The Indonesia Times - Konsumen Asia Tenggara semakin selektif dalam mempercayai layanan teknologi. Studi Vero dan Kadence International menunjukkan teknologi yang berkaitan dengan keuangan dan data pribadi memiliki tingkat kepercayaan tinggi, tetapi konsumen juga paling tidak toleran terhadap gangguan atau insiden.

Perbankan dan pembayaran digital menjadi dua kategori dengan skor kepercayaan tertinggi, masing-masing 81,7 dan 80,4. Namun, lebih dari separuh responden mengaku akan segera meninggalkan layanan setelah terjadi insiden.

Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, mengatakan perusahaan tidak cukup hanya menyampaikan pernyataan ketika menghadapi krisis.

“Perusahaan perlu mengedepankan transparansi, menunjukkan langkah perbaikan yang nyata, serta melibatkan pihak independen yang kredibel,” ujar Diah.

Studi tersebut juga menemukan perbedaan sinyal kepercayaan di setiap negara. Sebanyak 43 persen responden Indonesia lebih mengutamakan rekam jejak perusahaan, sedangkan konsumen di Singapura, Malaysia, dan Filipina lebih menilai kepatuhan terhadap aturan.

Di Thailand dan Vietnam, kejelasan mengenai penggunaan data menjadi faktor penting bagi konsumen.

Sementara itu, tingginya penggunaan tidak selalu berarti kepercayaan tinggi. Media sosial digunakan 79 persen responden, tetapi hanya mencatat rata-rata skor kepercayaan 67,8.

Director Kadence International Ashutosh Awasthi menilai perusahaan teknologi perlu melihat kepercayaan sebagai faktor yang berbeda dari sekadar tingkat penggunaan.

“Tingkat penggunaan adalah sinyal penting, tetapi bukan ukuran kepercayaan yang lengkap,” kata Ashutosh.

Temuan ini menegaskan perlindungan data, transparansi, kepatuhan, dan respons terhadap insiden menjadi faktor penting bagi perusahaan teknologi untuk mempertahankan kepercayaan konsumen Asia Tenggara.