MATINYA FILSAFAT

Oleh: IRAWAN SANTOSO SHIDDIQ

“Belum pernah ada jaman (seperti sekarang) dimana hilangnya nalar (rasionalitas) dan tak bernilainya segala sesuatu yang penting telah mendominasi pemikian, pengajaran dan perilaku….”

(Ian Dallas)

Charles Darwin, orang mengenalnya dengan teori evolusi. Tapi Darwin juga berpesan tentang teori devolusi. Ini lebih buruk ketimbang evolusi. Devolusi inilah kemunduran genetik. Degradasi genetik terjadi pada populasi masyarakat modern. Ini buah relaksasi seleksi alam dan hubungan terbalik antara kelas sosial dan kesuburan. Karena modernitas ternyata bukanlah sebuah ‘kemajuan’, sebagaimana ilusi kaum modern. Melainkan sebuah devolusi. Ini faktanya.

Ian Dallas berkata, jaman modern dimulai dengan transvaluasi pada semua nilai-nilai. Modernitas akhirnya melahirkan “fiction telling”. Ini kalimat asing. Tak ada diajarkan di universitas. Tapi bisa kita nampak depan hidung kita. Ketika ‘kertas’ dikata uang, ketika sistem pemerintahan disebut ‘demokrasi’, padahal telah ‘okhlokrasi’. Ketika ‘republik’ dicantumkan dalam konstitusi, pada bukan demikian format ‘republik’. Ketika hukum dikata keadilan, pada itulah monopoli kepentingan segolongan. Disitulah terjadi transvaluasi nilai-nilai. Hilangnya nilai. Ini yang Nietszche katakan sebagai ‘nihilisme’. Dan pandangan ini telah dipahami barat. Sementara ditimur, masih bergeliat dengan ‘Islamisme’.

Nihilisme, inilah klimaks dari cara berpikir filsafat. Puncak dari “berpikir” yang telah menjadi dogma. Dulu, “berpikir” itu dianggap intelektual. Masa Socrates, “berpikir” melahirkan morality. Masa modern, “berpikir” malah menyasar pada ‘nihilisme.” Hilangnya nilai-nilai. Makanya Martin Heidegger mengatakan, “Sains tak berpikir.”

Tentu, makna “berpikir” disini bukan sebagaimana dalam Al Quran: “Affallataqqilun…” Jika anda memaksa dan terus memaksa, bahwa filsafat itu sama dengan “Affalataqqilun,” itu tentu kebodohan akut. Karena Al Quran tak pernah menyuruh orang berfilsafat. Melainkan mendudukkan dimana posisi akal yang semestinya. Bukan akal atau berpikir sebagai pijakan atas. Mindset ini yang juga menimbulkan penyakit ‘islamisme’ dalam belantara timur. Ketika dibarat filsafat telah berujung pada nihilisme, tapi ditimur terus dipaksa menjadi “islamisme.” Sepadan akan kejahilannya. Maka, mari tinggalkan yang tak bisa membedakan, tak mau membedakan mana “filsafat” dan mana “Affalataqqilun” sebagaimana dimaksud dalam Al Quran. Karena hal itu hanya kebodohan yang akut.

Mari melongok dulu pada Plato. Murid Socrates. Darinya lahir idea. Inilah teori. Bahwa segala sesuatunya harus melewati indera akal, untuk bisa dipahami. Karena Plato mengenalkan tentang ‘ide bawaan’. Yang datang dari Tuhan. Aristoteles agak berbeda. Dia menyebutnya sebagai ‘akal bawaan.’ Tapi mereka menomorsatukan akal untuk menggapai ‘Kebenaran.’ Ide bawaan atau akal bawaan, inilah yang harus diungkap manusia. Karena di sana tersarang ‘kebenaran.’ Makanya, dalam Republik-nya Plato, dia bilang, sosok paling ideal memimpin sebuah masyarakat socieaty, adalah filosof. Orang yang berpikir. Yang yang menggunakan akalnya. Yang mampu mengungkap ‘kebenaran’ dengan akalnya.

Plato menjabarkan ada tiga tingkatan dalam tubuh manusia: kepala, dada dan perut. Itu digambarkan sebagai strata. Kepala mewakili akal. Dada mewakili kehendak. Dan perut mewakili nafsu. Disini titik fokus kita.

Masa Plato, filsafat tak hidup. Tapi pengajarannya kemudian digemari. Romawi tak menggemarinya. Kaisar Konstantin di Romawi, menutup pengajaran filsafat. Karena dianggap berbahaya untuk memahami Tuhan. Konsili Nicea, abad 4 Masehi, filsafat resmi dilarang di Romawi. Akademi Plato ditutup. Filsafat dan sains tak berkutik. Romawi tetap berjaya, tanpa filsafat. Tapi mereka tetap disebut “berpikir.”

Hingga kemudian kala Islam menjejak di Arabia dan sekitarnya. Masa Abbasiyya menjelang, filsafat ditemukan. Jamak muslimin mendalami lagi buku-buku Yunani kuno. Bahkan Khalifah Al Ma’mun meminta resmi buku-buku filsafat dari kaisar Romawi di Konstantinopel. Alhasil masa mu’tazilah datang. Itulah fase ketika Socrates, Plato, Aristoteles di-Islam-kan. Jadilah rezim mu’tazilah. Disitulah muncul Al Farabi, Ibnu Sina, dan lainnya. Al Farabi, pengikut setia Aristoteles. Dia dijuluki guru kedua. Farabi menelorkan teori ‘emanasi’. Tentang ‘kebenaran ganda.’ Kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala filsafat. Filosof, kata Farabi, sejajar kedudukannya dengan Nabi. Karena filosof menemukan ‘Kebenaran’ dengan akalnya. Sementara Nabi menemukan ‘Kebeneran’ dengan bimbingan Wahyu.

Tapi ujung mu’tazilah hanyalah drama kontroversi ‘al mihnah’. Kewajiban untuk taqlid buta pada Al Quran sebagai makhluk. Padahal ulama menentang. Tapi filsafat ternyata bukan melahirkan kebebasan berpikir. Melainkan otoriter dalam berpikir. Al mihnah itulah contohnya. Mu’tazilah menjadikan sains Islam tinggi. Cordoba mendunia. Manusia terbang sudah ada disana. Sains begitu mewujud nyata. Tapi sains tinggi, buah dari filsafat, tak berbanding lurus dengan kekuatan Islam. Karena Cordoba begitu mudah dikalahkan bangsa Portugis, yang bahkan belum mengenal kopi. Dan, abad 15, Granada resmi direbut pasukan Nasrani. Padahal istana Al Hambra begitu megah, dengan sainsnya. Disitu pula kekalahan Islam. Bukan berujung pada kemenangan. 

Di timur, Utsmaniyya muncul. Mamluk mendahului. Mereka meninggalkan paham mu’tazilah. karena ulama telah mewanti. Imam Ghazali menentang keras filsafat. Kitabnya ‘Tahafut al falasifah’ jadi panduan. Tentang kesesatan filsafat. Imam Asyari, Imam Mathuridi telah juga menjaqa aqidah muslimin. Kembali pada ahlul sunnah waljamaah. Karena bahaya aqidah pada mu’tazilah.

Masa abad pertengahan, filsafat menyeberang ke Eropa barat. Dipungut kaum rennaisance. Dari Cordoba nyeberang ke Italia. Thomas Aquinas mengikuti Al Farabi. Dia menyebut tentang ‘kebenaran ganda’ juga. Aquinas menyebutnya ‘teori dua belah pedang.” Kebenaran ala Nasrani dan kebenaran ala filsafat. Sejak itulah Socrates, Plato, Aristoteles di-Kristen-kan. Di sana, filsafat berhadapan dengan dogma Gereja Roma. Tapi kemudian filsafat berkembang liar. Tak lagi terkendali. Francis Bacon buat teori, ‘aku ada maka aku berpikir.’ Segala sesuatunya merujuk pada manusia. Bukan lagi Tuhan. Manusia menjadi objek yang mengamati, bukan lagi objek yang diamati. Descartes makin memuncak. ‘Cogito ergo sum’ menjadi mahdhab baru filsafat. Segala sesuatunya dianggap benar, jika telah melewati akal manusia. Tak ada lagi teori ‘dua belah pedang.’ Melainkan teori ‘satu pedang.’ Itulah kebenaran ala akal semata. bukan lagi kebenaran ala wahyu. Itu beda filsafat Aquinas dan Descartes.

Hingga kemudian memuncak pada Immanuel Kant. Ration scripta. Empirisme menjadi mahzab lagi. Segala sesuatu bisa dianggap ‘kebenaran’, katanya, jika telah melewati proses empirisme lebih dulu. Jadilah kemudian melahirkan positivisme, teori baru dari John Austin. Yang melahirkan rule of law. Inderawi jadi dogma baru.

Karena kemudian ‘kebenaran’ dimonopoli oleh satu hal: segala sesuatunya adalah materi. Karl Marx yang menteorikannya. Tak ada lagi kebenaran ala Wahyu. Tak ada lagi filsafat ke Tuhanan ala Socrates, Plato maupun Aristoteles. Terlebih setelah makin mencuat teori akrobat Sigmund Freud. Dia menampik tentang kehadiran ‘roh adikodrati’. Freud berteori, yang dikira ‘roh’ itu sebenarnya adalah alam bawah sadar. Freud menampik Hegel. Karena Hegel masih mengembalikan filsafat, ke dalam roh sebagai dasar. Itulah pijakan batin. Freud menangkalnya, dan alhasil melahirkan devolusi manusia. Inilah karakteristik manusia modern.   

Imam Ghazali, melihat fenomena mu’tazilah dulu telah mewanti-wanti sejak awal. “Sesungguhnya akal tak dijamin aman dari kesalahan. Maka jangan sekali-kali mengambil pengajaran agama darinya.” Kini, apa yang dikhawatirkan Imam Ghazali itu benar terbukti. Tentang kesesatan akal. Karena Martin Heidegger sendiri telah mengakui, “Akal bisa dibuat memadai dan tak memadai,” katanya dalam ‘Being and Time.’

Disitulah Heidegger menjabarkan, ‘berpikir’ dalam konteks filsafat itu sejatinya bukanlah ‘berpikir’. Hingga dia mengatakan “sains tak berpikir.” Inilah kebenarannya. Karena memang filsafat materialisme telah meninggalkan ‘kebenaran.’ Filsafat kini telah tercerabut dari akarnya: akal itu sendiri. Alhasil ini yang melahirkan nihilisme dan devolusi tadi. Semoga anda bisa memahami alurnya.

Karena masa Socrates, merekalah para filosof illahiyyun (filsafat ketuhanan). Filsafat masih bersandar pada akal, yang dianggap sebagai ide bawaan, yang sumberya dari Tuhan. Plato dan Aristoteles masih merujuk ke sana. Tapi modernitas, telah meninggalkan ‘ide bawaan’ ataupun ‘akal bawaan.’ Karena menganggap bahwa ‘segala sesuatunya adalah materi.’ Apa yang dianggap ‘kebenaran’, hanya bersumber dari yang lahir dari inderawi. Itulah materi. Alhasil, pijakan ‘kebenaran’ bukan lagi mengacu pada rasionalitas (akal) itu sendiri. Melainkan telah bergeser pada nafsu.

Kembali pada apa yang dijabarkan oleh Plato tadi. Dia menggambarkan tiga tingkatan: kepala, dada dan perut. Kepala itulah akal. Dada itulah kehendak dan perut itulah nafsu. Modernitas, tak lagi bersandar pada kepala (akal). Melainkan lebih bersandar pada nafsu. Rasio manusia, dibelokkan untuk memenuhi hasrat nafsunya.  Karena memang rasio, bisa saja dibelokkan. Seperti kata Heidegger, bisa dibuat memadai dan tak memadai. Tergantung bagaimana keinginan manusia.

Makna lainnya, filosof post modernisme, tentu telah meninggalkan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Dan mewujud menjadi suatu ilusionis yang menghasilkan sistem yang buruk, dan melahirkan generasi yang psikosis. Ini yang disebut Ian Dallas, sebagai generasi yang devolusi.

William Friedmann dalam bukunya, ‘Legal Theory” membuktikan. Dia bilang, hukum di masa sebelum abad 19, kerap dibuat oleh filosof hukum, agamawan dan sejenisnya. Tapi sejak abad 19 sampai kini, hukum disusun oleh praktisi hukum. Nah, disini kuncinya. Hukum, teori hukum tentunya, hanya buah dari kehendak nafsu manusia yang merupakan praktisi hukum. Karena mementingkan hasratnya. Makanya hukum tak lagi memikirkan tentang ‘kebenaran.’ Melainkan kepentingan. Ini yang tampak dalam keseharian di pengadilan sekarang. Di sana, orang tak lagi mencari ‘kebenaran materil.’ Melainkan berfokus pada ‘kemenangan’ dengan segala cara. Kebernaran ala rasionalitas, tak lagi memuaskan hasrat nafsunya. Tapi ‘kemenangan’ atas perkaranya, itulah yang jadi tujuan utama. Inilah bentuk modernitas yang telah menanggalkan ‘kebenaran.’

Dasar situasi ini yang membuat manusia modern mengejar ‘kebahagiaan’ dengan hanya menuju pada fakultas ‘nafsunya’. Socrates, Plato, Aristoteles, masih mengajarkan bahwa ‘kebahagiaan’ manusia dikejar dengan memenuhi fakultas ‘akal’. Sementara manusia modern, buah dari nihilisme filsafat, kini berorerientasi bahwa ‘bahagia’ itu dengan jalan memenuhi fakultas ‘nafsu syahwati’-nya. Bukan lagi akal. Inilah untuk memahami kalimat Ian Dallas di pembuka.

Karena hal itu membuat tercerabutnya nilai-nilai. Menjadi kehilangan nilai. Tak ada lagi rasionalitas. Karena sejatinya jamak manusia modern, bukan lagi berfilsafat, tak lagi berpikir. Melainkan hanya sibuk dengan nafsu syahwatinya, yang dianggap sebagai orientasi. Karena akal bukan lagi memimpin, sebagaimana teori Plato tadi. Karena filosof, bukan lagi dianggap pemimpin ideal. Plato menggambarkannya demikian. alhasil, kini ‘pemimpin’ tak lagi dinilai dari cara berpikirnya, melainkan dari kehendak nafsu keinginan manusia. Dari inderawinya, dari penampilannya, dari pencitraannya. Inilah degradasi dalam kepemimpinan. Inilah yang disebut Nietszche sebagai nihilisme. Karena sejatinya filsafat telah tercerabut dari akalnya.

Padahal kebenaran sejatinya, muncul tatkala manusia mementingnya ‘qalbu’nya. Ini bagian terdalam dari batin. Yang tak terjamah oleh filosof, yang bersandarkan pada ide bawaan atau akal bawaan. Inilah pengajaran dari Wahyu. Karena tubuh manusia terdiri dari qalbu, akal dan nafsu. Walaupun penjabaran lainnya bisa memanjang, tapi itulah anatomi paling gamblang. Fakultas yang harus diisi adalah fakultas qalbu. Bukan fakultas akal. Apalagi fakultas nafsu syahwati. Dan, pengajaran untuk memenuhi rahasia qalbu itu terletak pada tassawuf. Disitulah metode pengajarannya terbuka dan tersimpang. Jalan inilah yang memberikan kemenangan bagi manusia. Untuk memahami bagaimana ‘kebenaran’ itu yang hakiki. Sementara modernitas, menyandarkan manusia untuk memuaskan hasrat syahwatinya. Bukan lagi ‘berpikir.’

Tassawuf itulah jalan kembali menuju ‘freiheit’. Kebebasan sejati.

*Penulis adalah Advokat dan Direktur Eksekutif ‘Mahkamah Institute’