The Indonesia Times - PT Sinergy Informasi Pratama (SIP) menempatkan isu keamanan siber dan ketahanan transaksi digital sebagai fokus utama reposisi bisnisnya, seiring meningkatnya risiko serangan terhadap ekosistem e-commerce di Indonesia.
Perusahaan yang berada di bawah SIJI Group itu menyatakan lonjakan aktivitas perdagangan digital memperluas permukaan serangan, mulai dari kebocoran data pelanggan hingga gangguan operasional platform. Dalam konteks tersebut, SIP meluncurkan layanan pusat operasi keamanan siber ARSA Shield yang dirancang untuk pemantauan ancaman dan respons insiden secara berkelanjutan.
Direktur Utama SIP Rony Cahyadi mengatakan perubahan strategi diarahkan pada penguatan integrasi sistem digital yang aman bagi pelaku e-commerce.
“Perdagangan digital memerlukan sistem yang tidak hanya cepat dan terintegrasi, tetapi juga terlindungi dari ancaman siber yang berkembang cepat,” ujarnya di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Reposisi ini berlangsung di tengah percepatan adopsi transaksi daring dan integrasi data lintas platform yang meningkatkan ketergantungan pelaku usaha pada infrastruktur digital. SIP menyebut serangan siber yang menyasar rantai pasok digital dan sistem pembayaran menjadi risiko yang perlu diantisipasi melalui pengawasan keamanan terpusat dan respons insiden yang terukur.
Dalam operasionalnya, SIP bekerja sama dengan sejumlah penyedia teknologi global, di antaranya Cisco, Huawei, Palo Alto Networks, Rubrik, dan Fortinet untuk mendukung integrasi infrastruktur dan pengamanan data.