The Indonesia Times - Sampah organik di Jakarta mulai didorong untuk tidak sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi sumber energi dan produk yang memiliki nilai guna. Teknologi biodigester menjadi salah satu alternatif untuk mengubah limbah organik menjadi biogas sekaligus menghasilkan pupuk organik.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat memperkuat pengelolaan sampah dari sumber. Dengan mengolah sampah organik di kawasan permukiman, volume sampah yang harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir dapat ditekan.
Baca juga: JakOne Mobile Bawa Bank Jakarta Raih Penghargaan Perbankan Digital 2026
Selain mengurangi timbulan sampah, proses biodigester juga menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan. Sementara residu hasil pengolahan dapat digunakan sebagai pupuk organik sehingga sampah memiliki nilai tambah.
Bank Jakarta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) membangun biodigester komunal di dua lokasi Jakarta Utara, yakni Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama di Rusunawa Rorotan.
Dua unit biodigester tersebut masing-masing memiliki kapasitas pengolahan 250 kilogram sampah organik per hari. Secara keseluruhan, kapasitasnya mencapai 500 kilogram sampah organik per hari dan diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas setiap hari.
Proses pengolahan juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada pengurangan volume, tetapi turut menciptakan manfaat baru bagi masyarakat.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan pembangunan biodigester merupakan kontribusi perusahaan untuk mendukung penanganan sampah organik di Jakarta.
Baca juga: Bank Jakarta Tingkatkan Layanan, KCP Kebayoran Park Resmi Dibuka
“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta,” ujar Agus, Selasa (11/8/2026).
Dari aspek lingkungan, dua unit biodigester tersebut diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari, atau setara 154,4 ton CO2e per tahun.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi dan kesinambungan program agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Baca juga: Kinerja Layanan Meningkat, Bank Jakarta Sabet Tiga Award Customer Experience 2026
“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Arie.
Program tersebut menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta 2026, terutama dalam pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi gas rumah kaca dan pemanfaatan energi terbarukan.
Bank Jakarta sebelumnya juga mendukung pembangunan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diresmikan pada November 2025.
Editor : Rico