The Indonesia Times -Pemerintah terus memperkuat program Sekolah Rakyat sebagai strategi pendidikan berbasis pemberdayaan untuk menekan angka kemiskinan. Program ini tidak hanya fokus pada akses pendidikan, tetapi juga menyiapkan lulusan agar mampu mandiri dan berkontribusi di masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa lulusan Sekolah Rakyat diharapkan tidak berhenti sebagai pencari kerja, melainkan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Lulusan Sekolah Rakyat harus menjadi agen pemberdayaan, baik melalui jalur akademik maupun profesi sesuai potensi yang dimiliki,” ujarnya dalam acara evaluasi program di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Dalam hampir satu tahun pelaksanaan, program ini dinilai menunjukkan perkembangan signifikan. Pemerintah mencatat Sekolah Rakyat telah hadir di seluruh provinsi dengan jumlah ratusan unit dan menjangkau jutaan anak dari keluarga kurang mampu.
Konsep pendidikan berbasis asrama dengan sistem pembinaan 24 jam menjadi pendekatan utama. Selain pembelajaran akademik, siswa juga mendapatkan penguatan karakter dan keterampilan hidup yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing di masa depan.
Fasilitas yang disediakan meliputi ruang kelas, asrama, laboratorium, hingga layanan kesehatan, guna mendukung proses belajar secara menyeluruh. Model ini dinilai sebagai upaya intervensi pendidikan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Pemerintah menilai Sekolah Rakyat dapat menjadi solusi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan, dengan mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya terdidik, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi di lingkungannya.