Tantangan Era Ekonomi Digital Indonesia Darurat Tenaga Terampil

Permintaan-Pasar-Terhadap-Programmer-Terus-Meningkat-_516161

JAKARTA, theindonesiatimes – Memasuki era digital, Indonesia akan mendapatkan tantangan memiliki sumber daya manusia yang terampil dengan kompetensi menengah-tinggi. Pada 2045 diprediksi kebutuhan terhadap pekerja terampil tersebut meningkat hingga 90 persen.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebutkan pada 2015 kebutuhan pekerja terampil itu menyentuh di level 38 persen. Pada saat itu, juga diperkirakan pekerjaan sektor jasa akan semakin meningkat.

Dampaknya, lapangan pekerjaan untuk pekerja dengan keterampilan di level umum akan semakin tergerus.

“Realitas di Indonesia, para pemberi kerja kesulitan menemukan pekerja dengan keterampilan yang tepat,” ucap Bambang dalam acara Quo Vadis: Ekonomi Digital Indonesia, di Jakarta pada Rabu (21/2/2018).

Kecenderungannya, para pemberi kerja pada akhirnya tidak melakukan hire dan memilih menggunakan tenaga automasi (digitalisasi).

Sementara itu, penetrasi penggunaan internet Indonesia diperhitungkan akan sebesar 145 juta pada 2020. Kondisi itu, menurut Bambang, merupakan bonus demografi Indonesia yang bisa menjadi modal untuk menghadapi era ekonomi digital.

Namun jika komptensi SDM Indonesia tidak ditingkatkan, Bambang memaparkan, bonus demografi Indonesia pada 2020 akan percuma karena akan dimanfaatkan oleh asing sebagai pasar dagang.

“Kalau buat orang luar, 145 juta itu langsung dianggap market. Bisa enggak kita juga aktif menjadi player[ekonomi digital]?” lontarnya.

Karenanya, Bambang menjelaskan, penting bagi pemerintah mengambil langkah kebijakan untuk menggalakkan program vokasi, khususnya kepada para murid SMK. Program vokasi tersebut akan mengantarkan para murid mendapatan sertifikat keterampilan yang telah teruji.

Nantinya dengan tantangan era ekonomi digital, tekanan dunia pendidikan terkait nilai berharga ijazah sekolah formal dapat dikesampingkan dengan keberadaan sertifikat keterampilan.

“Misalnya sebagai koki, di era digital yang utama dipertimbangkan sertifikat skill. Pihak yang mau memperkerjakan jadi merasa mendapatkan kepastian. Kalau IPK sekian itu, banyak yang mendapatkan pasti. Tapi belum jelas setelah lulus bisanya mau apa,” ujarnya.

Ada beberapa pekerjaan yang masih dibutuhkan tenaga manusia dengan adanya era digitalisasi ini, yaitu terkait konstruksi, pendidikan, pelayanan kesehatan, manajer, profesional (seperti, ahli matematika aktuarisi, statistik, dan ahli teknik), serta teknologi informasi, dan pekerja kreatif.

Dia menyebutkan berdasarkan kajian McKinsey pada 2016, ada 52,6 juta pekerjaan di Indonesia yang berpotensi tergantikan dengan sistem digitalisasi dalam lima tahun ke depan. McKinsey juga memperhitungkan adanya 60 persen jabatan pekerjaan di dunia akan menggunakan sistem digitalisasi, dan 30 persen jabatan pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin-mesin canggih.

Bambang menyebutkan profesi di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, perburuan, akan hilang 49 persen; profesi di sektor pengolahan/manufaktur akan hilang sebanyak 65 persen; di bidang perdagangan retail sebanyak 53 persen.

Sementara itu, pekerjaan di bidang konstruksi akan hilang 45 persen; serta di sektor transportasi dan pergudangan, profesi yang hilang sebanyak 64 persen.