Pandemi Tak Halangi Jadi Orang Tua Hebat, Gali Potensi Anak dan Jadi Idola Anak

JAKARTA, theindonesiatimes.com – Untuk bertahan pada kondisi apapun sebuah keluarga harus berketahanan dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan tersebut untuk bertahan. Terlebih dikala pandemi Covid-19 ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan terpengaruh baik dalam segi kesehatan, pendidikan maupun psikologis. Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam acara Live talkshow “Menjadi Orangtua Hebat dengan Gembira di Rumah Bersama Keluarga” mengatakan bahwa sebagai orang tua kita harus bisa menyesuaikan diri, berempati, dan mendidik anak sesuai dengan zamannya.

Orang tua juga harus mempunyai fleksibilitas yang tinggi agar bisa menjadi sahabat anak, sahabat remaja. Sehingga anak-anak bisa dekat dengan orang tua dan menjadi penerus bangsa yang sehat, bahagia, berkualitas, maju dan berdaya saing tinggi.

“Orang tua itu paling penting itu harus menyadari bahwa anak-anak dan cucu-cucu kita itu adalah generasi yang memang beda. Cara berpikirnya beda, cara bergaulnya beda, kemudian ekosistemnya beda, itu yang harus disadari. Oleh karena itu sehingga kalau tadi pertanyaannya misalkan gimana ini orang tua itu memandang akhirnya jawabannya ya kita harus ngalah dan nyesuaiin diri dengan kondisi dan ekosistem sekarang tetapi ada hal-hal yang sifatnya nilai-nilai luhur yang tidak lekang oleh jaman. Nilai-nilai luhur ini yang tidak terpengaruh oleh teknologi. Coba misalkan bicara tentang kejujujuran, kejujuran itu kan mau teknologi yang canggih mau yang jaman dulu, tetap harus ada nilai luhur,” jelas Hasto.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. yang juga lebih dikenal Kak Seto juga menekankan pentingnya suasana yang penuh persahabatan dan keakraban dalam sebuah keluarga.

“Orang tua diharapkan bisa menjadi idola bagi putra putrinya, bisa menjadi contoh dan pendengar yang baik untuk selalu instropeksi diri menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Menurut Kak Seto, manusia mempunyai daya adaptasi yang tinggi yang pada akhirnya mebuat mereka mempunyai daya lenting yang kuat sekali, tidak mudah menyerah, tidak mengeluh tetapi penuh rasa syukur. Itulah yang bisa dikembangkan pada setiap orang tua.

Kak Seto juga menuturkan bahwa selama pandemi ini ternyata banyak ditemukan orang-orang tua yang menyatakan bahwa dengan adanya pandemi ini mereka menjadi lebih akrab dengan keluarganya khususnya anak-anak. Mereka bisa menemukan potensi-potensi diri masing-masing anak yang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Dengan melihat kelebihan-kelebihan anak inilah yang dikatakan orang tua hebat, tambahnya.

“Dan mungkin yang nggak boleh lupa selain parenting skill juga couple skill, ketrampilan berpasangan. Kami mendapat data pandemi ini banyak perceraian meningkat. Nah ini membuat anak terluka hatinya. Jadi mohon selain dekat dengan anak ayah dan bunda juga tetap mesra. Jadi saling memeluk di depan anak, itu diteladankan. Saling menghargai, jadi itu yang juga tetap dijaga. Jadi keluarga ini bukan hanya orang tua ke anak tapi antar orang tua,” tutur Kak Seto.

Selain itu, Hasto juga membagikan beberapa tips bagi para orang tua dengan keterbatasan waktu bertemu dengan anak karena alasan pekerjaan. Seperti misalnya dari orang lain yang telah mengapresiasi kinerja kita, anak menjadi bangga dan menjadikan kita sebagai model baginya. Dengan syarat jangan sampai anak merasa tidak nyaman saat kita ada bersamanya malah sebaliknya yaitu anak sangat bahagia ketika kita bersama mereka.

“Sebetulnya ngukurnya gampang cuma filosofi yang disampaikan Ka Seto tadi itu kan cukup dalam, cukup tinggi, dan butuh orang tua itu betul-betul orang tua yang hebat. Sabar, legowo, inilah bukti bahwa orang tua itu butuh berlatih loh. Makanya kita punya web siapnikah. Tujuannya untuk melatih calon orang tua ini. Sebetulnya persis seperti yang disampaikan Kak Seto tadi bahwa bisa mempunyai empati tinggi terhadap anak. Kalau orang tua hidup di alamnya sendiri kan ga akan anak seneng. Makanya caranya orang tua jangan hidup di alamnya sendiri, harus ikut menjadi ikut di alamnya anak-anak. Ini kan legowo, untuk keluar dari dirinya itu kan perlu legowo yang luar biasa totalitas. Kan kita medowngrade kan diri,” tutup Hasto. (Ivan)