The Indonesia Times -Indonesia kembali disorot dunia. Laporan Bank Dunia 2025 menempatkan Indonesia di peringkat kedua negara dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di dunia, jika diukur menggunakan garis kemiskinan internasional terbaru sebesar USD6,85 PPP per kapita per hari.
Posisi ini muncul setelah Bank Dunia menyesuaikan metodologi garis kemiskinan global untuk mencerminkan kenaikan biaya hidup dunia. Dampaknya, jumlah penduduk miskin di negara berpendapatan menengah atas seperti Indonesia melonjak secara statistik.
Baca juga: Pendidikan AI Diperluas untuk Jawab Kebutuhan 12 Juta Talenta Digital
Dengan populasi lebih dari 287 juta jiwa, Indonesia otomatis mencatat angka kemiskinan absolut yang sangat besar dibanding negara lain. Namun fakta ini tetap menjadi tamparan keras di tengah klaim pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan per September 2024 hanya 8,57 persen atau sekitar 24,06 juta jiwa. Perbedaan tajam ini terjadi karena BPS memakai garis kemiskinan nasional berbasis kebutuhan dasar, bukan standar global Bank Dunia.
Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 di Surabaya Terkendala Edukasi Publik dan Koordinasi
Meski begitu, BPS mengakui sekitar 24,42 persen penduduk Indonesia masuk kategori rentan miskin—kelompok yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan dan sangat mudah jatuh miskin kembali akibat inflasi dan gejolak ekonomi.
Bank Dunia menegaskan tekanan harga pangan dan turunnya daya beli menghantam paling keras kelompok bawah. Artinya, pertumbuhan ekonomi belum otomatis menghadirkan kesejahteraan.
Baca juga: DNIKS Dorong Gerakan Nasional untuk Tekan Angka Kemiskinan di Indonesia
Dua data, satu pesan: kemiskinan Indonesia belum aman. Tanpa perlindungan sosial yang kuat, lapangan kerja layak, dan ekonomi yang lebih inklusif, label “peringkat dua termiskin dunia” bukan sekadar statistik—melainkan peringatan serius bagi negara.
Editor : Rico