banner 728x250

BRIN Menunda Migrasi Koleksi Arkeologi Barus

Jakarta, The Indonesia Times – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko bersedia untuk menunda migrasi koleksi arkeologi dari Laboratorium Arkeologi Barus di Jalan KH Zainul Arifin, Barus, Tapanuli Tengah (Sumatera Utara) ke Gedung Koleksi BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno di Cibinong, Bogor (Jawa Barat). 

“Saya tidak memaksakan harus sekarang. Kami butuh waktu. Nggak apa-apa. Nggak usah terburu-buru,” Laksana menegaskannya seusai mendengarkan penjelasan dan keterangan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Keluarga Besar Masyarakat (Gabema) Tapanuli Tengah – Sibolga, Masriadi Pasaribu; Prof Dr H Rusmin Tumanggor MA selaku tokoh asal Barus yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, dan Prof Dr Muhammad Yunan Yusuf Tandjung MA selaku tokoh asal Sorkam yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah.

Perwakilan Keluarga Besar Masyarakat Tapanuli Tengah – Sibolga melakukan audiensi dengan Kepala BRIN di Ruang Inovasi Gedung BJ Habibie lantai 24 Jl MH Thamrin No 8 Jakarta Pusat, Senin (24 Juni 2024) siang.

Selain Masriadi, Rusmin, dan Yunan, perwakilan lainnya ialah Ikhwan Mansyur Situmeang (Analis Kebijakan Sekretariat Jenderal DPD RI/Sekretariat Ketua DPD RI, pengurus DPP Gabema Tapanuli Tengah – Sibolga), Sulaiman [Kepala Bagian Hubungan Masyarakat STAIB (Sekolah Tinggi Agama Islam Barus], Fahriany Sitanggang (dosen UIN Syarif Hidayatullah), Sunardi Panjaitan (pengurus DPP Gabema Tapanuli Tengah – Sibolga), dan Andreas Budi [Sekretariat Yayasan Maju Tapian Nauli (Matauli)].

Sedangkan pendamping Laksana ialah Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Iman Hidayat, Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN Ratih Damayanti, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN Herry Jogaswara; Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN Sofwan Noerwidi, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Muhammad Irfan Mahmud, serta Kepala Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN Marlon Nicolay Ramon Ririmasse.

Di awal acara, Masriadi menyerahan pernyataan sikap, yaitu Keluarga Besar Masyarakat Tapanuli Tengah – Sibolga menyayangkan upaya BRIN untuk melakukan migrasi koleksi arkeologi dari Laboratorium Arkeologi Barus ke Gedung Koleksi BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno di Cibinong. Sebagai unsur perwakilan masyarakat, DPP Gabema Tapanuli Tengah – Sibolga bersama tokoh-tokoh asal Tapanuli Tengah – Sibolga mendesak pembatalan kegiatan tersebut demi menghindari kemarahan masyarakat Tapanuli Tengah – Sibolga di ranah dan di rantau.

Selain itu, Keluarga Besar Masyarakat Tapanuli Tengah – Sibolga mengusulkan penetapan Barus dan Bongal di Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai kawasan riset penelitian arkeologi BRIN dengan membangun museum di lahan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Jl KH Zainul Arifin yang disepakati bersama masyarakat dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Barus sebagai destinasi penelitian bagi perguruan tinggi dan stakeholders di dalam negeri dan luar negeri. Menjadi “surga” destinasi penelitian arkeologi di Sumatera Utara dan Indonesia.

Khusus temuan arkeologi di situs Bongal membuka perspektif baru kesejarahan Indonesia. Karena mengindikasikan interaksi penduduk Nusantara melalui perdagangan dan pelayaran dengan mancanegara (Timur Tengah, India, serta China) abad ke-7 hingga ke-10 Masehi atau 200 tahun lebih tua dari temuan arkeologi di situs Barus yang memerlukan analisa kritis karena ribuan tahun yang lalu diduga pelayaran tidak langsung menuju Sijagojago tanpa melalui Barus. Karena itu, benda situs Barus dan situs Bongal dikaji holistik dan sistemik.

Poin berikutnya, di zaman digital, pengelolaan koleksi benda arkeologi tidak mesti dikumpulkan terpusat di lokasi tertentu saja, karena ribuan sumber tempat artefak dari Sabang ke Merauke di desa, kecamatan, kabupaten, kota, dan provinsi di seluruh Indonesia. Kebijakan tersebut melanggar prinsip otonomi daerah “desentralisasi”, termasuk pemanfaatan riset untuk konservasi, penelitian, pendidikan, dan pariwisata di daerah, termasuk Barus dan Bongal.

Ke depan, Keluarga Besar Masyarakat Tapanuli Tengah – Sibolga mendorong BRIN semakin menghargai dan mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat sebagai “ekosistem sejarah arkeologi” di Barus dan Jagojago dalam upaya penguatan pengambilan kebijakan berbasis bukti hasil riset di daerah asalnya. Selain itu, BRIN semakin menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri, sebagai upaya diseminasi pemanfaatan riset seperti organisasi pemerintahan daerah (dinas kebudayaan, dinas pendidikan, dinas pariwisata), lembaga riset, universitas, dan lembaga swadaya masyarakat. Kolaborasi sebagai kunci untuk mengatasi kendala personil, anggaran, dan infrastruktur.