Supandi, Dari Hakim Agung Sampai Professor Hukum

Nama Supandi kini santer terdengar di suksesi Ketua Mahkamah Agung. Beliau digadang-gadang sosok yang layak melanjutkan perjuangan M. Hatta Ali. Siapa sebenarnya Supandi?

Sosok Supandi sejatinya tak asing bagi insan hukum Indonesia. Beliau dikenal hakim yang bersih. Menapaki karir dari bawah. Termasuk kisah hidupnya yang berasal dari generasi keturunan ‘koeli kontrak’ di tanah Deli, Sumatera Utara. Kemudian beliau sukses menapaki profesi hakim hingga kemudian menjadi Hakim Agung. Bukan itu saja. November 2019 lalu, beliau mendapat gelar Guru Besar Ilmu Hukum dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Perjalanannya bak novel yang penuh inspirasi.

Sebelum masuk sebagai hakim, Supandi mulanya bekerja di Perhubungan Udara. Karena dirinya waktu muda lulus dari Akademi Perhubungan. Bahkan hampir lulus di Akabri, tahun 1975. Namun terganjal di babak akhir. Kemudian dirinya mengikuti testing Akademi Perhubungan Udara. Dan dinyatakan lulus. Sembari bekerja di Perhubungan Udara di Polonia, Medan, dia melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Teman seangkatan beliau adalah Manahan Sitompul, yang kini menjadi Hakim di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.  

Kemudian nuansa pekerjaan di Perhubungan Udara membawa oleh Supandi kala menapaki karir sebagai hakim. Di dunia penerbangan, dia dididik untuk taat sistem, tunduk pada azas, dan zero kesalahan. Inilah yang dia bawa kala menjadi hakim. Ternyata perilaku inilah yang mewarnai Supandi sebagai hakim. Karena dia terbiasa disiplin, taat azas dan patuh pada sistem.

Tahun 1983, Supandi kali pertama menapaki calon hakim (cakim) di Pengadilan Negeri Medan selama dua tahun. Disitu dia sempat ditugaskan untuk membuat resume perkara yang ada, dan sebagai Panitera Pengganti di luar tanggungan Negara dengan status Calon Hakim. Pada 1985, Supandi pun ditempatkan di Pengadilan Negeri Sabang, Nanggroe Aceh Darusalam (NAD). Sabang adalah pulau terujung Indonesia. Supandi pun mulai menapaki sebagai hakim.

Bertugas di pulau terpencil, tetap dinikmati Supandi. “Tugas itu saya terima tanpa sakwasangka,” tuturnya. Dia bersama istri dan anak-anaknya bersatu padu berangkat menuju Sabang. Kala itu Pak Hatta Ali ( kini Ketua Mahkamah Agung) sudah lebih dulu menjadi hakim di sana. Dari Medan, Supandi berangkat menumpang bus “Kurnia” menuju Olele, Aceh. Dari situ kemudian nyambung naik kapal “Kualabate” menuju Sabang. Kapal itu kini telah tenggelam di dasar lautan. Supandi pun berangkat ke sana. Dia menaiki kapal yang gelombangnya setinggi rumah. Dia dan keluarganya pasrah saja.

Sampai di Sabang, dia disambut Pak Hatta Ali dan lainnya. Dia menempati rumah dinas hakim. Rumah itu kemudian dibersihkan bersama keluarganya. Tapi Supandi sempat terkaget. Begitu memasuki rumah itu, Supandi menerima pikulan air dari tetangganya, yang juga hakim. “Ini peninggalan hakim yang dulu menempati rumah ini,” kata sang hakim itu. Supandi pun kaget. Untuk apa pikulan air itu, dia masih belum sadar. Ternyata di daerah itu sangat sulit air bersih. Air ternyata harus diambil dari dataran rendah, dipikul. Itulah yang dialami oleh hakim-hakim di Sabang sana. Supandi pun berpikir situasi ini tak bisa begitu terus.

Suatu ketika, Supandi sempat bermain tenis dengan jajaran muspida Sabang. Kala itu dia berbincang dengan kepala PDAM Sabang. Kebetulan dia juga asal Medan. Percakapan pun terjadi. Supandi mengeluhkan sulitnya air di wilayah rumah dinas hakim itu. Sang Kepala PDAM berkisah bahwa sumbatnya air itu karena pipa yang dipakai peninggalan jaman Belanda, yang sudah tua. “Lalu jalan keluarnya gimana?” pinta Supandi. “Kita pasang saja paralon baru,” ucap Kepala PDAM itu. Alhasil besoknya petugas PDAM langsung memasang paralon baru. Air pun mengucur. Tak perlu lagi pikulan air. Hakim-hakim di rumah itu pun riang, karena tak mesti memikul air lagi.

Air pun melimpah. Supandi mulai bekreasi di rumah itu. Dia melihat di pekarangan rumah banyak bekicot. Dia kemudian memelihara bebek sebanyak 50 ekor. Bekicot itu menjadi makanan bebek. Alhasil bebek itu gemuk-gemuk sekali karena bekicot penuh protein tinggi. Lalu di pekarangan itu dia memasang sebuah shower untuk mandi bebek tadi. Supandi pun merombak rumah itu menjadi asri. Karena dia juga menanam pohon jambu, gambas, dan sayur mayur lainnya. Bukan itu saja. Saban pagi anak-anak Supandi pun bisa mengutip telur bebek tadi. Bisa sampai 40 buah saban pagi. Mereka pun riang gembira. Istri Supandi kemudian membuat telur asin dari bebek-bebek tadi. Tetangga sebelah rumahnya pun selalu kebagian telur-telur bebek itu. Begitu juga hakim-hakim PN Sabang, kerap merasakan telur bebek itu.

Selain bebek, dia juga memelihara ayam. Jumlahnya lumayan. Telur ayam pun berkejar-kejaran dengan telur bebek. Jumlahnya banyak sekali. “Di suatu tempat yang kata orang wilayahnya sulit, tapi jika hidup tetap ikhlas, tanpa sakwasangka, insha Allah Tuhan akan tetap memberikan kenikmatan hidup buat kita,” papar Supandi. Caranya, sambung Supandi lagi, itu merupakan rahasia Allah.

Selama lima tahun Supandi berada di Sabang. Dia sangat terkenang sekali suasana itu. Di sana dia bisa berolahraga teratur. Saban pekan minimal 6 kali berolahraga. Tahun 1990, Supandi ditugaskan ke PN Kuala Simpang, Aceh. Di dua pengadilan itu, Supandi bertindak sebagai hakim peradilan umum. Dia kerap menangani perkara pidana, perdata, pidana anak, korupsi dan lainnya.

Tahun 1996, Supandi memutuskan hijrah ke Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN). Dia pindah dari hakim peradilan umum ke hakim TUN. Proses pindahnya ini disebabkan kegalauan dalam dirinya yang terus merebak.

Berkarir sebagai hakim TUN, Supandi kembali ke kampung halaman, dia bertugas di Medan. Tahun 1996, sembari menjadi hakim TUN, Supandi pun melanjutkan jenjang kuliahnya di Universitas Sumatera Utara (USU). Dia mengambil Strata 2 (S2) di Magister Hukum USU Medan. Kala itu hakim sembari kuliah masih belum trend. Banyak rekan-rekannya yang menertawai apa yang dilakoninya itu. Karena dirasa hasil dari perkuliahan itu tak memberi efek apapun. Tapi Supandi jalan terus. Tahun 2001, dia berhasil menggondol gelar S2 di USU.

Kala ujian tesis S2, Prof. Mariam Darus,SH, guru besar hukum perdata Universitas Sumatera Utara,  salah satu dosen pengujinya menyarankan agar Supandi terus melanjutkan mengambil S3. Supandi masih keberatan. Pasalnya untuk jenjang S3 diperlukan biaya lumayan besar. Tapi berkat dukungan penuh, dia pun melanjutkan perkuliahannya. Anak generasi koeli kontrak itu kini melanjutkan hingga merengkuh gelar Doktor Ilmu Hukum.  Dia mengambil gelar Doktor di Universitas Sumatera Utara (USU), almamaternya.

25 November 2005, Supandi berhasil meraih gelar Doktor. Kala itu dia juga menjabat sebagai Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi TUN Medan. Padahal sebelumnya, tahun 2003, dia sempat diangkat menjadi Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Supandi pun malang melintang Medan dan Jakarta, untuk bisa meneruskan perkuliahannya. Prodf. Dr. Bagir Manan, SH, MCL, Ketua Mahkamah Agung kala itu memberikan dia penugasan di PT TUN Medan, agar bisa leluasa menyelesaikan kuliahnya. 6 bulan setelah diangkat hakim tinggi di TUN Medan, Supandi pun menamatkan kuliahnya dan berhasil menggondol gelar Doktor Ilmu Hukum.

Tahun 2006, karirnya sebagai hakim makin meningkat. Dia ditunjuk sebagai kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan (Pusdiklat) Mahkamah Agung. Sepanjang sejarah, baru itulah MA memiliki Pusdiklat sendiri. Supandi pun ditunjuk sebagai Kepala Pusdiklat yang pertama kalinya. Memimpin Pusdiklat, keahliannya dari Pramuka bisa berbicara banyak. Supandi mampu menertibkan raturan hakim-hakim dalam upacara di halaman Pusdiklat. Kemampuannya sebagai Pramuka dimanfaatkannya untuk memimpin Pusdiklat Tehnis Peradilan Mahkamah Agung dengan baik.

Supandi pun resmi hijrah ke Jakarta. Dia menjalani tugas itu dari 2006 hingga 2010. Selain itu, Supandi juga menjadi staf pengajar Pasca Sarjana di Magister Hukum Universitas Indonesia. Dia juga bertindak sebagai dosen tidak tetap di beberapa universitas negeri lainnya.

Tahun 2010, karirnya berubah lagi. Supandi terpilih sebagai salah satu hakim agung dari jenjang karir. Hingga kini, anak generasi keturunan koeli kontrak itu berhasil duduk di jajaran tertinggi yudikatif negeri ini. Supandi pun mengabdi sebagai hakim agung di Mahkamah Agung. Tapi walau telah menjadi pejabat tinggi negara, di meja makannya, tetap tersedia keladi, singkong rebus, ubi kayu bakar, sebagai pengaman ringan untuk dirinya. Dia tak langsung jumawa. Sesekali dia tetap mengunjungi teman-teman sepermainannya dulu. Dia berkunjung ke kandang kambing milik temannya, di Medan sana. 

Kisahnya terus berlanjut. Tanggal 29 November 2019, beliau didaulat sebagai Guru Besar ilmu Hukum di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. “Saya melanjutkan pesan dari senior saya, Pak Paulus Efendi Lotulung, yang berpesan agar hakim selalu dekat dengan kalangan kampus,” ujarnya. Inilah yang dilakoni Supandi. Di jajaran kalangan hakim TUN, beliau selalu menganjurkan agar hakim-hakim untuk melanjutkan studi hukum di Universitas. “Jika praktisi berdekatan dengan akademisi, maka hukum akan bisa ditegakkan dengan baik, insha Allah,” ujarnya lagi. Kini, nama Supandi sangat santer layak menggantikan sosok Hatta Ali di kursi Ketua Mahkamah Agung. Sambutan hangat pun datang berbagai kalangan melihat hal itu. “Beliau harapan besar bagi berlangsungnya perubahan Mahkamah Agung,” tutur Muhammad Raden Syafii, anggota parlemen Komisi III DPR RI.  

Memang, beberapa bulan belakangan nama beliau menjadi perbincangan. Beberapa putusan yang dihasilkannya, mendapat apresiasi banyak pihak. Supandi yang menjadi ketua majelis hakim yang membatalkan kenaikan iuran BPJS kesehatan. Dan beliau juga mengabulkan gugatan Megawati dari PDIP atas sengketa calon legislatif yang meninggal dan proses pergantiannya. Supandi mengembalikan mekanisme itu kepada partai politik. Bukan lagi merujuk pada KPU. Keputusan ini dipuji banyak kalangan sebagai ‘kembalinya mesin demokrasi Indonesia.’

Irawan Santoso