The Indonesia Times -Pemerintah mulai mengubah wajah historiografi nasional melalui peluncuran buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Karya yang melibatkan 123 pakar tersebut menempatkan Indonesia sebagai subjek utama dalam membaca perjalanan sejarahnya sendiri.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, penyusunan buku tidak diarahkan untuk membentuk narasi politik pemerintah. Kementerian Kebudayaan, kata dia, hanya memfasilitasi proses, sementara substansi dan metodologi diserahkan kepada tim akademisi.
“Sama sekali tidak ada intervensi. Makanya kita berikan penulisan ini kepada ahlinya,” ujar Fadli saat peluncuran di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Buku ini hadir setelah historiografi sejarah nasional dinilai membutuhkan pembaruan. Materinya tidak hanya mengulang rangkaian tanggal dan tokoh, tetapi mengintegrasikan berbagai penelitian terbaru serta pendekatan multidisipliner.
Perspektif yang digunakan mencakup sejarah lingkungan, gender, memori kolektif, studi postkolonial hingga sejarah maritim. Sejumlah tokoh, wilayah dan peristiwa yang sebelumnya kurang mendapat ruang juga dimasukkan dalam narasi.
Fadli menyebut pendekatan Indonesia-sentris menjadi prinsip utama. Indonesia ditempatkan sebagai aktor aktif dalam hubungan dengan berbagai kekuatan dan jaringan global, bukan semata-mata dilihat dari perspektif kolonial.
“Buku ini menempatkan Indonesia sebagai subyek aktif, Indonesia-sentris, bukan colonial perspective,” tegasnya.
Proyek tersebut melibatkan 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga non-perguruan tinggi. Penyusunannya menelan anggaran sekitar Rp9 miliar.
Pada tahap awal, lima dari 10 jilid telah diluncurkan dengan total hampir 5.000 halaman. Lima jilid berikutnya masih dalam proses penyelesaian.
Editor utama Singgih Tri Sulistiyono mengatakan perspektif maritim menjadi salah satu benang merah untuk melihat hubungan antardaerah di Nusantara sekaligus keterkaitannya dengan dunia.
Menurutnya, narasi sejarah yang lebih komprehensif diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang beragam.
Lima jilid pertama kini dapat diakses publik secara daring melalui situs Pustaka Budaya.