The Indonesia Times - Pertumbuhan e-commerce Indonesia mulai memasuki fase baru. Setelah mengalami lonjakan transaksi dalam enam tahun terakhir, industri perdagangan digital kini menghadapi tantangan untuk menciptakan pertumbuhan yang tidak hanya besar dari sisi volume, tetapi juga memberikan dampak lebih luas bagi pelaku usaha dan konsumen di berbagai daerah.
Data internal SIRCLO mencatat jumlah pesanan pada Juni 2026 meningkat sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020. Lonjakan tersebut menggambarkan kuatnya perubahan perilaku konsumen menuju belanja online sekaligus menunjukkan besarnya ruang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Proyeksi Google, Temasek, dan Bain & Company dalam laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan GMV ekonomi digital Indonesia dapat mencapai sekitar US$340 miliar pada 2030, dengan sektor e-commerce berkontribusi sekitar US$140 miliar.
Founder dan Chief Executive Officer SIRCLO Brian Marshal mengatakan, pertumbuhan ekonomi digital ke depan perlu dilihat dari kemampuan ekosistem dalam beradaptasi terhadap perubahan konsumen, teknologi, serta model bisnis.
“Kontribusinya dalam mendukung kemakmuran tidak cukup diukur dari banyaknya transaksi, tetapi juga dari kemampuan ekosistem dalam merespons perubahan melalui adaptasi, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Brian, Kamis (3/9/2026).
Salah satu perubahan terbesar terlihat dari semakin kuatnya kanal live streaming, video commerce, kreator, dan affiliate. Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah penonton live streaming pada Juni 2026 telah mencapai lebih dari 11 kali lipat dibandingkan Juli 2022, sedangkan jumlah pesanan meningkat lebih dari delapan kali lipat pada periode yang sama.
Pertumbuhan juga mulai bergeser secara geografis. Pesanan dari luar Jabodetabek yang sejak Juni 2024 telah melampaui wilayah Jabodetabek, tercatat meningkat lebih dari tiga kali lipat hingga Juni 2026.
Perubahan tersebut membuat penguatan distribusi dan fulfillment di daerah menjadi semakin penting. SIRCLO menyebut kerja sama dengan distributor lokal sebagai titik fulfillment berpotensi memangkas biaya pengiriman hingga 60�n waktu pengiriman hingga 40%.
Di sisi lain, kecerdasan buatan atau AI mulai menjadi instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi operasional e-commerce. Pengukuran internal SIRCLO menunjukkan penerapan AI pada sejumlah workflow dapat menghemat waktu penyelesaian pekerjaan operasional mingguan hingga 84,2%, termasuk pembaruan stok, pemantauan pesanan, promosi, dan informasi produk.
Memasuki 2030, arah pertumbuhan e-commerce Indonesia diperkirakan semakin ditentukan oleh kemampuan pelaku industri menggabungkan teknologi, konten, distribusi, data, serta kolaborasi antaranggota ekosistem. Dengan demikian, persaingan tidak lagi semata-mata soal mengejar jumlah transaksi, tetapi juga bagaimana menciptakan perdagangan digital yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
“Potensi e-commerce Indonesia masih terbuka luas, tetapi cara kita menciptakan nilai akan terus berkembang seiring perubahan perilaku konsumen, teknologi, kanal, dan model bisnis,” kata Brian.