PENS Bawa Teknologi AIoT ke Kebun Melon Sampang

Reporter : Doni Nugroho
PENS menerapkan teknologi AIoT di kebun melon Sampang untuk memantau kondisi tanah dan air serta memperluas pemasaran secara digital.

TheIndonesiaTimes - Cara petani melon di Desa Tanggumong, Kabupaten Sampang, Madura, mengelola lahan mulai bergeser dari sekadar mengandalkan pengalaman menuju pemanfaatan data.

Perubahan itu didorong penerapan Artificial Intelligence of Things (AIoT) oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Teknologi tersebut memungkinkan kondisi tanah dan air dipantau menggunakan sensor, sementara hasil pengukuran dianalisis dan ditampilkan melalui sistem monitoring.

Baca juga: Rahasia di Balik Greenhouse Melon Banjar: Zakat Jadi Kunci Perubahan Sosial

Penerapan AIoT dilakukan bersama Kelompok Tani Banyu Urip yang memiliki 25 anggota aktif dengan lahan budidaya sekitar 1 hektare.

Potensi produksi melon di kawasan tersebut cukup besar. Dalam satu siklus tanam, petani dapat menanam sekitar 1.200 tanaman dengan potensi hasil sekitar 1.000 buah.

Sejumlah varietas juga dikembangkan, antara lain melon premium, sweet honey, golden apollo, dan golden melon.

Namun, potensi itu masih dihadapkan pada persoalan pengelolaan media tumbuh. Selama ini petani lebih banyak menentukan perlakuan budidaya berdasarkan pengalaman dan pengamatan visual.

Pengukuran pH tanah, kelembapan, kandungan unsur hara, maupun kualitas air irigasi belum dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Ketua kegiatan pengabdian PENS, Norma Ningsih, mengatakan AIoT dirancang untuk memberikan informasi yang dapat membantu petani mengambil keputusan budidaya.

“AIoT yang diterapkan mengintegrasikan sensor, mikrokontroler, server, dan analisis berbasis machine learning. Data hasil pengukuran dapat digunakan petani sebagai pertimbangan dalam mengelola air, nutrisi, dan kondisi lahan,” ujar Norma.

Sistem memantau tiga parameter utama pada tanah, yakni pH, kelembapan, dan NPK. Sedangkan kualitas air irigasi dipantau melalui pH, Electrical Conductivity (EC), dan Total Dissolved Solids (TDS).

Data yang diperoleh sensor dikirim ke sistem untuk disimpan dan dianalisis. Hasilnya kemudian disajikan melalui aplikasi monitoring dalam bentuk informasi yang lebih mudah dipahami petani.

AIoT tidak menggantikan keputusan petani. Sistem berfungsi sebagai alat bantu agar petani memiliki informasi tambahan sebelum menentukan perlakuan terhadap tanaman.

Ketua Kelompok Tani Banyu Urip sekaligus pemilik kebun melon, Maulidi Riyanto, mengatakan teknologi tersebut memberikan perspektif baru dalam pengelolaan lahan.

“Selama ini pengelolaan budidaya masih banyak berdasarkan pengalaman dan pengamatan di lapangan. Dengan adanya monitoring kondisi tanah dan air, petani bisa memiliki informasi tambahan sebagai bahan pertimbangan dalam mengelola tanaman,” kata Maulidi.

Transformasi tidak hanya menyentuh proses produksi. PENS juga mendorong kelompok tani memperluas pasar dengan memanfaatkan kanal digital.

Selama ini pemasaran melon masih didominasi cara konvensional sehingga jangkauan konsumen relatif terbatas. Informasi mengenai harga, kualitas, ketersediaan produk, dan waktu panen juga belum sepenuhnya tersaji melalui kanal digital.

Tim pengabdian kemudian mengembangkan platform pemasaran berbasis website. Platform tersebut dirancang untuk menampilkan informasi produk sekaligus mendukung promosi dan pemesanan.

Konsumen juga dapat memperoleh informasi mengenai harga, kualitas, serta ketersediaan melon. Komunikasi antara petani dan konsumen diharapkan menjadi lebih mudah.

“Penguatan tidak hanya dilakukan pada sisi produksi, tetapi juga pemasaran. Digitalisasi informasi produk diharapkan dapat membuka kanal pemasaran baru sehingga produk petani bisa dikenal oleh konsumen yang lebih luas,” ujar Norma.

Penerapan teknologi dilakukan secara bertahap. Tim memulainya melalui observasi lapangan dan pengukuran awal, kemudian dilanjutkan identifikasi masalah, Focus Group Discussion (FGD), perancangan sistem, implementasi, serta sosialisasi.

Petani juga mendapatkan pengenalan mengenai fungsi sensor, cara membaca hasil monitoring, interpretasi data, hingga penggunaan website untuk pemasaran.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat petani tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami informasi yang dihasilkan sistem.

Data monitoring yang tersimpan dapat dimanfaatkan sebagai catatan historis. Informasi itu nantinya dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil budidaya dan menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pada siklus tanam berikutnya.

Program tersebut merupakan bagian dari hilirisasi hasil penelitian PENS mengenai sistem klasifikasi kesuburan tanah berbasis Internet of Things (IoT) dengan machine learning.

Teknologi penelitian itu kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan budidaya melon di Desa Tanggumong.

Pendampingan ke depan akan diarahkan pada pengoperasian dan pemeliharaan sistem AIoT, pemanfaatan data untuk mendukung budidaya, serta pengelolaan website dan kanal pemasaran digital.

Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas petani dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan lahan, peningkatan produktivitas, hingga perluasan akses pasar.

Dengan demikian, kebun melon Tanggumong tidak hanya didorong menghasilkan buah, tetapi juga membangun pola usaha tani yang lebih berbasis data dan memanfaatkan teknologi digital.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru