Kesultanan Bintan Gelar Kajian Ilmiah Mengembalikan Etos Kekesatriaan Untuk Lawan Dominasi Bankir

Tanjung Pinang,- Pagi menjelang siang. Kesibukan mulai terasa di ruang Perpustakaan Daerah Kepulauan Riau, Tanjung Pinang, Propinsi Kepulauan Riau. Selasa, 30 Agustus 2022 itu, jarum jam menunjuk angka 9 pagi. Tapi orang-orang tampak berdatangan satu persatu. Mereka menuju auditorium ruangan perpustakaan yang berlangsung megah tersebut.

Karena pagi itu berlangsung kajian ilmiah yang baru kali pertama diadakan ke Bintan. Temanya tentang “Membangun Kembali Etos Kekesatriaan Kesultanan Bintan –Studi Buku ‘The Interim is Mine’ by Ian Dallas.”

Sesosok tokoh sejawaran yang familier, Rida K. Liamsi, tampak telah hadir di sana. Dia merupakan anggota kehormatan Masyarakat Sejarah Indonesia. Bagi masyarakat Melayu, namanya kesohor sebagai sejawaran mumpuni. Dia sebagai salah seorang pembicara di kajian itu. Hadir juga Dato’ Wira Raja Malik, seorang tokoh dan ulama dari Pulau Penyengat. Beliau juga zuriat Kesultanan Riau Lingga. Dan juga Raja Haji ke-6, keturunan langsung dari Raja Haji Fisabilillah, ulama dan pejuang Islam dari Tanjung Pinang. Dan telah ditabalkan juga sebagai Pahlawan Nasional.

Sultan Huzrin Hood kemudian memasuki ruangan kisaran pukul 9 kurang. Bersama dengan Umar Azmon Amirhasan, ulama asal Kuala Lumpur, Malaysia, yang hadir khusus untuk acara tersebut. Bersama dengan Irawan Santoso Shiddiq, cendikiawan muslim asal Jakarta, yang juga datang secara khusus.

Tepat pukul 09.00 WIB, acara pun dimulai. Setelah pembukaan yang dibawakan oleh pembawa acara, Sultan Huzrin Hood memberikan kata sambutannya. Beliau mengetengahkan tentang sekilas sejarah Kesultanan Bintan. Dan tentang posisi Kesultanan Bintan di mata Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama asal Skotlandia yang dikebumikan di Cape Town, Afrika Selatan. “Shaykh Abdalqadir as sufi selalu memberikan perhatian besar pada Kesultanan Bintan, syukur Alhamdulillah kita membuat kajian khusus tentang bukunya di acara ini,” paparnya.

Sultan Huzrin teringat akan pesan Shaykh Abdalqadir as sufi kepada murid-muridnya, “Jika kalian ingin mencari tentang ilmu hadist, kitab fiqih klasik, maka datanglah ke Pakistan. Tapi jika kalian ingin melihat bagaimana sultaniyya, maka datanglah ke Bintan,” katanya. Pesan ini yang membuat murid-murid Shaykh Abdalqadir as sufi kemudian datang berbondong-bondong ke Kesultanan Bintan. Kemudian di tahun 2001, diadakanlah kali pertama seminar tentang peranan Dinar Dirham dalam muamalah Islam, yang digelar di Bintan. Kala itu Sultan Huzrin masih berperan sebagai Bupati Kepulauan Riau.

Selanjutnya, Sultan Huzrin mengkisahkan perihal baiat dirinya kepada Rais Abu Bakar Rieger di Hotel Bumi Sangkuriang, Bandung, Jawa Barat, tahun 2005 lalu. Maka jadilah kemudian Kesultanan Bintan makin eksis berdiri.

Dari kisah sejarah itu, kajian ilmiah kemudian memasuki sesi acara. Sang Moderator, Dato’ Wira Malik, seornag zuriat Kesultanan Riau Lingga, memandu acara dengan apik. Beliau juga merupakan keturunan ke-6 Raja Haji, ulama besar dari Bintan. Dato’ Wira Malik membawakan acara kajian ilmiah dengan gaya yang berwibawa. Hingga suasana kajian menjadi hidup.

Pemateri pertama, Umar Azmon dari Kuala Lumpur, Malaysia, menceritakan perihal buku ‘The Interim is Mine’. Dia memulai dengan Al Quran Surat al Asr, tentang makna “kerugian.’ “Itulah yang disebut nihilism di era sekarang,” papar Umar Azmon. Kemudian beliau mengkisahkan terbentuknya Ordo Kesatria di Eropa masa lalu, yang buah didikan dari Sultan Salahuddin al ayyubi dan kaum muslimin pasca Perang Salib dulu. Ordo Kesatria itu yang mewarnai daratan Eropa, khususnya Inggris, dengan para bangsawan. Magna Charta, menjadi salah satu bentuk kinerja Ordo Kesatria dalam mengawal fitrah, ketika terjadi kedzaliman yang dilakukan Raja John. Pemaparan mendetail tentang nihilism era modern, sampai jalan keluar dengan membentuk kembali ordo kesatria. “Karena kini yang berkuasa adalah ordo bankir,” tambahnya sembari mengutip buku ‘The Interim is Mine’ karya Ian Dallas tersebut.

Pemateri kedua, Rida K. Liamsi, seorang sejawaran terkemuka dari negeri Melayu, makin menambah hangat diskusi. Hasil catatannya tentang pembacaan buku ‘The Interim is Mine’ karya Ian Dallas, sangat apik dan menarik. “Buku ini menggugah saya tentang situasi jaman kini yang dikuasai oleh ordo bankir, ini sangat menarik bagi saya,” katanya. Beliau menceritakan sejarah Kesultanan Bintan sejak dulu, yang bisa disebut sebagai ‘Ibunya Melayu’. “Semuanya bermula dari Bintan,” paparnya dengan analisis sejarah yang mendalam. Rida K. Liamsi kemudian memaparkan tentang bagaimana ordo kesatria dan sifat kesatria secara tata Bahasa dan makna. “Kekesatriaan itu merupakan bentuk kehormatan, kewibawaan, pejuang yang dulunya sangat melekat pada jiwa-jiwa orang Melayu khususnya di Kesultanan Bintan,” tegasnya. Dia mengakui sangat apreasiasi pada Dr. Ian Dallas yang menulis buku ‘The Interim is Mine’ tersebut. “Buku itu sangat menarik sekali, memberikan kita perpektif yang luar biasa,” ujarnya.

Pemateri ketiga, Irawan Santoso Shiddiq, cendikiawan muslim yang hadir dari Jakarta, makin membuat suasana diskusi makin hidup. Dia mulai menceritakan tentang kekuasaan ordo bankir yang kini mengkooptasi dunia. “Kekuasaan adalah siapa yang mengendalikan harta, dan simbolisasi pengendalian harta adalah dengan uang, kini uang dikendalikan oleh bankir,” paparnya.

Kemudian Irawan memaparkan perihal latar belakang buku ‘The Interim is Mine’ yang menceritakan masa ketika Islam mempengaruhi Eropa. “Kini barat yang mempengaruhi Islam, dengan paham westernisasinya, makanya kita harus lakukan kebalikannya,” ujarnya. Jalan perlawanan itu, kata Irawan, dengan mengembalikan futtuwa yang berpondasikan pada Tauhid. “Kini kerusakan terbesar dimulai dari rusaknya aqidah, kerusakan aqidah, membuat terjadinya pergeseran pada syariat, yang lambat laun ini menghilangkan Islam dari muka bumi ini, maka jalan awal adalah kembali pada Tauhid yang benar,” paparnya panjang lebar.

Anstusiasme peserta sangat tinggi dalam kajian ilmiah ini. Peserta yang hadir selalu melemparkan pertanyaan yang menarik dan menggelitik. Alhasil diskusi makin hidup dan bermutu. Tampak sekali kajian ilmiah ini sangat diperlukan untuk membuka kesadaran bagi masyarakat muslim di Pulau Bintan. “Sangat bermutu dan berkelas sekali,” papar Ma’ruf, salah seorang peserta yang mengikuti kajian tersebut.