The Indonesia Times - Keberhasilan penerbitan obligasi global perdana oleh Danantara menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap ekonomi Indonesia. Menariknya, dalam penerbitan kali ini, investor asal Amerika Serikat justru tampil sebagai pembeli terbesar—berbeda dari tren sebelumnya yang biasanya didominasi investor Asia.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa pada tenor lima tahun, investor AS menyerap 38 persen obligasi, sementara pada tenor 10 tahun porsinya bahkan mencapai 52 persen. “Hal ini semakin menunjukkan tingginya kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Dari sisi permintaan, respons pasar juga melampaui ekspektasi. Target awal penerbitan sebesar 1 miliar dolar AS melonjak menjadi 4,6 miliar dolar AS setelah Danantara melakukan roadshow ke berbagai pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. “Dalam roadshow tersebut kami bertemu sekitar 122 investor dari berbagai negara. Respons yang kami terima sangat positif,” jelas Rosan.
Lonjakan minat ini mendorong peningkatan nilai penerbitan menjadi 1,5 miliar dolar AS, dengan kupon 5,35 persen untuk tenor lima tahun dan 5,95 persen untuk tenor 10 tahun. Rosan menilai angka tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan investor yang semakin solid, sekaligus mematahkan keraguan sebelumnya terkait daya tarik obligasi Danantara di pasar global.
Menurutnya, perubahan sikap investor tidak lepas dari pemahaman yang lebih baik terhadap tata kelola dan strategi investasi yang dipaparkan secara langsung.
“Banyak investor yang sebelumnya memiliki keraguan, berubah menjadi lebih optimistis setelah memperoleh penjelasan mengenai arah kebijakan dan tata kelola Danantara,” ujarnya.
Rosan menambahkan, investor global kini semakin rasional dalam mengambil keputusan, tidak hanya melihat kondisi jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan fundamental ekonomi, stabilitas kebijakan, serta prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia. “Investor melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil meskipun terdapat dinamika geopolitik dan geoekonomi global,” katanya.
Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang tetap menarik di tengah ketidakpastian global. Data permintaan yang jauh melampaui target menjadi bukti bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga terus menguat.