Komisi X DPR Dukung Upaya Moratorium Revitalisasi TIM

Forum Seniman Peduli TIM, seusai diterima Komisi X DPR RI. (Ist)

JAKARTA, theindonesiatimes – Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengatakan, mendukung moratorium revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) sebelum menemukan titik terang. Untuk itu, Komisi X DPR berencana akan memanggil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, DPRD DKI, dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk mengklarifikasi proyek revitalisasi TIM tersebut.

“Komisi X mendukung upaya moratorium revitalisasi tim, komisi X akan memanggil Gubernur DKI Jakarta, DPRD DKI Jakarta, dan PT Jakpro,” kata Syaiful Huda di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Syaiful mengatakan, berdasarkan aspirasi yang disampaikan oleh para seniman, budayawan dan pekerja budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM itu, maka Komisi X DPR bersepakat akan memanggil Anies, DPRD DKI, dan PT Jakpro untuk menghentikan sementara proyek revitalisasi TIM tersebut.

Menurut Syaiful, seharusnya Gubernur Anies tidak lagi menerbitkan Pergub DKI Nomor 63 Tahun 2019, yang memberikan kewenangan kepada PT Jakpro selaku BUMD DKI untuk melakukan revitalisasi dan mengelola TIM.

“Mestinya, TIM ini semacam ikon. Jangan sampai kejadian ketika ada Pemda ingin menjadi bagian dari revitalisasi lalu diberikan kepada BUMD, yang semangatnya adalah komersial,” tegasnya.

Di lain sisi, Syaiful menyayangkan gaya berkomunikasi Anies terhadap para seniman dan budayawan yang telah puluhan tahun perjalanan hidupnya berkesenian di TIM.

“Secara prosedural ini cacat bagi proses demokrasi yang akan datang, karena demokrasi melibatkan siapapun. Terlebih seniman dan budayawan,” ujar Syaiful mengingatkan.

Tuntutan Moratorium

Sebelumnya, Juru Bicara Forum Seniman Peduli TIM Tatan Daniel menekankan sejumlah tuntutan para seniman, budayawan dan pekerja budaya terkait revitalisasi TIM.

“Moratorium seluruh pembangunan dan pembongkaran TIM oleh Pemda DKI yang dilaksanakan PT Jakpro, dengan mengatasnamakan program revitalisasi TIM,” tegas Tatan, Minggu (16/2/2020).

Tatan mengaku Forum Seniman Peduli TIM sudah beberapa kali mengadakan pertemuan, diskusi dan mediasi oleh DPRD dengan Pemprov DKI dan PT Jakpro, yang akan mengelola TIM. Akan tetapi, upaya mediasi itu hingga saat ini tak juga menyurutkan aktifitas PT Jakpro melakukan pembongkaran dan revitalisasi seluruh area, termasuk bangunan-bangunan utama bersejarah di TIM.

Perlu untuk diketahui, revitalisasi TIM terus berlanjut dan kini sudah memasuki tahap II. Gedung Graha Bhakti Budaya dan Galeri Cipta III pun sudah diruntuhkan.

Rencananya, PT Jakpro akan membangun tempat tinggal para seniman sebanyak 200 kamar, yang mereka (PT Jakpro) sebut sebagai Wisma Seni dari Lantai 8 sampai 14, di bagian bawah ada ruangan teater, perpustakaan, dan Pusat Dokumentasi HB Jassin.

Wacana pembangunan Wisma Seni ini diartikan oleh seniman sebagai hotel bintang lima yang akan berbiaya besar dan terlalu komersil, sehingga berpotensi menghilangkan ruh berkesenian di TIM.

DPRD Jakarta terus mendorong Pemprov DKI dan PT Jakpro tidak terus melanjutkan revitalisasi tersebut, sebabnya anggaran pembangunan hotel sebesar Rp400 miliar juga telah dipangkas dalam KUAPPAS menjadi Rp 200 miliar.

Namun, revitalisasi TIM tetap dilanjutkan oleh karena APBD DKI tahun 2019 sudah disetorkan dan revitalisasi ditargetkan selesai tahun 2021. (EDO)