The Indonesia Times -Indonesia menghadapi kebutuhan besar akan sumber daya manusia berkompetensi digital. Jumlah talenta digital yang dibutuhkan diproyeksikan mencapai 12 juta orang pada 2030, sementara kesenjangan masih sekitar 3 juta talenta.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang meluas di berbagai sektor. Dunia industri tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan analisis dan berpikir kritis.

Pendidikan AI menjadi salah satu upaya untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan tersebut. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan teknis sekaligus pemahaman mengenai penerapan AI secara strategis, etis, dan bertanggung jawab.

Rektor BINUS, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan perluasan akses pendidikan teknologi menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi kebutuhan masa depan.

“Mahasiswa perlu dipersiapkan bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai inovator,” kata Nelly.

Penguatan pendidikan AI tersebut diwujudkan melalui peluncuran Artificial Intelligence Program di BINUS @Bekasi pada 5 September 2026. Program ini diarahkan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri.

Campus Director BINUS @Bekasi, Prof. Gatot Soepriyanto, mengatakan lingkungan industri dan bisnis di Bekasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami penerapan AI secara langsung.

“Mahasiswa dapat belajar menerjemahkan teknologi menjadi solusi yang memiliki nilai dalam konteks industri dan bisnis,” ujarnya.

Dekan BINUS School of Computer Science, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, menilai kemampuan bekerja berdampingan dengan AI akan menjadi tantangan penting bagi generasi muda.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita menggunakan AI, tetapi bagaimana generasi muda dapat bekerja bersama AI,” kata Derwin.

Program tersebut mencakup matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things, hingga robotika. Penguatan kompetensi ini diharapkan ikut mempersempit kesenjangan 3 juta talenta digital yang masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia menuju 2030.