Staf Ahli Kasad Gelar FGD Kemampuan Literasi Digital Prajurit TNI

JAKARTA, theindonesiatimes – Untuk mengatasi masalah dalam penggunaan media digital di lingkungan TNI AD maka prajurit harus mampu mengakses, menganalisis, mengevaluasi, mengkomunikasikan dan menghasilkan informasi untuk berbagai keperluan yang dikenal dengan Literasi Media atau Literasi Digital.

Kompleksitas masalah dalam literasi digital menuntut perlunya kajian strategis dan mendalam tentang Pengaruh Kemampuan Literasi Digital terhadap Profesionalisme Prajurit TNI AD. Dan untuk menindaklanjuti hal tersebut Staf Ahli (Sahli) Kasad Bidang Sosbudkumham dan Narkoba di bawah pimpinan Pa Sahli Tk III Mayjen TNI Marga Taufiq dan Pa Sahli Tk II Kasad Bidang Sosbud Brigjen TNI R.L. Simandjuntak menggagas untuk menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan beberapa satuan jajaran TNI AD antara lain Staf Umum Angkatan Darat, Balakpus, Kotama jajaran TNI AD, Puspen TNI dan Kemenkominfo RI.

Narasumber utama yang hadir dalam FDG ada Boni Pudjianto selaku Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo RI dengan bahan materi berjudul “Literasi Digital untuk Meningkatkan Profesionalisme di Lingkungan TNI” kemudian Wakapuspen TNI Laksma TNI Tedjo Sukmono, memberikan materi dengan judul “Literasi Digital Bekal Prajurit TNI Menghadapi Cepatnya Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Era Revolusi Industri 4.0” dan secara khusus Pangdam VI/Mulawarman yang diwakili Kapoksahli Pangdam VI/Mlw Brigjen TNI Erwin Herviana juga membawakan materi berjudul “Strategi Sosialisasi Literasi Digital Kodam VI/Mlw dalam rangka Meningkatkan Kecakapan Digital Prajurit TNI AD”.

Dalam acara FGD tersebut turut hadir Koorsahli Kasad Letjen TNI Wisnoe P.B., Paban Sintelad, Paban Spersad, Dirkumad, Para Perwira yang mewakili Sat Balakpus, Kodam I/BB, Kodam III/Slw, Kodam V/Brw, dan Kodam Jaya, Para Pa Sahli Tk III Kasad dan Pa Sahli Tk II Kasad, Paban Sahli Kasad, serta tamu undangan lainnya.

Koorsahli Kasad, Letjen TNI Wisnoe P.B. dalam sambutannya mengatakan bahwa prajurit TNI AD sebagai bagian dari masyarakat tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi karena sebagai makhluk sosial senantiasa berinteraksi dengan pengetahuan dan teknologi di bidang informasi dan komunikasi.

“Penggunaan media digital sebagai sarana untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi ditandai dengan munculnya blog, maupun platform jejaring sosial, sehingga prajurit TNI AD dapat membangun relasi dan koneksi tanpa mendapat halangan dari segi ruang dan waktu,” tuturnya di Aula Dharmagati Ksatria Jaya Pusbekangad, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (15/6).

Lebih lanjut ia katakan bahwa kondisi ini bisa berdampak positif dan negatif yaitu berupa terjadinya penyebaran informasi yang seharusnya tidak diketahui oleh umum (informasi yang bersifat rahasia) dan penggunaan medsos secara berlebihan untuk bergurau atau mengomentari sesuatu hal namun berakibat terjadinya ketersinggungan yang bersifat SARA.

“Penyebaran berita bohong (hoaks) dan provokatif serta penyebaran situs yang mengandung unsur pornografi dan perjudian yang berdampak langsung pada masyarakat dan kalangan prajurit.  Ke depan, TNI AD harus melakukan pemetaan literasi digital guna mewujudkan profesionalisme prajurit serta melaksanakan kontrol secara efektif agar prajurit tidak terlibat lagi masalah hukum, namun juga untuk hal-hal yang bermanfaat untuk membantu tugas satuan secara umum. Perkembangan teknologi digital merupakan suatu keniscayaan yang harus dimanfaatkan untuk mendukung tugas”, jelasnya.

Dirinya juga menyatakan bahwa pemetaan literasi digital di lingkungan prajurit TNI AD adalah suatu langkah yang sangat penting untuk mencari solusi terbaik terhadap penggunaan digital yang benar. Literasi digital yang baik dan benar akan mewujudkan profesionalisme prajurit TNI AD khususnya dalam menggunakan teknologi digital

Penyelenggaraan FGD terkait pengaruh kemampuan literasi digital terhadap profesionalisme prajurit TNI AD ini mendapat dukungan penuh dari Kemenkominfo, Puspen TNI dan satuan-satuan di Kotama Balakpus tentang bagaimana prajurit TNI perlu segera memiliki kecakapan literasi digital dalam mendukung tugas pokok satuan dan meningkatkan profesionalisme prajurit.

Rangkaian penyampaikan materi diskusi yang dilakukan oleh 3 narasumber membuat banyak peserta mengajukan beberapa pertanyaan dan tanggapan kritis terutama kepada pihak Kemenkominfo antara lain soal belum tergelarnya jaringan di Pulau Sebatik dan daerah terpencil lainnya, lalu soal lepasnya hacker ke pihak lain dan perlunya upaya nyata dalam take down terhadap permasalahan yang tidak pantas bagi organisasi ataupun profesionalisme prajurit TNI AD.

Dan di akhir FGD para prajurit TNI AD dapat merunut kesimpulan bahwa perubahan perkembangan teknologi informasi komunikasi di bidang militer/pertahanan diantaranya adalah sistem deteksi, jaringan komunikasi, data real time, dan persenjataan modern. Media sosial menjadi salah satu alat untuk menjadi bentuk ancaman nyata dalam perang modern. Strategi membangun kompetensi dan kapasitas literasi digital bagi prajurit TNI yaitu dengan mengakses, menyeleksi, memahami, menganalisis, memverifikasi, mengevaluasi, mendistribusi, memproduksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi. Sehingga tidak mudah terprovokasi dengan pola pikir dan pandangan kritis, tidak menjadi korban informasi hoaks.

Dengan berkembangnya teknologi maka terbagi ke dalam 3 perspektif, dimana teknologi yang bersifat membangun dan mengganggu berupa kejahatan siber dan berkembangnya hoaks. Indonesia sendiri memiliki angka 3,47 dari skala 5 dengan kualifikasi sedang untuk indeks literasi digital yang terbagi menjadi 4 kerangka pilar literasi digital antara lain digital culture, digital skill, digital safety, dan digital ethics. Dan literasi digital diperlukan untuk mendukung profesionalisme TNI dengan cara memahami dan mengetahui cara penggunaan platform digital untuk penyusunan tupoksi TNI, mampu memahami etika berinteraksi di ruang digital, mampu memahami dan mencegah celah-celah ancaman ruang digital yang berasal dari sisi pengguna, serta mampu mengamankan nilai-nilai Pancasila dan kebhinnekaan di dalam ruang digital. (Danur)