The Indonesia Times -  Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998 tak menjadi penghalang bagi Dr. apt. Sentot Purwandi, S.Si., M.T., FACP untuk memulai karier. Justru dari masa sulit tersebut, alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) itu membangun perjalanan panjang hingga kini dipercaya menjadi General Manager di perusahaan farmasi multinasional.

Di balik jabatan yang diraihnya, tersimpan kisah tentang ketekunan menempuh pendidikan sambil bekerja. Sentot menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi di UNAIR pada 1997, lalu meraih gelar Apoteker setahun kemudian.

Hasrat untuk terus belajar tak berhenti di sana. Setelah lebih dari satu dekade berkarier, ia kembali duduk di bangku kuliah dengan mengambil Magister Teknik Industri di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) pada 2011. Pilihan tersebut diambil untuk memperkuat pemahamannya mengenai industri dan manajemen yang berkaitan langsung dengan pekerjaannya.

Perjalanan akademiknya berlanjut ke jenjang doktoral di Fakultas Farmasi UNAIR. Gelar doktor berhasil diraih pada 2023 ketika ia masih aktif menjalankan tugas sebagai eksekutif di PT Hisamitsu Pharma Indonesia.

Bagi Sentot, tantangan terbesar bukan terletak pada rumitnya materi kuliah, melainkan membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah membuatnya menyerah.

"Kuliah itu seperti mendaki Mahameru. Jalannya berat, tetapi harus dijalani dengan sabar, setahap demi setahap, tanpa menyerah. Saat mencapai puncak, ada kepuasan dan rasa kemenangan yang tidak bisa digambarkan," ujarnya.
Prinsip tersebut menjadi pegangan selama menjalani studi. Ia memilih terus bergerak, belajar, dan mengembangkan kemampuan meski harus menghadapi kesibukan pekerjaan.

Organisasi Jadi Bekal Memimpin

Masa kuliah di Fakultas Farmasi UNAIR juga diisi dengan berbagai aktivitas organisasi. Sentot pernah aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), Senat Fakultas Farmasi, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam WANALA.

Menurutnya, organisasi menjadi ruang untuk melatih kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, sekaligus keberanian mengambil keputusan. Pengalaman tersebut banyak membantunya saat memasuki dunia profesional.

Karier Dimulai dari Lantai Produksi

Lulus sebagai apoteker pada 1998, Sentot sempat mengawali karier sebagai medical representative di PT Glaxo Wellcome Indonesia. Namun, kecelakaan sepeda motor yang dialaminya tiga bulan kemudian mengubah arah perjalanan profesionalnya.

Ia memutuskan beralih ke industri manufaktur farmasi dan memulai karier sebagai Assistant Manager Produksi di PT Rama Farma, Gresik.

Kariernya terus berkembang. Pada 1999, ia bergabung dengan PT Pharos Indonesia sebagai Production Supervisor. Setahun berselang, Sentot menerima tantangan baru di perusahaan farmasi asal Jerman, PT Schering AG, sebagai Production Head.

Pengalaman di perusahaan multinasional berlanjut saat ia dipercaya menjadi Production Manager di PT Schering Plough Indonesia.

Setelah itu, ia memperkuat rekam jejaknya di PT MSD–Merck Sharp Dohme Pharma Indonesia dengan menangani berbagai bidang, mulai dari produksi, business compliance, Lean Six Sigma, hingga pengembangan pemasok.

Pada 2017, ia memimpin operasional PT Natura Laboratoria Prima yang berada di bawah Bernofarm Group sebagai Plant Manager. Sejak 2018 hingga sekarang, Sentot menjabat sebagai General Manager PT Hisamitsu Pharma Indonesia.

Baginya, setiap perpindahan pekerjaan bukan sekadar mengejar jabatan, melainkan kesempatan memperluas pengalaman dan menguji kemampuan diri.

"Saya selalu tertarik pada tantangan baru. Saya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang saya miliki dan terus mengembangkannya," kata Sentot.

Perjalanan Dr. Sentot Purwandi memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Konsistensi belajar, keberanian keluar dari zona nyaman, serta kemauan menghadapi tantangan menjadi bekal yang mengantarkannya dari masa krisis ekonomi hingga memimpin perusahaan farmasi berskala global.