The Indonesia Times - Pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menghadapi tantangan utama pada kedalaman alur dan kolam pelabuhan. Kondisi tersebut dinilai perlu segera ditangani agar terminal mampu mengimbangi pertumbuhan arus peti kemas dan kebutuhan kapal berukuran lebih besar.
Pelaku usaha menilai alur pelayaran perlu diperdalam, sementara kolam pelabuhan harus dikeruk karena kedalamannya terus berkurang. Perpanjangan dermaga juga dinilai diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kapal.
Baca juga: 23 Semarang Dibuka 23 Mei, Okupansi Tenant Sudah Capai 80 Persen
Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, Minggu (13/9/2026) mengatakan penguatan infrastruktur Tanjung Emas penting seiring berkembangnya kawasan industri di Semarang Raya dan wilayah sekitarnya.
Menurut Teguh, ketidakseimbangan antara pertumbuhan investasi dan kesiapan infrastruktur logistik dapat membuat arus barang bergeser ke pelabuhan lain. Karena itu, pengembangan terminal perlu dilakukan secara bertahap dengan target yang realistis.
Ia mendorong Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang menargetkan kapasitas pelayanan hingga 1,2 juta TEUs pada 2030. Target tersebut setara dengan rata-rata sekitar 100.000 TEUs per bulan.
Sementara itu, Terminal Head TPK Semarang I Nyoman Sutrisna mengatakan pengembangan terminal turut mempertimbangkan pertumbuhan kawasan industri baru, termasuk di Kabupaten Batang. TPK Semarang juga telah mendapat tambahan empat crane untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.
Nyoman menyebut arus peti kemas TPK Semarang sepanjang 2025 telah mencapai 1 juta TEUs. Hingga Agustus 2026, arus peti kemas tercatat 698.500 TEUs atau tumbuh 5,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan terutama berasal dari arus internasional yang mencapai 625.390 TEUs atau naik 8,53 persen. Arus impor mencapai 309.128 TEUs, sedangkan ekspor sebesar 316.159 TEUs.
Dengan tambahan crane yang mampu menangani kapal besar hingga 16 row, kapasitas terminal dinilai semakin siap. Namun, Nyoman menegaskan kedalaman alur tetap menjadi faktor penting agar kapal dengan draft lebih dalam dapat masuk dan dilayani di Tanjung Emas.
Editor : Rico