LPAI Tolak Penayangan Iklan Rokok Demi Generasi Emas Indonesia

IMG_20190322_153518

JAKARTA, theindonesiatimes – Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi meminta iklan rokok, promosi dan sponsor rokok disetop. Baik iklan konvensional ataupun melalui media online. Hal itu kata dia untuk mencegah semakin banyaknya anak yang merokok. Belum lama ini, pihaknya kata dia, juga mencatat ada audisi salah satu perusahaan rokok pakai baju sponsor. Itu iklan juga

“Sekarang ini sudah banyak anak-anak yang merokok. Belajar dari negara lain, di Asian sudah konsisten melindungi anak-anak dari rokok. Di sini, masih SMP saja banyak yang merokok. Bahkan ada anak dibawah 5 tahun  ada yang merokok,” ujar  Seto Mulyadi, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Pria yang akrab disapa Kak Seto itu menambahkan, saat ini juga marak adanya rokok elektrik. Atau yang dikenal dengan vape. Generasi milenial makin banyak yang mengkonsumsi rokok elektrik tersebut.

“Dengan adanya rokok elektrik, kami selalu konsisten, melakukan perlindungan anak. Perlindungan anak bukan hanya oleh LPAI saja. Namun juga semuanya. Semua stakeholder, pemerintah, ormas, LSM dan sebagainya. Melindungi anak itu harus sekampung,” tegas Kak Seto.

Pihaknya juga mengimbau orang dewasa,  kalau mengetahui ada anak merokok untuk ditegur. Dan melarang merokok. “Kalau melihat dan membiarkan anak merokok, sesuai aturan bisa kena sanksi,” pungkasnya.

Sementara itu, Seketaris Koalisi Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau, Elfansuri mengatakan jumlah anak yang merokok di Indonesia cukup banyak.

“Tahun 2018 lalu data berdasarkan dari Reskesdas, prevelensi anak merokok umur 10 sampai 18 tahun, dari tahun ketahun semakin meningkat. Dari data RKD tahun 2013, sebanyak 7,3 persen anak merokok. Pada 2016 (sirkernas) sebesar 8,8 persen. Dan pada 2018 lalu, ada sekitar 9,1 persen, berdasar data RKD tahun 2018. Jadi hal ini harus jadi perhatian bersama,” ujarnya.

Menurut Elfansuri, perlu ada pengendalian rokok yang kuat. Termasuk juga pelarangan iklan rokok.

“Iklan rokok di internet belum di atur. Saat ini juga banyak rokok elektrik, yang banyak di konsumsi usia milenial,” ujarnya.

Menurut Elfansuri Indonesia belum punya regulasi soal rokok elektrik. Padahal kebijakan WHO sudah ada. Seperti membatasi iklan produksi rokok elektrik, agar tidak menyasar milinial dan melarang penggunaan rokok elektrik di ruang publik. “Saat ini sudah 98 negara, yang sudah punya aturan soal rokok elektrik.

Kalau rokok elektrik tidak diatur akan semakin liar. Harus ada pembatasan, atau pengendalian. Atau harus diperlakukan sama seperti rokok tradisional,” pungkasnya. (Jay)