspirasi yang ada di bawah dengan kebijakan dari pusat itulah yang mereka belum tau caranya dan untuk itu mereka datang berkunjung kesini untuk mencari tau. Tadi saat diskusi mereka memang banyak tanya kepada kita, karena di hari pertama dan kedua kunjungan yang dibahas adalah soal level kebiijakan tingkat nasional dan provinsi, jadi mungkin mereka ingin mendapatkan gambaran yang sebenarnya tentang kenyataan dilapangannya itu seperti apa, dan besok akan kita beri jawabannya dengan mengajak mereka mengunjungi ke beberapa lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM dan LKP, karena di dua tempat itulah mereka sudah mengimplementasi sistem dan mekanismenya seperti apa. Mudah-mudahan dengan besok mereka ke lembaga mereka bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari mulai kebijakannya itu seperti apa sampai ke level pusat pengembangan, dan di implementasikan di satuan penyelenggara pendidikan nonformalnya seperti apa dan bagaimana. Pengembangan kurikulum, cara belajar, pengembangan bahan ajar, mungkin bisa besok ditanyakan mereka secara langsung di lembaganya masing-masing. Karena bisa jadi hal itu berbeda dari satu lembaga ke lembaga lainnya walaupun dengan satu sumber kurikulum atau kebijakan yang sama dari level pusat. Vocasional dan Parenting merupakan program yang ada di PKBM, jadi mungkin besok mereka akan melihat ada penyelenggaraan pendidikan kesetaraan paket A, B dan C, anak PAUD, keaksaraan, dan kursusnya seperti apa. Karena biasanya 1 PKBM menyelenggarakan berbagai macam pendidikan nonformal, sedangkan LKP hanya kursus seperti kursus kecantikan, komputer dll. Lembaga LKP itu lebih kepada spesialisasinya,” jelas Titin Jayagiri Kasi Program & Evaluasi PP-PAUD dan Dikmas Jabar.  (Danur Santi)