PLTN Pertama Indonesia Ditargetkan Beroperasi 2032, Ini Persiapan yang Sudah Dilakukan

Reporter : Rico
Pemerintah juga memproyeksikan kapasitas pembangkit nuklir mencapai 35–42 gigawatt (GW) pada 2060, dengan kontribusi sekitar 11,7–12,1 persen terhadap bauran energi primer.

theindonesiatimes.com - Indonesia telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai bagian dari persiapan memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang. Pengembangan energi nuklir juga diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission pada 2060.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, mengatakan Indonesia telah memiliki sejumlah modal dasar untuk membangun PLTN, mulai dari sumber daya manusia, teknologi hingga lokasi potensial. Menurutnya, pengembangan pembangkit nuklir tidak harus menunggu teknologi reaktor generasi baru.

Baca juga: Kasus Blackout PLN, Polisi Sita Emas 74 Kg dan Valas Ratusan Miliar dari Rumah di Sentul

“Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” kata Syaiful dalam diskusi Kupas Tuntas Energi Masa Depan, Kamis (8/10/2026).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, PLTN komersial pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 dengan kapasitas awal 250 megawatt (MW).

Pemerintah juga memproyeksikan kapasitas pembangkit nuklir mencapai 35–42 gigawatt (GW) pada 2060, dengan kontribusi sekitar 11,7–12,1 persen terhadap bauran energi primer.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, menyebut Kalimantan Barat dan Bangka Belitung sebagai wilayah yang berpotensi dikembangkan menjadi lokasi PLTN. Namun, penentuan tapak perlu mempertimbangkan kebutuhan listrik, kesiapan infrastruktur, dan rencana pengembangan industri.

Baca juga: Polri Bongkar Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU, Picu Blackout Nasional

Menurut Sripeni, tantangan utama saat ini adalah menyatukan berbagai sumber daya dan institusi ke dalam satu program nasional yang terarah.

“Kita sudah punya resource-nya, tetapi belum dikonsolidasikan, belum ditandai bahwa kita mulai. Jadi perlu ada task force,” ujarnya.

Di luar sektor energi, teknologi nuklir telah dimanfaatkan untuk mendukung pertanian dan kesehatan. Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), Djarot S. Wisnubroto, menjelaskan teknologi radiasi dapat membantu menghasilkan varietas tanaman dengan masa panen lebih singkat dan produktivitas lebih tinggi.

Baca juga: BRIN dan DPD RI Soroti Lemahnya Implementasi Otonomi Daerah

Sementara itu, pemanfaatan nuklir di bidang medis juga mencakup prosedur diagnosis dan terapi yang menggunakan radiasi dengan dosis terukur. Edukasi mengenai manfaat dan keselamatan menjadi faktor penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap teknologi tersebut.

Pengalaman pemanfaatan nuklir di berbagai sektor itu menjadi bagian dari fondasi pengembangan energi nuklir nasional. Namun, pembangunan PLTN tetap membutuhkan pemenuhan persyaratan keselamatan, keamanan, pengelolaan limbah, serta kepastian kebijakan dan pendanaan.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru