The Indonesia Times - Pemerintah Taiwan mengungkap serangan siber berbantuan kecerdasan buatan (AI) yang menargetkan sejumlah lembaga pemerintah pada Juli 2026. Serangan tersebut dideteksi sebagai aktivitas tidak normal dan disebut memiliki karakteristik berasal dari luar negeri.
Kementerian Urusan Digital Taiwan (MDA) mengatakan unit pemantauan keamanan siber mendeteksi serangan mulai 20 Juli. Institut Keamanan Siber Nasional Taiwan kemudian mengeluarkan sejumlah peringatan selama proses penyelidikan berlangsung.
Baca juga: UNESCO Hadirkan Kursus Gratis Etika AI dalam Bahasa Indonesia
Hasil penyelidikan menunjukkan pelaku menggunakan pola hibrida dengan menggabungkan operasi manual dan bantuan AI agent, termasuk OpenClaw. MDA menyatakan sumber, metode, serta cakupan dampak serangan telah diselidiki dan lembaga yang terdampak telah melakukan penanganan.
MDA: Serangan Berasal dari Luar Negeri
MDA menyebut serangan tersebut memiliki karakteristik jelas sebagai aktivitas dari sumber luar negeri. Namun, pemerintah Taiwan tidak menyebut negara atau kelompok tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab.
“Sumber, metode, dan cakupan dampak serangan yang relevan telah sepenuhnya diselidiki, dan unit-unit yang terdampak telah menyelesaikan penanganannya secara bertahap,” kata MDA dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Kasus tersebut terungkap sehari setelah perusahaan keamanan siber Israel, Dream, melaporkan operasi peretasan berbasis AI terhadap sebuah pemerintahan di Asia yang kemudian dikaitkan dengan Taiwan.
Baca juga: Bank di Seluruh Dunia Diminta Waspada, AI Canggih Disebut Bisa Bobol Sistem
Menurut laporan Dream, operasi itu melibatkan sejumlah agen AI yang bekerja secara bersamaan. Sistem tersebut disebut berhasil mengakses sedikitnya 85 akun pemerintah dan mengambil lebih dari 2.500 data personel sebelum memperluas sasaran ke badan keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan energi.
Taiwan Perkuat Pemantauan Keamanan Siber
Perkembangan tersebut mendorong Taiwan memperkuat pemantauan sistem pemerintah dan menyiapkan panduan perlindungan menghadapi ancaman berbasis AI.
Baca juga: JakOne Mobile Bawa Bank Jakarta Raih Penghargaan Perbankan Digital 2026
MDA sebelumnya juga telah memperingatkan risiko penggunaan AI agent seperti OpenClaw. Administrasi Keamanan Siber Taiwan menyebut AI agent yang memiliki kewenangan sistem tinggi dan dapat bekerja secara mandiri berpotensi menjadi celah keamanan jika tidak ditempatkan dalam lingkungan terisolasi dan diawasi dengan baik.
Pemerintah Taiwan juga telah memasukkan ancaman serangan otomatis berbasis AI dalam agenda penguatan keamanan nasional. Dalam rapat keamanan siber pada Juli 2026, pemerintah menyatakan akan menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menghadapi ancaman yang muncul dari perkembangan AI.
MDA menegaskan penanganan serangan dilakukan untuk memastikan ancaman dapat dihentikan sejak dini. Kasus ini sekaligus membuat pemanfaatan AI dalam operasi siber menjadi perhatian baru bagi sistem pertahanan digital Taiwan.
Editor : Rico