DPRD Malang Apresiasi Pengabdian MAC, Dorong Dukungan Anggaran

Reporter : Muhammad Ali
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Made Riandiana Kartika saat bincang online bareng awak media Malang dan Surabaya

TheIndonesiaTimes - Keterbatasan biaya masih menjadi tantangan bagi keluarga yang memiliki anak dengan autisme untuk mendapatkan terapi secara berkelanjutan. Malang Autism Center (MAC) berupaya menjawab persoalan tersebut dengan memperluas layanan terapi terjangkau, mengembangkan fasilitas, serta menghadirkan berbagai program sosial bagi anak dan penyandang disabilitas.

Memasuki usia ke-11 pada Oktober 2026, lembaga yang didirikan Mohammad Cahyadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu terus mengembangkan pelayanan. Tidak hanya berfokus pada terapi, MAC juga memperluas program yang menyentuh kebutuhan keluarga dan masyarakat.

Baca juga: Akses yang Jauh, Harapan yang Tertunda: Cerita Layanan Disabilitas di Tingkat Warga

Sejak berdiri pada Oktober 2015, MAC mengembangkan layanan terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA). Pendekatan tersebut mendukung proses belajar, pengembangan keterampilan, dan pembentukan kemandirian anak sesuai kebutuhan serta potensi masing-masing.

Founder sekaligus CEO Malang Autism Center, Mohammad Cahyadi, mengatakan pertumbuhan lembaga tidak hanya diukur dari bertambahnya fasilitas, tetapi juga dari manfaat yang bisa dirasakan anak dan keluarganya.

"Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang. Karena itu, kami ingin terus membuka kesempatan bagi anak-anak dengan autisme agar mendapatkan layanan terapi, belajar mengembangkan keterampilan, dan membangun kemandirian sesuai kemampuan masing-masing," ujar Cahyadi.

Dari satu gedung pelayanan saat pertama berdiri, MAC membangun gedung kedua pada 2025. Memasuki tahun ke-11, lembaga tersebut merencanakan pengembangan gedung ketiga di kawasan Manggar, Sengkaling, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Jalan Ki Atas Angin, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Pengembangan fasilitas tersebut ditujukan untuk memperluas kapasitas pelayanan sekaligus menyediakan ruang yang mendukung proses terapi dan pembelajaran.

Salah satu program unggulan MAC adalah Omah Terapi Autis (OTA), layanan terapi bagi anak dengan autisme dari keluarga kurang mampu melalui sistem pembayaran sesuai kemampuan.

Jumlah penerima manfaat program tersebut berkembang dari dua anak menjadi 10 anak. Jangkauan pelayanan juga diperluas melalui OTA Neptunus yang hadir pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.

Cahyadi menyebut program OTA menjadi bagian dari upaya MAC agar keterbatasan ekonomi tidak menghalangi anak mendapatkan pendampingan.

"Kami tidak ingin keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan terapi. Melalui program Omah Terapi Autis, kami berupaya membantu keluarga agar anak-anak tetap memperoleh pendampingan yang mereka butuhkan," katanya.

Manfaat program tersebut dirasakan Dita Agustina, warga Jetak Lor, Kabupaten Malang. Sejak Agustus 2025, ia membawa anaknya menjalani terapi di OTA ketika berusia 10 tahun.

Sebelum menjalani terapi, anak Dita kerap mengalami tantrum. Perilakunya antara lain membuang barang, melempar makanan setelah makan, hingga menendang meja.

Setelah mengikuti terapi secara rutin, Dita mulai melihat perubahan. Frekuensi tantrum berkurang dan kebiasaan melempar maupun membanting barang tidak lagi terjadi seperti sebelumnya.

"Sedikit demi sedikit, alhamdulillah, ada perkembangan. Perkembangannya luar biasa," kata Dita saat ditemui di Omah Terapi Autis, Jumat (30/10/2026).

Perkembangan juga terlihat pada kemampuan belajar anaknya yang kini berusia 11 tahun dan duduk di kelas V sekolah dasar inklusi. Anak Dita mulai mampu memegang pensil dan belajar menulis.

"Dulu sama sekali belum bisa. Sekarang sudah mulai bisa memegang pensil, sudah mulai diarahkan dan bisa menulis," tuturnya.

Setiap pagi, anak Dita mengikuti pendidikan formal di sekolah. Setelah itu, ia menjalani terapi selama empat jam, mulai pukul 12.00 hingga 16.00 WIB.

Biaya terapi yang fleksibel menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan pendampingan. Dita mengaku hanya membayar Rp100.000 per bulan sesuai kemampuan keluarganya.

"Di sini seikhlasnya. Saya membayar Rp100.000 per bulan. Sangat terbantu sekali, alhamdulillah," ungkapnya.

Dita mengetahui layanan OTA dari seorang tetangga. Untuk memperoleh keringanan biaya, ia juga mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) melalui pengurus RT dan RW setempat.

Meski anaknya telah terdaftar sebagai peserta Kartu Indonesia Sehat (KIS), Dita mengatakan fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan layanan terapi.

Anaknya selama ini memperoleh penanganan medis melalui Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setiap bulan, Dita mengambil obat dari rumah sakit tanpa dipungut biaya.

Namun, kebutuhan terapi dan pendampingan masih harus dipenuhi melalui layanan OTA. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keluarga dengan anak autisme tidak hanya membutuhkan pengobatan medis, tetapi juga terapi berkelanjutan untuk mendukung perkembangan kemampuan anak.

Dita berharap anaknya terus menunjukkan kemajuan dan dapat melanjutkan terapi.

Baca juga: Malang Autism Center Resmikan Klinik Patria, Upaya Tingkatkan Inklusi Layanan Disabilitas

"Harapan saya, semoga anak saya semakin berkembang setelah menjalani terapi di Omah Terapi Autis ini," ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada anak berkebutuhan khusus, terutama keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

"Semoga pemerintah bisa semakin membantu," pungkasnya.

Kontribusi MAC dalam mendampingi anak dengan autisme turut mendapat perhatian Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Made Riandiana Kartika.

Made menilai pengabdian Cahyadi selama sebelas tahun membangun MAC memiliki nilai sosial yang besar. Ia bahkan merespons kabar mengenai kemungkinan Cahyadi maju dalam bursa pemilihan wali kota dengan menyarankan agar pendiri MAC tersebut tetap berfokus pada perjuangan sosialnya.

"Kalau ada yang mengatakan Pak Cahyadi ingin menjadi wali kota, saya rasa jangan sampai Bapak menurunkan derajat Bapak," ujar Made melalui teleconference, Jumat (30/10/2026).

Menurut Made, kontribusi Cahyadi dalam mendampingi anak-anak dengan autisme memiliki nilai yang jauh melampaui jabatan pemerintahan.

"Apa yang sudah Bapak lakukan bahkan berada di atas kedudukan seorang wali kota. Pemerintah kota sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding pengabdian beliau," katanya.

Made juga menyoroti keterbatasan pemerintah daerah dalam menyediakan tenaga pendamping dengan keahlian khusus. Padahal, Pemerintah Kota Malang tengah menggagas Posyandu Disabilitas dan pengembangan sekolah inklusi.

"Pemkot Malang sedang menggagas Posyandu Disabilitas dan membuka sekolah inklusi, tetapi kendalanya klasik: kita belum punya tenaga pendamping berkeahlian khusus," ungkapnya.

Menurut dia, keberadaan MAC telah membantu mengisi celah pelayanan yang belum sepenuhnya terjangkau pemerintah. Lembaga tersebut membangun jejaring dengan perguruan tinggi, kader posyandu, dan masyarakat untuk menjangkau keluarga prasejahtera yang membutuhkan terapi khusus.

Made mendorong pemerintah daerah memberikan dukungan lebih konkret agar keberlanjutan layanan tidak sepenuhnya bergantung pada lembaga swasta dan yayasan sosial.

DPRD Kota Malang, kata dia, akan mendorong pemanfaatan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran untuk mendukung pembiayaan layanan pendampingan anak dengan autisme.

Baca juga: Hebat! Kota Malang Raih Predikat Ramah Disabilitas, Begini Program Nyatanya

"MAC sudah berdiri sangat mandiri dengan jejaring kuat. Tinggal bagaimana pemerintah hadir memberi dukungan anggaran agar bebannya tidak melulu ditanggung swasta," tegasnya.

Selain layanan terapi autisme, MAC mengembangkan sejumlah program sosial untuk memperluas jangkauan pelayanan bagi masyarakat penyandang disabilitas.

Salah satunya melalui kolaborasi dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan. Kerja sama tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendata warga penyandang disabilitas yang membutuhkan layanan fisioterapi.

Warga yang teridentifikasi membutuhkan penanganan dapat diarahkan ke Klinik Patria, klinik fisioterapi milik MAC.

MAC juga mengembangkan program Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan yang dimulai secara rutin setiap Jumat pada 2023 itu berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.

Program tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat, tetapi juga berpotensi menjadi sarana pembelajaran praktis bagi anak dengan autisme.

Melalui aktivitas terstruktur dan pendampingan sesuai kemampuan, anak dapat belajar menjalankan tanggung jawab, mengenal keterampilan praktis, serta membangun kesiapan berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.

Cahyadi berharap semakin banyak pihak terlibat dalam memperluas pelayanan dan kepedulian terhadap anak dengan autisme maupun penyandang disabilitas.

"Harapan kami, semakin banyak pihak yang terlibat dalam memberikan perhatian kepada anak dengan autisme dan penyandang disabilitas. Sebab, pendampingan mereka bukan hanya tanggung jawab keluarga atau lembaga, melainkan membutuhkan kepedulian bersama," tuturnya.

Memasuki usia ke-11, MAC berharap dapat memperkuat kolaborasi dengan keluarga, komunitas, tenaga profesional, dunia usaha, dan pemerintah.

Perjalanan sebelas tahun MAC menunjukkan bahwa pendampingan anak dengan autisme membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Selain terapi, dukungan keluarga, akses layanan terjangkau, ketersediaan tenaga profesional, serta keberpihakan pemerintah menjadi faktor penting untuk membuka kesempatan anak berkembang dan berpartisipasi di tengah masyarakat.

Editor : Muhammad Ali

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru