The Indonesia Times - Proses pencarian korban tenggelamnya kapal wisata Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diperpanjang hingga Jumat (9/1/2026). Hingga perpanjangan pencarian yang dilakukan sebanyak tiga kali, tim SAR telah menemukan tiga korban dalam kondisi meninggal dunia. Sementara satu korban lainnya, anak dari pelatih Valencia CF Martin Carreras Fernando, masih dinyatakan hilang.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari daerah pemilihan NTT, Dipo Nusantara, menyampaikan apresiasi kepada tim SAR yang terus bekerja melakukan pencarian. Namun, ia menegaskan bahwa tragedi ini menjadi pukulan serius bagi sektor pariwisata NTT, khususnya dari sisi keamanan dan kenyamanan wisatawan.

“Kami mengapresiasi kinerja tim SAR yang telah menemukan tiga korban dan masih terus melakukan pencarian. Namun, peristiwa ini memukul kita semua, terutama terkait jaminan keselamatan wisatawan asing di Nusa Tenggara Timur,” ujar Dipo, Rabu (14/1/2026).

Menurut Dipo, insiden tenggelamnya Kapal Putri Sakinah telah menyedot perhatian luas, termasuk dari masyarakat internasional. Hal ini dikhawatirkan dapat berdampak negatif terhadap pembangunan industri pariwisata di NTT yang tengah diproyeksikan sebagai destinasi kelas dunia.

“NTT memiliki banyak destinasi wisata internasional, mulai dari Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, Pink Beach, hingga Kampung Adat Wae Rebo. Tragedi seperti ini tentu berpotensi menghambat kepercayaan wisatawan,” ujarnya.

Sebagai anggota Komisi XII DPR RI, Dipo mendesak pemerintah dan aparat berwenang untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap penyebab tenggelamnya kapal serta menentukan pihak yang harus bertanggung jawab.

Ia menekankan bahwa proses investigasi tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan mencakup seluruh aspek, mulai dari penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh KSOP Labuan Bajo, kondisi cuaca berdasarkan data BMKG, hingga kelayakan teknis kapal wisata tersebut.

“Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh dan terbuka, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Labuan Bajo sebagai destinasi wisata internasional semestinya memiliki standar keselamatan yang tinggi,” tegasnya.

Selain penyelidikan kasus, Dipo juga meminta pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh kapal wisata yang beroperasi di Labuan Bajo. Audit tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap kapal memenuhi standar keselamatan pelayaran.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar urusan administrasi. Adanya korban jiwa menunjukkan prinsip keselamatan belum dijalankan secara maksimal,” kata Dipo.

Ia turut menyoroti lemahnya pengawasan internal di lingkungan KSOP Labuan Bajo. Menurutnya, pejabat yang menerbitkan SPB di tengah potensi cuaca ekstrem perlu dievaluasi secara serius.

“Ini menyangkut nyawa manusia. Aparat kesyahbandaran seharusnya menempatkan keselamatan pelayaran sebagai mandat utama,” pungkasnya.