Tolak Aklamasi, Bamsoet Sindir Caketum Lain

JAKARTA, theindonesiatimes – Bambang Soesatyo yang akrab dipanggil Bamsoet menyatakan menolak sistem aklamasi dalam pemilihan Ketua Umum Golkar (G1) saat digelarnya Munas Golkar nanti di bulan Desember. Karena pasalnya Golkar punya pengalaman pahit akan hal itu hingga menimbulkan perpecahan menjadi 2 kubu.

“Kita punya pengalaman pahit. Pemaksaan aklamasi itu membuat kita pecah, dan kita pernah pecah ada Ancol dan Bali. Bali itu pemaksaan aklamasi yang melahirkan Ancol,” kata Bamsoet.

Munas Golkar yang rencananya akan diadakan tanggal 4-6 Desember 2019 tampaknya tidak hanya diikuti oleh Airlangga Hartarto sebagai petahana namun juga ada kader Golkar lainnya seperti Ridwan Hisjam dan Indra Bambang Utoyo juga akan meramaikan bursa pemilihan Calon Ketua Umum (Caketum) Golkar. Sementara Bamsoet sendiri hingga saat ini masih belum mau secara resmi menyatakan dirinya ikut maju dalam pemilihan akan tetapi ia ingin terlebih dahulu mengikuti perkembangan yang terjadi di dalam internal partai ke depannya.

“Calonnya tidak satu, ada Ridwan Hisyam, Indra Bambang Utoyo, ada kemungkinan juga ada saya. Kan saya bilang belum memutuskan, bukan berarti saya tidak maju. Kita lihat perkembangan ke depan,” ucapnya.

Namun begitu dukungan yang terus mengalir dari para loyalisnya yang berharap Ketua MPR RI ini juga bisa menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Golkar (G1) mengungkapkan bahwa ia memang memiliki strategi saat Munas Golkar diadakan.

“Jadi bahasa saya bahwa belum menyatakan maju tapi belum tentu enggak maju ya, tunggu tanggal mainnya. Sabar saja, ini bagian dari strategi kami di tim,” ungkap Bmasoet.

Dan saat kembali disinggung soal aklamasi yang diduga akan dilakukan oleh caketum lain saat pemilihan di Munas, ia mengingatkan bahwa kejadian tersebut harus menjadi perenungan demokrasi di dalam partai berlambang pohon beringin tersebut. Jangan dibunuh tapi harus dibiarkan tumbuh berkembang.

“Itu harus jadi perenungan demokrasi jangan dibunuh biar hal tersebut tumbuh dan berkembang. Kalau dia yakin mayoritas suara kenapa takut harus aklamasi. Demokrasi dan menang itu bisa tercapai dengan pertarungan di munas,” sindir Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo disela-sela Rapimnas Partai Golkar di Jakarta Selatan, Kamis (14/11).

Dan mengelola Partai Golkar menurutnya jangan seperti perusahaan yang cukup mengambil keputusan lewat komisaris.

“Hari ini dihadiri ketua provinsi yang mewakili 34 suara. Masih ada 500 lebih yang harus didengar suaranya. Kalau rampimnas hari ini dirancang 34 mewakili 500 suara, itu salah,” jawab Bambang Soesatyo.  (Danur Santi)