The Indonesia Times - Ruang diskusi di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur mendadak riuh. Peringatan Haul Bung Karno ke-56 yang biasanya kental dengan nuansa seremonial masa lalu, berubah menjadi panggung gugatan bagi generasi muda.
Puluhan mahasiswa, akademisi, serta kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dipaksa melihat realita: bangsa ini sedang menghadapi tantangan zaman yang rumit, namun anak mudanya masih asyik berwacana tanpa aksi konkrit.
Berkumpulnya lintas generasi dalam forum refleksi tersebut memicu diskursus tajam mengenai krisis kepemimpinan. Visi kebangsaan dan keadilan sosial warisan Sang Proklamator terancam sekadar menjadi tumpukan arsip sejarah jika para penerus bangsa emoh meningkatkan kapasitas diri.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo, Mahmud Yunus, menyayangkan kenyamanan anak muda zaman sekarang yang kerap tersedot dalam pusaran kritik dan perdebatan media sosial.
Menurutnya, Indonesia hari ini butuh sumber daya manusia kompeten yang berani terjun langsung mengelola sektor ekonomi, politik, hingga sosial.
"Kader organisasi harus menggembleng kemampuan diri agar bisa memecahkan masalah riil di masyarakat," kata Mahmud di hadapan peserta.
Ia menambahkan, penyelesaian sengkarut masalah negeri memerlukan jaringan yang kuat. Kolaborasi mustahil terwujud tanpa adanya jalinan kerja sama antara organisasi kemasyarakatan, kampus, pelaku usaha, dan pemerintah.
Pondasi pergerakan anak muda juga memerlukan kompas ideologi yang jelas agar tidak salah arah. Pakar Hukum Agraria dan Pertanahan Untag Surabaya, Dr. Sri Setyadji, SH, M.Hum., membedah kembali konsep Sosialisme Indonesia cetusan Bung Karno sebagai pijakan mendasar.
Konsep tersebut lahir dari rahim kemanusiaan untuk mengikis ketimpangan sosial ekonomi yang masih menjerat masyarakat bawah.
"Sosialisme gagasan Bung Karno itu instrumen hidup untuk menghadirkan keadilan sosial yang bisa dirasakan langsung oleh seluruh rakyat, bukan cuma teori ekonomi di atas kertas," ujar Sri Setyadji.
Menjawab tantangan tersebut, pendiri Aksarani Indonesia Project, Gian Riko Pujiantoro, S.H., membenarkan bahwa regenerasi kepemimpinan nasional menuntut kesiapan anak muda dalam menguasai peta geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi.
Pria yang akrab disapa Aiko tersebut menilai, media sosial harus diubah menjadi motor penggerak rekonstruksi perjuangan, bukan sekadar tempat meluapkan reaksi spontan yang instan.
Budaya literasi digital yang sehat dan tradisi intelektual yang kuat menjadi benteng utama anak muda dalam mengantisipasi masa depan.
"Bangsa ini tegak karena jasa pahlawan, maka warisi apinya, jangan abunya. Dulu Bung Karno memakai poster untuk menggerakkan kesadaran pemilu. Jika beliau hidup di era digital sekarang, media sosial pasti menjadi senjata utamanya untuk berjuang," tegas Aiko.
Pertemuan di Karangploso ini meninggalkan pesan kuat bagi generasi muda untuk segera mendobrak zona nyaman. Meneladani proklamator berarti siap bertarung menaikkan kualitas diri demi menjaga posisi Indonesia di tengah sengitnya persaingan global.
Penulis: Bintang Putra