Rakyat Maluku Desak Pemerintah Jadikan Hari Kebangkitan Nusantara

IMG-20180810-WA0114
Foto bersama Nayjen (Putn) Katrl Albert Ralahalu dan Ketum DPP-KKBMM jamalludin Kordoeboen, SH, MH bersama jajaran KKBMM (foto: Jay)

JAKARTA, theindonesiatimes – Sejumlah warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (KKBMM) mengusulkan, pada pemerintah untuk menjadikan tanggal 15 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nusantara dalam kalender nasional.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat KKBMM, Djamalluddin Koetoebun SH mengatakan, penetapan tanggal 15 Mei adalah karena pada tanggal itu di tahun 1817 Kapitan Pattimura bersama kawan-kawannya merencanakan dan melakukan penyerangan heroik terhadap pemerintah Kolonial Belanda di Benteng Duurstede di Saparua, maka pantaslah tanggal 15 Mei diperingati sebagai hari perjuangan yang menandai awal kebangkitan perjuangan melawan pemerintah Hindia Belanda, dan agar tanggal 15 Mei dijadikan hari kramat.

“Kami sangat yakin bahwa pemerintah akan menyetujuinya. Oleh karena ini semua berangkat dari niat yang tulus dan juga telah mendorong respon 200 negara di dunia pada 15 Mei sebagai hari kebangkitan nasional,” ujar Djamalludin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (10/8/2018) kemarin.

Menurut dia, ini semua proteksi negara luar pada Indonesa, makanya dengan kesungguhan hati ini bentuk komitmen masyarakat Maluku dan dunia agar pemerintah bisa merespon dengan baik. Oleh karena itu, masyarakat Maluku cukup yakin pemerintah akan menyetujui, apalagi ini momentum politik.

Kemudian kata Djamalludin, bahwa Maluku memang hanya sedikit populasinya yang kurang lebih sekian juta jiwa tetapi jangan dilihat kecilnya, namun dengan semangat patriotisme yang telah diturunkan Pahlawan Nasional, Pattimura dan Martina Tiahaho, pihaknya berharap ada keinginan itikad baik dari pemerintah agar menjadi perhatian serius.

“Saya rasa tidak ada alasan untuk menolak penetapan 15 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nusantara dalam kalender nasional. Tinggal niat dari pemerintah, kita akan datang dengan baik-baik, nanti kita lihat perkembangan selanjutnya,” ungkap Djamalludin.

Disamping itu, lanjut Djamalludin, KKBMM juga akan mengusulkan kepada Yang Mulia Majelis Latupati untuk berkenan memberi Gelar Adat Kehormatan Kapitan Maluku kepada bapak Mayjen TNI (Purn.) Karel Albert Ralahalu.

Adapun usulan pemberian Gelar Adat Kehormatan selaku Kapitan Maluku tersebut terutama berkenaan dengan perjuangan bapak Mayjen TNI (Purn) Karel Albert Ralahalu baik pada saat menjabat sebagai Gubernur Maluku, maupun dalam perjalanan karier sebelumnya selaku Komandan Korem l74/Pattimura dan sebagai Kasdam XVII/Trikora.

Jadi Karena Albert Ramah Ulu menunjukan perjuangan terhadap upaya perdamaian di wilayah Provinsi Maluku terutama pada saat terjadinya tragedi tahun 1999 di wilayah Maluku, maupun pada saat menjabat selaku Gubernur Maluku yang telah memperjuangakan pembangunan Provinsi Maluku dan menciptakan perdamaian dunia, sehingga Provinsi Maluku dijadikan percontohan yang ditandai oleh penempatan Gong Perdamaian Dunia di Kota Ambon.

“Kami nilai pak Karel Albert telah memenuhi persyaratan dan layak mengemban amanah selaku tokoh pemersatu masyarakat Maluku,” jelas Djamalludin.

Deklarasi Durres

Sementara itu, adanya Deklarasi Durres Albania Eropa pada 29 Juli 2018 yang lalu melahirkan kesepakatan untuk pemerintah lndonesia agar menjadikan 15 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nusantara.

Para tokoh dunia dan Eropa berkumpul di Kota Durres guna membicarakan Pahlawan Nasional Indonesia Pattimura asal Provinsi Maluku itu.

Dalam pertemuan yang melahirkan Deklarasi Durres, ditandatangani sejumlah tokoh dunia diantaranya Presiden Dunia HE Mr Djuyoto Suntani mewakili masyarakat internasional 202 negara, mantan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu mewakili masyarakat Maluku, Mr Maripaus mewakili masyarakat Nusantara, Mr Rabit Sadiku mewakili masyarakat Eropa Timur dan Mr Franco Cetinich mewakili masyarakat Eropa Barat.

Tokoh asal Maluku yang pernah menjabat Gubernur Maluku dua periode, Karel Albert Ralahalu mengatakan, dirinya bersama para tokoh dunia dan Eropa di Kota Durres Albania pada 29 Juli 2018 yang lalu telah mendeklarasikan dan menetapkan tanggal 15 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nusantara.

Ralahalu beralasan, 15 Mei dijadikan hari keramat bagi masyarakat lokal Maluku baik yang ada di Indonesia maupun di dunia sebagai bentuk peringatan terhadap perjuangan Pahlawan Nasional Pattimura.

“Pahlawan yang Iain tidak pernah di rayakan oleh masyarakat lokal Indonesia. Tapi masyarakat Maluku menghargai pahlawannya dan terus merayakan Hari Pattimura dengan upacara dan adat yang dilakukan di mana masyarakat Maluku berada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagai bangsa yang besar walaupun Pattimura dianugerahi pahlawan besar, namun bangsa ini belum menghargai jasa Pattimura,” tutur Ralahalu.

Menurutnya, tanggal 15 Mei dipilih para tokoh dunia dikarenakan kala itu tanggal 15 Mei 1817, merupakan awal pergerakan kebangkitan nusantara yang dipimpin Thomas Matulessy alias Pattimura di Maluku melawan kolonial Belanda.

“Setelah perlawanan Pattimura di Maluku, baru muncul perang Diponegoro 1825-1830, dan lain-Iain,” jelas Ralahalu.

“Dikatakan, Kota Durres yang jauh di Eropa, dijadikan tempat deklarasi merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. “Mudah-mudahan tanggal 15 Mei 2019 yang akan datang ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nusantara dan dirayakan besar-besaran di seluruh dunia,” harap Ralahulu.

Warga keturunan Maluku bakal merayakan besar-besaran Hari Kebangkitan Nusantara. Hari Kebangkitan Nusantara mewarnai peradaban dunia sepanjang masa. Selama ini, setiap Hari Pattimura 15 Mei, dirayakan oleh masyarakat Maluku seluruh nusantara.

Maka nantinya pada 15 Mei 2019 yang akan datang, sesuai Deklarasi Durres akan dideklarasikan di Jakarta dan diusulkan kepada Pemerintah Indonesia oleh masyarakat Maluku dan dunia untuk ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nusantara dan akan dirayakan secara nasional.

“Artinya cikal bakal perang Pattimura yang melahirkan bangsa ini. Dari Pattimura juga kita kenal keadilan, kebenaran dan perdamaian,” beber Ralahalu.

la menegaskan, Pattimura adalah pahlawan yang menggelorakan perlawanan terhadap penjajah di tanah air. Melihat kondisi ini seharusnya pattimura-pattimura muda menghargai jasa-jasa para pahlawan kita. Diusia yang ke 202 tahun, sudah waktunya untuk memperjuangkan hari kebangkitan nusantara.

Nanti kedepan bangsa Indonesia merayakan hari ini sebagai hari kebangkitan nusantara secara nasional. Dengan itu maka di Albania bertemu dengan para tokohtokoh dunia disana. Bahkan dunia mendukung malah mempertanyakan kenapa Indonesia tidak mendukung Hari Pattimura sebagai hari pergerakan nusantara.

“Untuk itulah mari kita bersama-sama seluruh tokoh pemuda dan seluruh masyarakat dimana saja berada. Ditahun 2019 akan datang kita coba deklarasikan sebagai hari nusantara dan kita membutuhkan pemerintah harus mendukung hari nusantara selayaknya hari-hari besar lainnya seperti hari sumpah pemuda. Mengingat heroisme Pattimura dan para pejuang untuk menuntut keadilan, kemerdekaan dan juga untuk menuntut kemanusiaan. Kita berharap 2019 dalam Hari Pattimura pemda semua tokoh masyarakat dan adat, para latupatti bersatu untuk deklarasi menjadi hari pergerakan kebangkitan nusantara yang dirayakan oleh Indonesia,” tutupnya. (Jay)