FASE OKHLOKRASI, BUKAN DEMOKRASI

By Irawan Santoso Shiddiq

AR RUM. Ini salah satu nama Surat dalam Kitabullah. Surat yang merujuk pada sebuah nama peradaban. Romawi. Barat menyebutnya ‘Rum’. Kedigdayaan barat ada pada Romawi. Fase panjang siklus peradaban. Mulai era sebelum Isa Allaihisalam, hingga Kesultanan Utsmaniyah, 1453. Tapi barat begitu terkesima. Hingga mendirikan Romawi baru masa modern. Itulah ‘Romania’, yang tak kunjung menjadi Romawi.

Bagi muslim, Romawi penting ditelaah. Karena ini tentang sejarah. Shaykh al Pattani berkata, manusia yang tak memahami sejarah, itulah manusia yang tak berakal. Shaykh Abdalqadir as sufi merujuk dua kata: ‘respice prospice’. Melihat kebelakang, untuk maju ke depan. Ini motto Dallas College di Cape Town, South Africa. Sekolah khusus pembelajaran tentang ajaran Ian Dallas, nama lain dari Shaykh Abdalqadir as sufi.

Kembali ke AR RUM. Fase ini dimulai dari masa monarkhi. Kala peradaban didirikan dari tepi sungai Tiberias, di sudut kota Roma. Selepas peradaban berada di Libya, Chartago. Peradaban beralih ke kulit putih. Setelah sebelumnya kulit hitam memperbudak kulit putih. Romawi bermula dari kota kecil. Berdiri bukan lantas dari imperium raksasa. Romulus, 753 SM memimpin kaum Rum. Dari sanalah monarkhi bermula. Karena setiap peradaban dimulai dari kota kecil. Jauh dari imperium digdaya kala itu. Islam bermula dari Madinah, sebuah kota tak populer masa itu. Inilah sunatulllah peradaban.

Polybios (200-118), sejarawan Romawi mencatatkannya dalam sebuah teori. Siklus Polybios. Peradaban kerap berputar. Pola pemerintahan kerap berada pada siklus. Mulai dari monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi, dan berubah lagi ke monarkhi. Ibnu Khaldun (1332-1406), memberi teori. Peradaban bak organisme. Mulai dari lahir, kecil, remaja, tua dan mati. Mukadimmah, kitabnya tersohor, memberi tunjuk ajar tentang sunatullah peradaban. Dan itu kerap terjadi. Ian Dallas, 2015, memberi catatan: ‘one world dying, another world being born’. Tiga manusia ini layak jadi pegangan. Dari masa Romawi, jaman Abbasiyah, hingga era modern kini. Dari situlah kita bisa membaca, kini berada di fase mana. Jaman yang bagaimana.

Dallas memberi rujukan. Kitabnya, The Entire City, memberi tunjuk ajar praktis untuk mengenali jaman, watak jaman, hingga jalan keluar dari persoalan jaman. The hidden. Ini panduan untuk merujuk lagi pada fitrah. Yang menuntun kepada Kitabullah.

Dari Romawi kita bisa berkaca. Masa kala Tauhid menjadi raja. Karena peradaban kerap terbagi dua: golongan kanan dan golongan kiri. Al Quran Surat al Wakiyah. Ini dua kategori manusia. Pengikut Tuhan atau pengikut setan. Hanya ada dua golongan saja. Karena hakekat manusia di dunia, dalam rangka ujian, selepas hidup dari Surga.

Dari Romawi kita bisa merujuk. Romulus mendirikan dengan naatural law. Allahuallaim tentang Nabiyullah kala itu. Tapi kekuasaan berlangsung dengan rujukan Tuhan. Hingga masa Brutus I, mengambil alih tampuk kekuasaan dari generasi Romulus yang telah berubah menjadi oligarkhi. Fase pun berubah. Romawi menjalankan ke-Tauhid-an. Pola senator diterapkan. Dari ide khayalan Plato dan Aristoteles, Romawi menjalankan demokrasi. Sesuatu yang sejatinya baik. Kala pemimpin dikontrol oleh senator. Parlemen (parley: berbicara).

Senat terdiri dari counsul, praetor hingga quesitor. Disitulah tribunal menjadi terlindungi. Kekuasaan dikawal oleh senat secara apik. Kaisar berada dalam kendali. Belum berubah menjadi ‘the king can do no wrong’.

Fase Julis Caesar tragedi terjadi. Tatkala jabatan menjadi rebutan. Brutus menikam Caesar di depan senator. Cicero menampakkan amarahnya. Sebagai seorang Praetor, Cicero tak berdiam melihat kelaliman. Fase itulah Romawi goyang. Demokrasi, yang sejatinya baik, terancam. Cicero pun angkat bicara. Dalam kitabnya, ‘De Republica’ bisa ditelaah. Tentang upaya Cicero mengembalikan Romawi kembali pada model ‘res publica’. Di bawah kendali urusan publik. Bukan dikontrol sebagian kelompok. Karena Cicero berkata dengan ‘de natura daerum’, tentang kekuasaan yang fitrah. Kekuasaan yang ber-Tauhid. De Legibus, kitabnya yang lain, memberi kepastian tentang pentingnya Romawi kembali pada fitrah. Sesuatu yang merujuk hanya pada Tuhan semata. Bukan fantasi hasil rasio manusia, yang mendewakan langit dan bintang. “Tapi Tuhan,” kata Cicero.

Karena fase itu Romawi terserang virus rasionalitas ajaran Socrates, yang kembali dihidupkan. Aristoteles dan ajarannya kembali menyala. Tentang rasionalitas terhadap alam semesta. Cicero menghalaunya dengan mempertahankan ‘natural law’. Bukan positif law, yang berbasis rasio manusia.

Tapi rasionalitas makin membara. Fantasi manusia mengarah kemana-mana. Hingga dewa-dewa dihasilkan dari proses rasio yang berkembang liar. Ini yang kemudian diambil oleh manusia Eropa abad pertengahan. kala mereka berkata, masa itu jaman kegelapan (dark age). Tapi manusia kembali menitikkan pada rasio sebagai basis kebenaran. Meninggalkan pondasi keWahyu-an.

Caesar ditikam. Huru hara melanda Romawi. Triumvirat terjadi. Romawi berada pada fase rebutan kekuasaan tiga orang.  Perang antara Mark Anthony hingga Pomppei makin menjadi. Hingga muncullan cucu Caesar, Augustus (Oktavianus) mengambil alih. Tapi dia tak sendiri. Segepok kelompok militer Romawi berada di belakangnya. Itulah Legiun, yang melegenda. Legiun mendukung Augustus. Dia didaulat menjadi Kaisar. Tapi Senat menjadi tumpul. Era republik berakhir. Hanya tinggal nama. Tapi tak serupa penerapannya. Tak ada lagi kontrol kekuasaan pada senat. Karena Kaisar dikendalikan Legiun. Sekelompok tentara Romawi. Senat hanya simbol. Tumpul. Mandul. Tak bisa berbuat apa-apa. Karena Legiun lebih berpengaruh mengendalikan Kaisar, pemimpin Romawi. Itulah permulaan fase Augustus. Kata lain, demokrasi di Romawi berakhir. Telah masuk ke fase baru: itulah Okhlokrasi. Nama lainnya Mobocrazy.

Dari fase Augustus sampai era dua belas Kaisar, Romawi terus menurun. Hingga runtuh di Roma abad 4 Masehi. Disitulah mencuat monarkhi-monarkhi baru. Arthur mendirikan Inggris Raya. Dengan mitos berada di belakangnya. Germana, hingga Francois berdiri di wilayah Perancis kini. Fase itu Tauhid telah kembali. Karena kemunculan Isa Allaihisalam, yang memberi ajaran kembali pada Tuhan. Muncullah peradaban baru: Nasrani.

Di jazirah, Islam muncul memulai peradaban. Dari Makkah dan Madinah, titiik kecil sebuah kota. Jauh dari hingar bingar imperium besar. Romawi yang telah berpindah ke Konstantinopel. Dan Persia yang sebelumnya menguasai jaazirah. Islam terus membesar dengan Tauhid sebagai pondasi. Berubah menjadi peradaban raksasa, yang mengendalikan dunia. Eropa berada dalam ketertinggalan. Karena Cordoba sampai Qarrawiyin, hingga Kairo, menjadi sentral ilmu pengetahuan.

Di belantara Eropa, kebingungan melanda. Karena perdebatan trinitas dan unitarian yang begitu cepat. Hingga runtuhnya Romawi di Konstantinopel, 1453, makin menguatkan apatisme pada agama. Muncullah peluang baru pondasi kebenaran. Rasionalitas bangkit kembali. Kaum eropa memungutnya dari kaum mu’tazillah yang sempat menjayakan kedigdayaan Islam di Andalusia hingga Abbasiyah. Dari sanalah teori ala Plato hingga Aristoteles dibangkitkan. Menjadi pijakan kembali, dari urusan kosmosentris hingga soal teori kekuasaan.

Rennaisance, titik dimulainya pengajaran rasionalitas. Aufklarung menjadi semangat baru kaum Eropa. Melawan kedigdayaan Raja dan Gereja. Vox Rei Vox Dei (Suara Raja Suara Gereja) ditinggalkan. Dikudeta menjadi vox populi vox Rei, buah rasionalitas tentang kekuasaan. Muncullah teori baru tentang ‘state’ (negara).

Revolusi Perancis, 1789, menandai kemenangan kaum rasionalitas Eropa. Dari fase Francis Bacon, Descartes hingga Immanuel Kant, tentang kosmosentris. Hingga berada pada fase Machiavelli, Hobbes, Locke sampai pada Rosseou. Yang menteorikan bahwa kekuasaan berada pada perjanjian rakyat semata. Tak ada lagi duel ccontract, antara rakyat dan Tuhan. Inilah permulaan dari state. Masa modern, yang bermakna kekinian. Modern bukan berarti kemajuan. Sains dan positif law, menjadi pondasi baru. Hingga masa modern menghaslkan fiscal state. Negara fiskal. Karena diballik hegemoni rasionalitas yang melahirkan teori kekuasaan baru, muncul sekelompok oligarkh yang mengendalikan para penguasa. Merekalah bankir. Yang dulunya kaum borjuis atau baron, di masa abad pertengahan. bankir ini yang mengendalikan Napoleon dalam mendirikan Perancis, dan William of Orange, yang mengontrol raja Inggris pasca monarkhi konstitusional.

Fase state pun bermunculan. Inilah yang memporak-porandakan Nasrani di eEropa, kemudian merambah menghancurkan Daulah Islam di jazirah sampai nusantara.

Fase ini terulangnya era Augustus masa Romawi. Kala itu Kaisar dikontrol Legiun. Kini Head of State sepenuhnya dikontrol Bankir. Inilah Ian Dallas menyebutnya:

“Kekaisaran republik yang benar telah berakhir, karena bentuk dari Senat telah tidak dapat dipertahankan –sangat identik denngan negara kapitalis modern, hanya Legiun telah digantikan oleh Bank. Kekaisaran tanpa akhir dalam bentuk modern adalah menjadi negara-konsumen”. (The Entire City, 2015).

Karena fakta sedunia menunjuk setiap State di dunia memiliki utang pada bankir. Termasuk negara adidaya Amerika, Jepang hingga Rusia. Tak ada lagi kekuasaan di bawah kendali Senat, yang hanya sebatas nama. Maka, perulangan sejarah kembali terjadi. Tentu ini bukan fase demokrasi. Melainkan telah berubah menjadi Okhloktrasi, sebuah rezim kekuasaan yang dikendalikan kaum bodoh dan perusak.

Mengapa bodoh? Terminologi ini yang digunakan Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam tentang suatu jaman yang dikendalikan kaum ‘ruwaibidhah’. Orang bodoh yang mengendalikan urusan orang banyak. Bodoh dalam bahasa lain ialah jahal. Jahiliyah itulah masa kebodohan. Tatkala manusia meninggalkan Tuhan. Teori Descartes, cogito ergo sum, bisa menjadi pijakan awal untuk memahami bagaimana kebodohan manusia modern. Nietszche, mendefenisikannya sebagai nihilisme. Manusia terakhir, yang telah hilang dari pijakan kebenaran. Martin Heideger menunjukkannya dengan kembalinya eksistensialisme, karena esensialisme tak lagi bisa dijadikan pijakan kebenaran. Hingga dari para pemikir kanan kaum Eropa modern ini, bisa mengantarkan kita pada ‘God is dead’. Hingga harus kembali pada Islam. Dallas, ulama besar asal Eropa kini, menunjukkan pada kita, sesiapa pemikir golongan Kanan dari Eropa modern. Yang bermuara untuk memahami Islam, dari Dallas way.

Dari Harold Laski, lawyer Inggris abad 20, mampu memberikan gambaran tentang pentingnya re-evaluasi terhadap konsep state. Karena Laski menuliskan lagi ‘vindiciae contra tyrannoss’. State yang telah berubah menjadi tiran.

Inilah masa interim, kata Dallas. Masa peralihan antara Okhlokrasi kembali kepada monarkhi. Karena jaman terus berputar. Bukan makin maju tak terkendali. Tapi kembali pada fitrah. Inilah yang disebut new nomos. Yang dalam Islam, kembali pada Amal Ahlul Madinah. Penerapan Islam merujuk pada tiga generasi awal: masa Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin. Fase yang dimention Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam sebagai generasi terbaik dalam Islam.

Fase itu dimulai era Khulafaur. Tatkala dimulainya kekuasaan ditangan seorang AMR. Yang disebut Sultan atau Khalifah. Disinilah titik prioritas pengembalian Dinul Islam. Dallas merujuk pada pentingnya mengembalikan kekuasaan (power) dan kekayaan (wealth). Dan itu dimulai dari kembalinya Zakat. Karena rukun Zakat sebagai wujud kembalinya power and wealth. Bak masa mula Khulafaur, yang memprioritaskan penegakan rukun Zakat sebagai pondasi Dinul Islam. Tentu setelah lepas dari belenggu kemusyrikan. Karena dari kemusyrikan inilah segala penyakit psikosis bermula.

Karena Dallas berkata, jaman psikosis ini bukanlah takdir yang harus diterima. Melainkan dilawan. Resist. Perlawanan itu dimulai dengan kembali pada Tauhid. Melahirkan futtuwa, virtue, yang pernah hadir juga di Romawi sampai Eropa.

“Futtuwa is tassawuf. Ma’rifatullah is secret. Qurtubi is final word,” Shaykh Abdalqadir as sufi.   

*Penulis adalah praktisi hukum dan penulis buku ‘Kembalinya Hukum Islam –Matinya Positif Law’