Menteri Sosial Mengapresiasi Kinerja Sakti Sos

JAKARTA, theindonesiatimes – Menteri Sosial Juliari P. Batubara menyampaikan kebanggaan dan simpatinya kepada Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) yang bekerja penuh dedikasi dan pengorbanan.

Menurut Mensos, para pekerja sosial ini ikut mengurai masalah sosial yang rumit, khususnya masalah anak dan Sakti pesos merupakan garda depan Kementerian Sosial.

Mensos juga menekankan bahwa, keberadaan Sakti Peksos penting sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo untuk membawa Indonesia maju.

“Keberadaan mereka akan memastikan bahwa birokrasi melayani masyarakat. Pesan Presiden Joko Widodo, masyarakat harus mendapat manfaat dari berbagai program Kementerian Sosial. Termasuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa mendapatkan kehidupan yang baik,” kata Mensos dalam arahannya pada kegiatan Bimbingan dan Pemantapan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) di Jakarta, Senin sore (11/11).

Dalam kesempatan ini, Mensos juga menyoroti pentingnya Kementerian Sosial memberikan perhatian dan layanan kepada anak, sejalan dengan masih kompleksnya masalah yang dihadapi anak. “Kesejahteraan anak yang kita impikan, saat ini masih jauh dari realita. Kita semua pasti pernah mendengar terjadinya berbagai kasus yang merugikan anak,” kata Mensos.

Mensos menyebut beberapa contoh kasus kekerasan terhadap anak, termasuk orangtua yang menelantarkan atau membuang anaknya. Untuk kebutuhan dasar pun, kata Mensos, masih banyak anak Indonesia yang tidak bisa sekolah, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan bahkan tidak memiliki Akta Kelahiran yang merupakan hak sipil anak yang pertama.

Dalam kesempatan ini, Mensos juga menyoroti pentingnya Kementerian Sosial memberikan perhatian dan layanan kepada anak, sejalan dengan masih kompleksnya masalah yang dihadapi anak. “Kesejahteraan anak yang kita impikan, saat ini masih jauh dari realita. Kita semua pasti pernah mendengar terjadinya berbagai kasus yang merugikan anak,” kata Mensos.

Mensos menyebut beberapa contoh kasus kekerasan terhadap anak, termasuk orangtua yang menelantarkan atau membuang anaknya. Untuk kebutuhan dasar pun, kata Mensos, masih banyak anak Indonesia yang tidak bisa sekolah, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan bahkan tidak memiliki Akta Kelahiran yang merupakan hak sipil anak yang pertama.

Berbagai data menunjukkan bagaimana nasib anak masih sangat memprihatinkan. Kementerian Sosial melalui Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos), mencatat terdapat 11.088 kasus yang melibatkan anak per Oktober 2019. Selain jumlahnya, kedalaman kasus sendiri dirasakan cukup memperhatinkan bagi Mensos. “Semua persoalan yang dihadapi anak-anak tersebut merupakan bagian tugas kita,” Mensos menekankan.

Mensos mengingatkan, anak-anak berhak berada dalam lingkungan yang menjamin keselamatan dan tumbuh kembangnya. Hak lainnya adalah anak juga harus berpartisipasi dalam penentuan kebutuhan, keinginan dan memberikan aspirasi dalam setiap aspek kehidupannya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Edi Suharto menyatakan, tugas dan fungsi Sakti Peksos adalah melaksanakan pencegahan, respon kasus dan manajemen kasus.

“Dalam upaya perlindungan anak, Kemensos mengembangkan Program Rehabilitasi Sosial Anak (PROGRESA) yang memuat subtansi pelayanan rehabilitasi sosial bagi anak secara holistik, sistematik, dan terstandar,” kata Edi.

PROGRESA memiliki 4 (empat) komponen yaitu Rehabilitasi Sosial, Pendampingan Sosial, Dukungan Teknis dan Dukungan Aksesibilitas, dengan skema layanan rehabilitasi sosial tingkat lanjut.

Dalam PROGRESA menjelaskan bahwa rehabilitasi sosial meliputi rehabilitasi sosial dasar dan lanjut, serta penjelasan kewenangan rehabilitasi sosial dasar untuk Pemerintah Daerah dan rehabilitasi sosial lanjut untuk Pemerintah Pusat.

Kegiatan Bimbingan Teknis Satuan Bakti Pekerja Sosial diiikuti oleh 122 Sakti Peksos dari wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Kegiatan dilakukan agar Sakti Peksos memiliki kemampuan meningkatkan kinerja dan tanggung jawabnya. (Ivan)