SEJARAH KELAM ‘CODE NAPOLEON’

Melongoklah pada ‘Code Napoleon.’ Ini berisi tiga kitab hukum babon. Ada Code Penal, Code Civil dan Code de Commerce. Ketiganya disebut Code Napoleon. Mengapa Code Napoleon? Karena Napoleon Bonaperte yang kali pertama mengadopsinya dan memberlakukan kembali. Itu pasca Revolusi Perancis, 1789. Kejadian besar itulah yang mempengaruhi dunia modern. Dari sanalah modernitas menemukan sistem. Dari situlah rasionalitas, berbentuk menjadi sistem.

Revolusi Perancis, ini kudeta pada sistem hukum sebelumnya. ‘Vox populi vox Dei’ seolah digaungkan terang. Tapi itu kudeta pada adagium sebelumnya: ‘Vox Rei vox Dei’ (Suara Raja Suara Tuhan). Karena kaum Eropa modern, tak lagi mau tunduk pada Raja Monarkhi. Masa itu, Gereja sebagai pengendali segala struktur kehidupan. Melongoklah Abad pertengahan. Di belahan bumi barat, –maka disebut orang barat–, sibuk dengan rennaisance. Berpikir kembali. Bukan maknanya selama ini mereka tak berpikir. Melainkan barat menggunakan filsafat. Rasionalitas. Logos atau logika. Merujuk pada pengajaran Socrates, Plato, Aristoteles yang berasal masa Yunani kuno. Pengajaran itu sebelumnya masuk ke Islam lewat fase Mu’tazilah. ingat, sebelum rennaisance di barat, Mu’tazilah lebih dulu menggunakan filsafat. Rennaisance itulah penerus Mu’tazilah. Cara berpikir rasionalitas. Al Farabi dikenal guru kedua setelah Aristoteles. Ibnu Sina mengajarkan teori emanasi. Ibnu Rusyd mengenalkan ‘Kebenaran Ganda’, kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala filsafat. Karena filosof dianggap bisa menempuh kebenaran bak nabi. Dengan akal pikirannya, bisa menemukan ‘Tuhan’. Maka filosof, kata Al Farabi, bisa disetarakan dengan nabi, dalam hal menemukan kebenaran. Ini yang disebut ‘kebenaran ganda.’

Tapi mu’tazilah kemudian disetop. Imam Asy’ari, Imam Ghazali, Shaykh Abdalqadir al Jilani, dan ulama besar lainnya, kembali membawa muslimin pada tassawuf. Jalur filsafat tak lagi diminati. Hasilnya bukan jaman keemasan Islam menghilang. Itu hanya pikiran orientalis. Mereka mematok jaman keemasan Islam tatkala mengadopsi filsafat. Padahal selepas mu’tazilah, berdirilah kesultanan Mamluk, Seljuk, Utsmaniyya sampai kesultanan di nusantara. Islam membahana. Bukan makin surut, seperti tudingan filosof.

Filsafat kemudian dipungut kaum barat. Mereka menyebutnya rennaisance. Teori Al Farabi, Al Kindi, Ibnu Rusyd digali-gali lagi. Buku-buku sisa “Madinat Azzahra’ di Cordoba, banyak-banyak di bawa ke barat. Thomas Aquinas mengutip cara berpikir rasionalitas Avveroes. Dia memulai memfilsafat-kan Nasrani. Maka dikenal teori ‘dua bilah pedang’. Sama dengan teori ‘kebenaran ganda’ tadi. Aquinas menyebut, kebenaran ala Wahyu yang dihembuskan Gereja. Dan kebenaran ala filsafat. Tapi filsafat kemudian diminati tajam kaum barat. Karena mereka ingin lepaas dari dogma Gereja Roma. Filsafat kemudian digunakan untuk melawan dogma Gereja. Alhasil muncul banyak teori-teori. Karena bak ajaran Plato, segala sesuatunya harus diteorikan lebih dulu, agar bisa dinyatakan ‘benar’. Idea. Rasio sebagai pondasi. Kebenaran merujuk pada pijakan inderawi semata. Itulah kebenaran ala lahiriah.

Alhasil, segala hal harus di defenisikan ulang. Muncullah banyak akrobatik teori. Mulai Francis Bacon, Descartes,  Imanuel Kant sampai Auguste Comte. Descartes mendefenisikan, filsafat itulah ajang bahwa Tuhan dan manusia masuk sebagai ranah penyelidikan. Manusia dan Tuhan harus didefenisikan ulang. Menurut akal pikiran manusia. Alhasil rennaisance melahirkan filosof ateisme. Masa modern, ini yang disebut filsafat materialisme. Imam Ghazali, dulu telah memberi gambaran. Filosof itu ada tiga jenis. Filosof dhahriyyun (filsafat ateisme), filosof thabi’iyyun (naturalisme) dan filosof Illahiyun (ketuhanan). Nah, Socrates, Plato, Aristoteles, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lainnya, ini kategori filosof illahiyyun. Yang masih mencari kebenaran Tuhan, dari logika. Tapi filsafat renaisannce, didominasi filsuf dhahriyyun. Yang malah mengeliminasi kebenaran Tuhan. Ujungnya itulah filsafat materialisme. Nihilisme –seperti istilah Nietszche–.

Maka, kebenaran abad pertengahan barat pun di defenisikan ulang. Bacon merumuskan, ‘Aku Ada (being) maka Aku Berpikir (Thinkhing).’ Segala sesuatu, dianggap benar jika manusia telah men-teorikannya. Tapi Descartes membaliknya. Menjadi Cogito ergum sum. Aku berpikir maka aku ada. Di uji lebih dulu dalam alam rasionalitas, maka dianggap benar. Disitulah empirisme menjadi pondasi. Akal rasio menjadi pijakan awal tentang something (sesuatu). Kant melengkapinya dengan ‘ratio scripta’. Segala sesuatu harus mendapat ujian kebenaran, dengan akal pikiran. Termasuk urusan hukum, kewenangan Tuhan, sampai apa yang layak menjadi aturan.

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Eropa kini, mengatakan, “Filsafat yang dulunya digunakan untuk kosmosentris, berubah menjadi menteorikan tentang kekuasaan.” Maka perihal ‘Vox Rei Vox Dei’ pun diteorikan ulang. Benarkah Tuhan itu berkuasa di dunia? Dari Cogito ergo sum, Tuhan diibaratkan bak pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Karena masa Mu’tazilah, melahirkan qudrah (kehendak) dan iradah (daya) berada pada manusia. Bukan pada Tuhan. Inilah yang difatwakan Imam Asy’ari sebagai suatu kesesatan. Karena qudrah dan iradah, berada pada wewenang Tuhan. Bukan manusia. Dari situlah urusan aqidah, harus diselamatkan. Maka muncul sematan “Ahlul Sunnah Wal Jamaah”. Urusan yang aqidah-nya tak menyimpang merujuk pada Mu’tazilah.

Tapi rennaisance, tak terbendung. Melahirkan teolog Nasrani, yang berujung pada eliminasi kebenaran ala Wahyu. Kedaulatan Tuhan digeser. Karena Tuhan, dianggap tak punya qudrah dan iradah, mengatur manusia di dunia. Muncul-lah teori Machiavelli. Bahwa kekuasaan itu harus berlangsung stabil. Dalam Il Principe, dia menelorkan istilah baru “lo stato”. Itulah yang dikenal sebagai ‘state’ (negara). Montesquei, merumuskan lagi dengan ‘trias politica’. Kekuasaan akan seimbang, jika ada saling chekc and balances antara pemerintah. Maka dikenal eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ingat, ini hanya teori-teori dari filosof. Bukan dari ulama. Karena rennaissance, tak melahirkan ulama. Melainkan filsuf materialisme alias filsafat ateisme.

Thomas Hobbes dengan Leviathan, membawa pada teori kedaulatan rakyat. Bahwa manusia yang berhak membuat aturan hukum. Bukan Tuhan. Karena kewenangan berada pada manusia. Dari Leviathan, Bodin pun melengkapi dengan ‘soverighnity’ (kedaulatan). Itu merupakan kehendak manusia. Alhasil dirumuskan oleh Rosseou dengan ‘le contract sociale’. Kontrak sosial. Rakyat harus membubuhkan kontrak bersama untuk aturan. Bukan lagi merujuk kitab suci. Dari sanalah lahir: konstitusi (constitutio). Tapi masa-masa, muncul perlawanan. Mereka kaum yang bertahan pada ‘virtue’ (futtuwa) yang melekat pada barat sebelumnya. Ada Dupplesis Mornay yang setia pada aliran “monarchomach’. Ada pula Robert Deveroux, yang mempertahankan Virtue sampai akhir hayatnya di Monarkhi Inggris. Tapi gempuran filsafat membabi buta. Tak terkendali. Karena rasio memang bisa dibuat panjang atau pendek. Dibuat memadai atau tak memadai. Puncaknya itulah melahirkan revolusi Perancis. Raja dikudeta. Gereja diporakporandakan. Uskup dibantai, sampai penentang setia Nasrani digenosida di La Vendee, pinggiran Paris, Perancis. Mereka dipaksa melakukan ‘baptisme patriotisme’, tapi melawan. Muncullah produk rennaisance, itulah ‘Lo Stato’ ala Machiavelli tadi. State menjadi pondasi kehidupan kebersamaan. Robbiespierre, eksekutor revolusi Perancis yang membantai bangsawan dan agamawan Nasrani, menjadikan Rosseou sebagai kitab panduannya. Maka jadilah format baru di masa modern, ‘constitutio’ dan ‘state’. Inilah anak kandung dari rennaisance. Anak kandung dari filsafat rennaisance. Filsafat dahriyyun, seperti kata Ghazali, di abad 12 lalu.

Robbiespierre kemudian dikudeta. 25 bankir –pedagang uang—mengkudetanya diam-diam. Didapuklah Napoleon Bonaperte sebagai head of state Perancis baru. Napoleon kemudian menjadi pemimpin. Dia dimodali 75 juta Franc emas oleh para bankir tadi. Tapi uang itu bukan hibah. Melainkan utang berbunga. Napoleon harus menggantinya, saban tahun. Bankir tadi berubah menjadi leasing. Karena mereka meminta hak untuk mengatur uang Republik Perancis. Mereka mendirikan Bank of France, bank sentral Perancis. Monopoli bankir atas uang suatu negara (state). Meniru yang telah terjadi di Inggris, seabad sebelumnya. Dari sanalah, Napoleon memerintah, tapi langsung punya utang nasional. Bagaimana peristiwa itu bisa disebut sebagai hukum? Maka seorang advokat Inggris, Barryer, diminta membuat kontraknya. Kontrak antara Napoleon dan para bankir tadi. Maka, untuk menabalkannya, hak Bank sentral tadi masuk dalam ‘constitutio’. Karena konstitusi bisa dirancang dan dibuat sekehendak manusia. Bukan merujuk lagi pada qudrah Tuhan.

Constitutio itulah rujukan dalam kehidupan bersama. Le contract sociale. Seperti teori Rosseou. Tapi harus ada hukum penjabarannya. Napoleon tak habis pikir. Dia menugasi beberapa jurist, mencari kitab hukum yang bisa digunakan. Karena Perancis baru, belum memiliki hukum. Hukum Gereja, sudah tentu dikudeta. Disingkirkan. Karena qudrah dan iradah bukan lagi di tangan Tuhan. Melainkan dianggap manusia yang menentukan. Napoleon membentuk tim peneliti untuk urusan hukum itu. Diangkatlah Jean Jaqcues Regis sebagai ketua tim. Beberapa bulan bekerja mencari, mereka menemukan suatu kodifikasi hukum tertulis yang dibuat Kaisar Justianus I. Ini Kaisar Romawi abad 4 lalu. Kaisar yang bertempat di Konstantinopel. Bukan Roma. Dikenal dengan Code Justianus. Ini kodifikasi hukum tertulis yang dibuat Romawi, selepas masa Julius Caesar. Code Justianus itulah dikodifikasi ulang. Maka dibuat judul baru: Code Napoleon.

Isi Code Justianus itu berupa tiga kitab hukum babon sejak masa Babilonia. Itulah Code Civil, Code Penal, dan Code de Commerce.

Perancis kemudian menganeksasi Kerajaan Belanda. Mereka ekspansi ke beberapa kerajaan Eropa. Belanda pun dikuasai. Termasuk Hindia Belanda. Tampaklah beberapa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, berasal dari Perancis. Itu fase ketika Napoleon mengambil alih Belanda. Nah, jaman itulah Hindia Belanda mengimpor Code Napoleon di bawa ke nusantara. Belanda memberi judul dengan bahasanya. Code Penal menjadi Wetboek van Starfrecht (WvS), Code Civil menjadi Burgelijk Wetboek (BW) dan Code de Commerce menjadi Wetboek van Koophandel. Nah, masa Indonesia berdiri, ketiga kitab hukum itu terus digunakan dengan paksa. Berubalah namanya menjadi WvK dengan Hukum Pidana (KUHP), Code Civil disebut KUH Perdata dan Code de Commerce menjadi KUH Dagang. Semuanya copy murni dari Code Napoleon. Code Napoleon itu berasal dari Code Justianus I, yang berisikan kitab hukum pagan.

Azas legalitas dalam pasal pertama Code penal itulah bukti qudrah dan iradah berada di tangan manusia. Bukan kehendak Tuhan. Karena manusia hanya bersedia menerima aturan, yang telah ada bunyi tertulisnya lebih dulu. Kitab suci, dianggap bukan aturan, jika belum dilegislasi dalam staatblaad. Sampai azas ini belum diubah, sampai kitab ini masih direvisi berkali-kali, qudrah dan iradah tak akan berubah. Karena manusia modern mempercayai bahwa Tuhan tak berkehendak. Melainkan di tangan manusia.

Fase Mu’tazilah dulu, filsafat digunakan, tak sampai merubah hukum buatan Tuhan. Tapi perihal qudrah dan iradah itu sudah menjadi urusan besar tentang aqidah. 

Irawan Santoso Shiddiq