Kemenristekdikti Adakan Rakor Guna Bahas Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Dr. Djumain Appe membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh yang dihadiri oleh Bupati Aceh Jaya Teuku Irfan TB, Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala Dr. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng, Kabid Litbang Bappeda Aceh, Dr. Ema, perwakilan PT. Haldin Pasifik Semesta, PT. General Aromatik, Koperasi Industri Nilam Aceh (KINA) dan sejumlah pejabat pada Direktorat penguatan Inovasi Kemenristekdikti.
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Dr. Djumain Appe membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh yang dihadiri oleh Bupati Aceh Jaya Teuku Irfan TB, Bupati Minahasa Selatan, dll.

JAKARTA, theindonesiatimes – Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Dr. Djumain Appe membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh yang dihadiri oleh Bupati Aceh Jaya Teuku Irfan TB, Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala Dr. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng, Kabid Litbang Bappeda Aceh, Dr. Ema, perwakilan PT. Haldin Pasifik Semesta, PT. General Aromatik, Koperasi Industri Nilam Aceh (KINA) dan sejumlah pejabat pada Direktorat penguatan Inovasi Kemenristekdikti.

Dalam arahannya Dr. Jumain Appe menyampaikan bahwa Klaster Inovasi (Klasinov) Nilam Aceh  yang di inisiasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti pada tahun 2017 memang dibuat untuk mendorong peningkatan ekonomi sebuah kawasan. Klaster inovasi akan mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan kerjasama dalam berbagai aspek industri dan kewilayahan.

“Klaster inovasi nilam Aceh merupakan sebuah model pendekatan untuk peningkatan ekonomi rakyat. Mendorong kolaborasi dan sinergi pelaku inovasi khususnya untuk industri nilam di Aceh. Kita mendukung perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk bersinergi membangun kembali kejayaan nilam Aceh. Perguruan Tinggi dapat berperan sebagai pusat keunggulan (center of excellent) dalam menghasilkan teknologi yang diperlukan oleh masyarakat,” kata Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Dr. Djumain Appe di Jakarta.

Pada klasinov Nilam, selain  sudah menghasilkan Masterplan Pengembangan Nilam Aceh untuk 5 tahun mendatang, beberapa kesepakatan antar pemangku kepentingan (stakeholders) juga telah dihasilkan. Pendekatan Quadrople Helix dari unsur perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan komunitas masyarakat telah diterapkan untuk menghasilkan sinergi bagi pengembangan Klasinov Nilam Aceh.  Dalam Klasinov Nilam Aceh, Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah merupakan unsur dari perguruan tinggi. Sedangkan Bappeda Aceh merupakan unsur dari Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dan Bank Indonesia merupakan unsur dari pemerintahan. Sedangkan PT. Haldin Pasifik Sementa, PT. General Aromatik dan Koperasi Industri Nilam Aceh (KINA) merupakan dari unsur dunia usaha serta Forum Nilam Aceh dan Dewan Atsiri Aceh mewakili komunitas masyarakat.

Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Dr. Syaifullah Muhammad melaporkan sejauh ini telah banyak program awal yang telah dilaksanakan terkait Klasinov Nilam Aceh. Misalnya, Pemkab Aceh Jaya telah menetapkan 2 Ha lahan di Desa Seuneubok Padang kecamatan Teunom Aceh Jaya melalui SK Bupati sebagai pusat Klasinov Nilam Aceh. Saat ini Dinas Perindustrian Aceh sedang menyusun Masterplan, DED (Detail Engingeering Design) dan dokumen studi lingkungan melalui anggaran 2018. Dan selanjutnya Bappeda Aceh juga telah menghasilkan dokumen Rencana Aksi Sistem Inovasi Daerah (SIDA) Industri Nilam dan Roadmap Atsiri Aceh 2017-2027. ARC Unsyiah dengan dukungan Direktorat Penguatan Inovasi Kemenristekdikti juga telah membantu pengembangan Ketel Inovasi penyulingan Nilam, pengembangan produk turunan dan pembuatan Demplot (lahan percontohan) untuk Nilam di Aceh Jaya.

“Berbagai program kalster inovasi nilam dari hulu ke hilir untuk mengangkat perekonomian rakyat harus terus ditingkatkan. Semua pihak harus bekerja sama dan berkontribusi, karena nilam merupakan produk ekspor strategis untuk Indonesia,“ lapor Syaifullah.

Sementara itu sebelumnya Rakor yang dilaksanakan di Calang Aceh Jaya tanggal 7 September 2018 lalu yang dikuti oleh Kemenristekdikti, Bupati Aceh Jaya, Bank Indonesia perwakilan Aceh, Bappeda Aceh, ARC Unsyiah, PT. Haldin, KINA, Dewan Atsiri Aceh, Institut Atsiri Brawijaya serta perwakilan masyarakat telah menyepakati pentingnya komitmen bersama untuk pengembangan Klasinov Nilam Aceh.

Dalam rapat tersebut Kasubdid Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristekdikdi, Kamsol, mengatakan pentingnya pembentukan konsorsium pengelolaan Klasinov Inovasi Nilam.

“Konsorsium pengeloaan Klaster Inovasi Nilam dari unsur ABG-C yang profesional akan sangat menentukan keberhasilan program ini. Kemenristekdikti akan mendukung penuh melalui berbagai kebijakan dan insentif,” kata Kamsol.

Disisi lain sebagai Bupati Aceh Jaya Teuku Irfan TB berharap agar petani dapat dibantu melalui teknologi penanaman, penyulingan dan kepastian pasar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas minyak nilam rakyat.

“Penyakit pada tanaman nilam dan teknik penyulingan dengan kualitas rendah merupakan hambatan serius bagi masyarakat. Selain itu masyarakat juga perlu kepastian dan kestabilan harga,” harap Teuku.

Dan hal senada juga disampaikan oleh Zainal Arifin, Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Aceh.

“BI konsen untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Nilam Aceh memiliki sejarah yang panjang sebagai komoditi ekspor yang sangat potensial. BI akan berkontribusi pada lini hulu hilir klaster inovasi Nilam Aceh,” ujarnya.

Sinergi ABG-C mutlak diperlukan dalam pengembangan Klaster Inovasi. Sebagaimana diketahui, Klaster Inovasi menuntut adanya sinergi berbagai pihak yang memungkinkan terjadinya aktivitas inovasi dengan mendorong interaksi secara intensif, sharing fasilitas dan pertukaran pengetahuan dan berkotribusi secara efektif dalam proses alih teknologi, jejaring dan penyebaran informasi.  (Danur Santi)