Renjana Biru di Morotai

The Indonsia Times, Jakarta. Omne vivum ex oceanic –sumber kehidupan berasal dari laut. Jalanidhitah sarva jivitam –laut merupakan sumber kehidupan. Itulah pedoman hidup, Kirana Kejora, seorang Sarjana Perikanan, yang mengaku ‘tersesat’ jadi novelis. Bahkan kini menjadi seorang writerpreneur. Sudah 16 tahun ini, Kirana Kejora berkiprah melaut di samudra literasi. Kirana merasa, banyak anak bangsa NKRI yang tidak sadar sebagai bangsa bahari. Banyak anak bangsa NKRI yang masih memunggungi laut. Maka saatnya kini generasi muda melihat laut. Sebab laut adalah kehidupan, juga masa depan. Banyak generasi muda yang masih tidak peduli lingkungan, apalagi mencintai laut. Sebagai Pegiat Literasi yang beberapa novelnya telah difilmkan, Kirana terus berjuang mewujudkan cita-citanya dengan Gerakan Literasi Bahari untuk Konservasi Bahari.


Pekerjaan sebagai periset sosial ekonomi perikanan, membuatnya harus sering melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Lulusan cum laude dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitan Brawijaya ini tak mau rugi –riset hanya jalan-jalan, wawancara dan menghasilkan laporan saja. Sudah jalan jauh, mahal dari sisi tenaga, waktu, dan tentu saja materi, membuatnya berpikir, harus untung. Dasarnya jiwa menulis fiksi sudah dimiliki sejak kelas tiga SD, maka, dia wajib menjadikan novel, setiap perjalanan risetnya. Memang tak mudah, namun tak susah, dan akan menjadi indah bila dia kemas tulisannya dengan konsep writerpreneur. Dari pra produksi (riset, tujuan), produksi (kemasan) hingga post produksi (promosi), dia harus kawal. Sebab baginya, buku adalah anak. Susah payah melahirkan dengan riset mahal, menulis berdarah-darah, setelah lahir, lalu dibiarkan, bajunya buruk, gizinya pun demikian. Maka, buku itu pun akan mati, alias tidak laku. Karena bagi perempuan kelahiran Ngawi ini, menulis, bukan hanya hobi, tapi sudah menjadi profesi.


Setelah beberapa bukunya best seller nasional dan menjadi film –Air Mata Terakhir Bunda (2013), Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2015), dan Yorick (2019 film segera tayang), dia telah mempersiapkan novel Rindu Terpisah di Raja Ampat ke film layar lebar. Namun pandemi covid, membuat proses produksi menjadi tertunda. Rindu Terpisah di Raja Ampat merupakan novel karya Kirana Kejora yang terinspirasi oleh pengalaman pribadinya menjadi mahasiswi Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang saat melaksanakan orientasi pengenalan studi kampus (OPSPEK) dan riset sosek perikanan di Raja Ampat, Papua. Novel ini menawarkan eksotisme keindahan bawah laut dan cara menyelam yang benar, berikut kisah cinta rumit tokoh-tokohnya, antara lain Rindu Eidelweis, Ganesha Airlangga, dan Karang Biru Jalesveva.


Kisah bermula dari penugasan kepada Rindu dari sebuah perusahaan konsultan perikanan dan kelautan untuk melakukan riset berbasis survey terhadap efektivitas bantuan Kapal Inka Mina di Raja Ampat. Juga menulis artikel untuk majalah Sea Paradise, sebuah majalah perikanan dan kelautan bertaraf internasional. Narasi ilmiah yang sebagian besar ada di novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah untuk dicerna, seperti istilah-istilah tentang diving dan keanekaragaman hayati di lautan, jenis ikan, terumbu karang, dan ekosistem yang melingkupinya. Alur secara linier, hanya sekali menggunakan teknik flash back ketika Rindu menjalani OPSPEK di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya. Lalu berhadapan dengan senior yang jadi “singa kampus”, Karang. Dan kembali bertemu di sana saat Karang menjadi dive master, lalu mereka terpaksa melakukan penyelaman bersama demi sebuah misi.


Kekuatan sintesis dari novel ini adalah memadukan esai ironis, narasi, kenyataan historis, aliran fiksi menjadi kesatuan tunggal sehingga kekuatan sintesisnya mengombinasikan berbagai hal, untuk menjadi cerita yang menarik dari awal hingga akhir. Aliran fiksi menjadi bagian dari novelistis saat berkisah tentang cinta jarak jauh antara Rindu dan Ganesha, serta cinta lokasi antara Rindu dengan Karang. Mengayun, mengajak menyelam dengan tenang, menikmati surga laut Raja Ampat dengan benar, untuk menjaga laut beserta istana biotanya. Pesan sebagai bangsa bahari, sarat di novel best seller ini.