Kabinet Yang Agile Menjadi Masukan Dari LAN Untuk Jokowi

Kabinet Agile menjadi masukan dari LAN untuk Presiden Jokowi.
Kabinet Agile menjadi masukan dari LAN untuk Presiden Jokowi.  (Foto: Santi)

Jakarta, theindonesiatimes – Setelah terpilih sebagai Presiden oleh KPU untuk yang keduakalinya, maka sesuai dengan pasal 16 UU Nomor 39 Tahun 2008 Jokowi harus segera membentuk kementerian.

Dan di dalam pembentukan kabinet, menurut Jokowi ada 3 hal yang menjadi latar belakang mengapa perlu dilakukan kajian desain kabinet pemerintah tahun 2019-2024 yaitu perlunya lembaga yang lincah, aparatur yang mampu melayani rakyat dan mampu memenangkan persaingan global, serta ketiga harus berubahnya pola pikir lama (Harus diubahnya kerja yang linier, kerja rutinitas, kerja monoton, dan kerja di zona yang nyaman)

Melihat hal itu LAN yang merupakan Lembaga Administrasi Negara sudah menyampaikan pandangannya terkait penyusun kabinet yang difokuskan kepada ke 3 kriteria utama tersebut kepada Jokowi.

“LAN Sebagai lembaga yang salah satu tugas fungsinya adalah melakukan kajian di bidang administrasi negara berkontribusi menyampaikan pandangan dalam hal penyusunan kabinet yang difokuskan pada kriteria-kriteria utama. Diharapkan kriteria-kriteria itu bisa digunakan oleh pak Presiden Jokowi,” harap Deputi Bidang Kajian dan Inovasi Lembaga Administrasi Negara (LAN) Tri Widodo dalam diskusi media kajian isu aktual “Desain Kabinet Agile” Tahun 2019-2024 yang digagas Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Jakarta, Kamis (8/8).

Lebih lanjut Tri mengatakan dalam merumuskan kriteria, LAN melakukan kajian dan analisis terhadap kondisi empiris yang kemudian diklaster menjadi beberapa catatan terhadap kondisi kabinet menteri saat ini.

“Dari sisi nomenklatur kabinet, inefisiensi, tupoksi tumpang tindih, kinerja kementerian yang belum optimal serta pembengkakan struktur. Karena catatan-catatan tersebut merupakan bagian dari tantangan birokrasi Indonesia saat ini yaitu ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi stagnan, defisit transaksi berjalan, revolusi industri, ekonomi digital, middle income trap, dan bonus demografi,” lanjutnya.

Perumusan kriteria utama yang dilakukan oleh LAN adalah hasil kajian dan diskusi dengan para praktisi/pakar/ akademisi yang kemudian dianalisis dan diberi istilah Kabinet Agile (Agile Ministries). Agile sendiri merupakan kata sifat yang memiliki makna lincah, gesit, mudah beradaptasi.

“Kabinet Agile adalah Kabinet Presidensial yang sifatnya fleksibel dan adaptif terhadap tuntutan perkembangan zaman dengan 6 kriteria utama yakni ideologi, strategi, struktur, proses, teknologi, dan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan bangsa dan negara. Dan Kabinet Agile dibutuhkan karena ke depan kita punya tantangan yang luar biasa. Pertumbuhan ekonomi global, koreksi target pertumbuhan Bank Dunia, defisit transaksi berjalan yang kita alami, revolusi industri, ekonomi digital, hingga bonus demografi dan lain-lain. Dari arti tersebut maka diharapkan para pembantu presiden yaitu menteri-menteri yang masuk dalam kabinet haruslah memiliki sifat yang demikian,” tandasnya.  (Santi)