Wajah Aqidah tentang ‘Corona’

Apa yang nampak dari tragedi ‘corona’? Terlihatlah aqidah yang dominasi dunia kini. Tentang wabah rasionalitas. Ini tragedy bagi manusia modern. Nietszche, memberi gambaran tentang ‘tragedy.’ Tentang akhir dari metafisika. Immanuel Kant mempopulerkannya. Kantian jamak pengikutnya. Mahzab Kant, kini mendominasi dunia. Melihat segala sesuatunya, dari sudut rasionalitas dan empirisme semata. Dimulai lebih oleh cogito ergo sum-nya Descartes. Rasionalitas menjadi punggawa. Untuk menggapai ‘ada’, dengan akal semata. Nalar, logika. Yunani menyebutnya ‘logike.’ Tentu ini warisan Socrates, Plato, Aristoteles. Yang lebih dulu mengenalkan ‘metafisika.’ Yang kini menjadi mahzab berpikir dunia. Seantero dunia terpatri virusnya. Ini kelanjutan wabah dari rennaisance di Eropa. Ketika mereka mulai ‘berpikir kembali.’ Melawan dogma Gereja Roma. Yang seolah bak ‘jabariyya’. Karena pemegang Kebenaran tunggal, tanpa boleh dibantah. Jika tak mau dicap dan dituduh bid’ah. Rennaisance menjadi titik kunci. Mereka mengutipnya dari mu’tazilah. Masa Islam dilanda wabah rasionalitas. Ketika Socrates, Plato, Aristoteles ‘di-Islam-kan.’ Ketika, kaum barat menyebutnya sebagai masa kejayaan Islam. Masa saintis Islam. Tentu, bersama filsafat pastilah bersama sains. Karena sains anak kandungnya. Begitu juga metafisika. Tapi Imam Asy’ary, Imam Mathuridi mencegat bahaya virus ‘rasionalitas’ itu. Imam Ghazali menyerangnya. Shaykh Abdalqadir al Jilani, membawa kembali muslimin pada pengajaran sesungguhnya. Pada tassawuf, madrasah untuk memahami Kebenaran.

Tapi rasionalitas dibawa Aquinas. Dari Cordoba menyeberang ke Italia. Menggema rennaisance. Rasionalitas hidup kembali. Socrates, Plato, Aristoteles, di-Kristen-kan. Setelah sebelumnya di’Islamkan’ oleh mu’tazilah. Tapi dengan bahasa yang berbeda. Tentang wujud, berubah menjadi ‘being’. Wujud dan maujud berubah kata. Tapi sama makna.

Dari semula untuk melawan ‘jabbariyya’-nya Gereja Roma, rasionalitas makin liar tak terkendali. Tak lagi sekedar jadi mu’tazilah Eropa. Melainkan berubah menjadi ‘filosof dahriyyun’. Karena Imam Ghazali punya rumusnya. Ada tiga kategori filosof, ‘illahiyyun (ketuhanan), tabbiiyyun (naturalisme) dan dahriyyun (ateisme). Nah, modernitas masuk ke dominasi filosof ateisme. Berawal dari materialisnme. Yang meninggalkan rasionalitas idealisme. Dititik inilah kita bisa memulai. Tentang bagaimana mahzab berpikir dunia kini. Tentu efeknya, mengacu pada bagaimana perilaku dunia kini. Wabah ‘corona’ bisa memberi penampakan.

Filsafat, mematok tentang kekuatan lahiriah semata. Tentang mencari power manusia, dari sudut jasad. Batin, dalam kacamata filosof, hanya sebatas akal. Rasionalitas semata. Ibnu Sina menafsirkan, ‘kenali dirimu, maka akan mengenal Allah.’ Maknanya, mengenali tentang jasad dan susunan anatomi tubuh. Maka akan mengenal Allah. Memang tak salah. Disitu juga akan membawa pada kebesaran Allah. Tapi ini berlaku kala filosof illahiyyun berkuasa. Kini, adagium itu seolah tiada. Makanya Imam Ghazali mewanti. Makna mengenali diri, bukan bermaksud merasionaliasisasi tentang pemahaman jasad. Bukan sebatas memahami anatomi tubuh. Bukan itu maksudnya. Melainkan, memahami hakekat kemunculan diri kita di dunia. Itu yang akan membawa pada Allah. Ilmu hakekat.

Kini, kekhawatiran Abu Hamid al Ghazali terbukti. Filsafat itu berbahaya. Apalagi jika digunakan untuk mengambil Kebenaran agama. Itu berbahaya. Karena kini, modernitas ini, keahlian anatomi tubuh, digunakan untuk komersialisasi. Untuk pemenuhan hasrat nafsu duniawi. Bukan lagi membawa pada illahiyyun (ketuhanan). Virus maka, akan diproduksi antivirus. Tapi antivirus itu, tentu harus berbayar. Untuk kejayaan dunia. Para pekerja medis, laboratorium, jika merujuk Kant, maka dikategorikan independent thinker, jamak mengabdi pada komersialitas. Bukan lagi membawa kepada Tuhan. Ini yang disebut Nietszche dengan nihilisme. Hilangnya nilai.

Karena manusia modern terbius paham, virus hanya bisa diselesaikan dengan antivirus. Dan itu menunggu hasil kerja pekerja laboratorius, entah di dunia mana. China mungkin yang punya. Dan negara-negara harus membayarnya. Ini sebuah mekanisme profesionalitas. Sebuah hasil dari produk komersialisme. Tentu saja. Dan, kaum bankir akan terus berjaya. Dengan virus, mereka bisa mengeruk untung, di baliknya. Sementara manusia modern dicekoki ketakutan, dengan mesin ‘state’ dan mass media.

Karena rasionalitas menjebak manusia, berpikir secara akal, bahwa virus itu ‘perbuatan manusia’. Bukan bagian dari mekanika kuantum-nya Tuhan. Karena rasionalitas telah membuat pemisahan manusia dan Tuhan. Seolah Tuhan tak lagi mengurus kehidupan dunia. Walau mereka tetap berpendapat, Tuhan yang mencipta kehidupan dunia. Tapi Tuhan, kemudian hanya bak pembuat jam. Ketika jam selesai dibuat, maka jam akan berjalan dengan sendirinya. Maka, manusia yang harus mengendalikan dunia. Itulah mengapa Tuhan memberikan manusia akal. Plato menyebutnya ‘ide bawaan.’ Dari sanalah lahirlah ‘idea.’

Manusia menjadi sandaran utama. Dititik rasio-nya.  Aristoteles menyebut manusia sebagai ‘zoon logicon echon.’ Binatang rasional. Alhasil segala sesuatu, bisa diterima, jika masuk akal manusia. Karena manusia yang menjadi parameter. Manusia menjadi objek yang mengamati. Bukan objek yang diamati.

Inilah kunci dasar merebaknya cogito ergo sum. Sebelumnya Francis Bacon menyebut dengan ‘Aku Ada maka aku Berpikir.’ Kemudian dibalik oleh Descartes. Segala hal, wajib melewati arus nalar manusia semata. Termasuk tentang Tuhan dan manusia. Semula, di rennaisance, filsafat digunakan untuk menteorikan lagi tentang kosmosentris. Tentang tatasurya, bintang, bulan dan lainnya. Kita tahu tentang Copernicus dan Galileo yang menampik kebenaran Gereja.  Tapi kemudian mewabah. Menteorikan segala hal. Termasuk tentang Tuhan dan manusia. Disinilah filsafat jadi acuan dasar. Descartes menyebut, filsafat itu sebagai segala sesuatunya harus melewati penyelidikan nalar manusia. Termasuk tentang manusia dan Tuhan. Jadi apa itu ‘manusia’ dan apa ‘Tuhan’, harus berlandaskan nalar manusia. Alhasil mencuat tesis bahwa segala perbuatan di dunia, adalah perbuatan manusia. Bukan ‘perbuatan Tuhan’. Karena Tuhan dianggap tak hadir dalam kehidupan manusia. Qudrah dan Iradah dianggap berada di kendali manusia. Bukan Tuhan. Inilah silsilah, mengapa kini dunia berpikir serentak. Mengacu pada saintisme semata. Kejadian ‘corona’ ini jadi parameternya. Buah dari modernitas ini, melahirkan konstitusi, sebagai hukum ala manusia. Bukan lagi hukum Tuhan. Dari sisi kekuasaan, bukan lagi ‘wakil Tuhan’. Melainkan ‘wakil dari peopple power.’ Nah, sistem dan nama yang pas untuk ini, disebut demokrasi. Dan yang ironis, melahirkan pola banking sistem. Uang atau alat tukar, merujuk pada rasionalitas manusia. Klimaknya, melahirkan uang kertas dan uang ala bank. Yang telah dilegitimasi oleh rasionalitas ala positivisme.

Ini yang ditampik Martin Heidegger. Filosof Jerman itu, menampik filsafat. Dia seolah paham yang dikata Imam Ghazali. Heidegger berkata, “Filsafat tak bisa dijadikan ajang untuk menentukan Kebenaran.” Heidegger, dalam Being and Time, filsafat merupakan cara berpikir sejak awal. Itu yang disebutnya ‘keadaan lupa akan Ada’ (forgetfullness of Being).  Heidegger tegas menampik, ‘kebenaran’ yang dibawa oleh hasil filsafat, bukanlah Kebenaran. Ini memang agak membingungkan. Tapi lihatlah manusia modern. Mencari Kebenaran, seolah dengan jalan nalar semata. Inilah jalan filsafat. Mahzab nalar. Hingga dari peristiwa ‘corona’, kita hanya disuguhi tentang itu semua merupakan hasil perbuatan manusia. Dan antivirus yang ditawarkan, menunggu hasil kreasi laboratorium manusia. Solusi mencegah virus itu pun, hanya merujuk pada batasan lahiriah semata. Hand sanitizer, sampak lock down, yang semua sebatas rasionalitas. Sementara unsur Ketuhanan, seolah dilupakan. Ini klimaks dari filsafat materialisme. Dan Nietszche menyebutnya: “Filsafat itulah berhala!” Dan memang telah menjadi berhala. Seolah rasionalitas itu menjadi ‘Tuhan’ baru bagi manusia modern.

Dari rasionalitas inilah, melahirkan seolah Tuhan hanya menghendaki perbuatan baik. Sementara perbuatan buruk, datang dari selain Tuhan. Kaum mazusi, percaya perbuatan buruk datang dari api. Hingga mereka menyembah api, untuk menolak bala bencana. Dan sekelompok orang dulu, menyembah laut atau pohon kayu, untuk menolak bala. Karena dianggap di sana sumber perbuatan buruk datang. Seolah bukan dari Tuhan.

Dalam Al Quran, Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Surat Az Zumar: 38:

“Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah: “Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakankah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang tawakal berserah diri.”

Inilah ayat penting. Jawaban atas jebakan rasionalisme. Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, “Apa yang Allah beritahu kita melalui ayat ini adalah kaum kuffar belum tentu ateis, tapi faktanya mereka ‘memberi batasan tentang’ Allah. Kaum kuffar berpikir mereka hidup dalam sebuah realitas –yang telah tercipta—di diatas realitas yang telah tercipta ini, mereka boleh bertindak bebas dan bertindak sesuka hati mereka. Tentu itu bukan kebenarannya.”

Dari situ, kata Shaykh Abdalqadir as sufi lagi, menunjukkan bahwa tidak satu pun yang berada dalam penciptaan Allah, yang bukan proses dari ‘perbuatan Allah’. “Bukan saja manusia, binatang-binatang, dan organisme bernyawa lainnya, gunung-gunung dan lainnya, merupakan –yang oleh Shaykh Ibn al Arabi disebut sebagai ‘pondasi gipsum atas penciptaan-Nya’—semua itu berada dalam pergerakan,” terang Shaykh Abdalqadir as sufi.

Jadi, atom sekecil apapun, dan virus berbentuk apapun, tentu berada dalam domain Iradah dan Qudrah-nya Allah Subhanahuwataala. Inilah pondasi berpikir, yang merujuk naqli. Bukan aqli semata. “Hal yang baik, itu datang Allah dan ketika didatangkan oleh Allah suatu masalah (buruk), itu juga dari Allah, yang manusia tidak bisa mengatur membuatnya terjadi,” Shaykh Abdalqadir as sufi lagi.

Tapi letak kebijaksanaannya diberikan: “Katakanlah, ‘cukuplah Allah bagiku.’” Ini pesannya. Tentang batasan kaum beriman dan kaum kafirun. Kaum ber-Tauhid dan yang kuffur. Karena hal baik dan buruk, semuanya datang dari Allah. Tentu yang menghapus musibah, juga sekehendak Allah. Walau ikhtiarnya tetap dilakukan. Karena itulah aqidah ahlu sunnah wal jamaah.

Ibnu Khaldun mengatakan, Islam mengedepankan jalan naqli dan aqli. Bukan semata aqli saja. Rasionalitas tentu merujuk pada aqli semata. Akal, dan cenderung mengesampingkan naqli. Imam Ghazali memberi gambaran juga. “Akal cenderung bisa salah.” Inilah yang kembali diingatkan Heidegger, Nietszche, Junger di jaman kini. Dan ulama dari barat, Shaykh Abdalqadir as sufi, memberi panduan kembali “mendudukkan” akal dan membawa umat kembali pada tassawuf.

Karena memang manusia modern, jika dikata bahwa dalam air hujan, terkandung obat yang berguna buat tubuh manusia, tak akan langsung percaya. Tapi jika telah melewati uji empirisme, melalui pemeriksaan laboratorium, barulah percaya. Inilah pemikiran empirisme rasionalitas ala Kant, yang kini mewabah. Inilah wabah yang justru menakutkan. Karena berujung jamak manusia menjadi takut pada bayangan sendiri.

Irawan Santoso Shiddiq