Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum: “Hukum Harus Taat Azas”

Jakarta,- Buku berjudul “Bocah Kebon Deli Deli” terpampang rapi di rak buku ‘biografi’ di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta. Buku itu berisikan biografi seorang Hakim Agung yang bernama Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum. Gaya Bahasa penulisan buku itu sangat menarik. Sehingga pembacanya seperti membaca sebuah novel panjang, berisikan kisah perjalanan hidup Supandi.

Tapi didalamnya tak sekedar cerita kehidupan Supandi yang penuh liku dan dipenuhi kisah ‘Takdir bekerja’. Melainkan juga syarat akan makna pesan tentang dunia hukum kita sekarang.

Membaca buku tersebut, dapatlah ditarik kesimpulan tentang bagaimana dunia hukum kita yang mengalami carut marut tersebut. Prof. Supandi sempat menceritakan pengalamannya kala beliau mengikuti persidangan ujian skripsi Strata 1 di Fakultas Hukum USU. Kala itu, salah seorang dosennya, Prof. Dr. Bachtiar Agus Salim menceritakan tentang pentingnya hukum harus taat azas. Dalam buku tersebut selengkapnya dikisahkan:

“Hukum kita harus taat azas, taat hukum. Karena azas, tidaklah bisa diubah. Azas itulah yang menjadi panduan hukum. Karena hal inilah yang mempengaruhi bagaimana keadilan itu ditegakkan. Apalagi didunia peradilan. Hal ini sangat membuat saya tertarik sekali. Ini terkait dengan “integrated criminal justice system” dalam penanganan perkara pidana, misalnya. Di dalamnya ada beberapa sub sistem. Sub sistem penyelidikan, sub sistem penuntutan sampai sub sistem peradilan. Ini harus saling berjalan sinkronisasi dengan baik. Jika salah satu sub sistem ini timpang, maka akan berakibat fatal pada “law enforcement”-nya. Hasilnya akan berdampak buruk pada keadilan.

Ini saya dapat dari Prof. Bachtiar Agus Salim tahun 1980. Ketika saya mengajukan judul skripsi saya untuk bisa tamat dari FH USU. Saya menyusun skripsi berjudul “Pembajakan Udara ditinjau dari sudut hukum pidana.” Dengan studi kasus beberapa peristiwa kecelakaan pesawat dan beberapa hal dalam peristiwa di dunia penerbangan yang memiliki unsur pidana.

Saat itu, Prof Bachtiar memberi saran kepada saya,

“Mas, ini hukum pidana. Jika sama-sama kita panjang umur, kita akan melihat bagaimana penegakan hukum pidana di Indonesia ini tidak akan tegak berjalan dengan sempurna,” katanya.

“Kenapa  bisa begitu, Prof?” tanya saya.

“Karena di Rancangan Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang disahkan, setelah saya lihat, roh dan serta semangat integrated criminal justice system, sudah dimatisurikan di sana,” begitu katanya.

Saya masih belum paham apa yang dia maksud.

“Apa alasannya, mati surinya bagaimana, Pak?” tanya saya lebih jauh.

“Anda bisa lihat, susunan ruang sidang di pengadilan kita seperti apa. Justru disitulah jiwa atau roh dari integrated criminal justice system yang seharusnya,” jelasnya.

Saat itu saya masih belum bisa memahaminya juga. Apa yang dimaksud oleh Proffesor itu. tapi setelah saya menggeluti dunia hukum pidana selama 11 tahun, menjadi hakim, disitu saya baru menyadari apa yang dimaksud oleh Professor Bachtiar Agus Salim tersebut.

 Dalam ruang persidangan, hakim berada di tengah dengan posisi yang lebih tinggi. Jaksa Penuntut Umum berada di sisi sebelah kanan hakim. Dan Penasehat hukum berada di posisi sebalah kiri hakim. Terdakwa ada di tengahnya. Polisi sebagai penyelidik berada di garis luar. Inilah sejatinya roh dari integrated criminal justice system yang dibangun. Tapi dalam KUHAP, beliau mengatakan, bahwa polisi, jaksa, penasehat hukum dan hakim, dibuat dalam kedudukan setara duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Inilah yang menurut Prof. Bachtiar terjadi matisuri roh integrated criminal justice system dalam upaya penegakan hukum pidana di Indonesia. Dan itu bisa kita lihat sekarang faktanya.

Jadi yang saya petik pelajaran adalah dunia penerbangan dan dunia hukum memiliki korelasi yang sama. Dalam dunia penerbangan, kepatuhan terhadap sistem adalah bersifat mutlak. Dalam dunia hukum, kepatuhan pada taat azas pun haruslah bersifat mutlak. Di penerbangan, jika sistem tak dipatuhi semenit saja, maka akan terjadi akibat fatal pada penerbangan. Demikian pula pada bidang hukum. Hanya kefatalan-nya tidak berlangsung seketika itu juga. Itu bedanya.”

Buku “Bocah Kebon Dari Deli” berisikan kisah biografi Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum. Buku yang menarik, ditulis bak kisah novel. Banyak pesan bermakna di dalamnya.

Bisa dibilang, pesan dari Prof. Bachtiar Agus Salim tersebut menuai kenyataan. Pasalnya kini dunia hukum tengah mengalami problematika besar dalam law making process hingga law enforcement. Prof. Supandi, dalam buku tersebut menekankan pentingnya agar hukum harus sesuai azas. “Jika hukum tak taat azas, maka akan terjadi bencana,” katanya. Dia menggambarkan tatkala dirinya bekerja di Perhubungan Udara sebagai controlling pesawat terbang di bandara. Di sana, ceritanya, bekerja harus sesuai dengan buku petunjuk dan tidak boleh menyimpang satu senti pun. Jika terjadi penyimpangan, berakibat pesawat bisa jatuh dan tatakelola bandara terhadap lalu lintas pesawat bisa kacau balau. “Demikian juga dunia hukum, jika tak taat azas, maka terjadi kerunyaman dalam dunia hukum,” tegasnya.