The Indonesia Times - Penggunaan sistem bedah robotik untuk operasi, termasuk teknologi da Vinci Xi, kini semakin berkembang di Indonesia dan menjadi tonggak penting dalam transformasi layanan kesehatan modern.

Teknologi ini memungkinkan dokter melakukan tindakan bedah dengan tingkat presisi tinggi, kontrol gerakan yang lebih stabil, serta visualisasi tiga dimensi yang detail.

Hasilnya, sayatan menjadi lebih kecil, risiko komplikasi menurun, dan pemulihan pasien berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Di tengah perkembangan tersebut, kebutuhan layanan kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi tantangan besar. Keterbatasan fasilitas, tenaga medis, serta akses terhadap teknologi kesehatan membuat pemerataan layanan belum optimal. Kehadiran inovasi seperti bedah robotik diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, sekaligus mendorong pemerataan akses layanan medis berstandar tinggi di Indonesia.

Selain itu, meningkatnya angka penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, gangguan urologi, serta kelainan sendi dan tulang, ditambah pertumbuhan populasi lanjut usia, mendorong kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang lebih kompleks dan presisi. Kondisi ini menuntut sistem kesehatan untuk terus beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi medis canggih yang mampu memberikan hasil klinis lebih baik serta mempercepat pemulihan pasien.

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, dr. Yanti Herman, SH, MH.Kes, menegaskan bahwa penguatan layanan kesehatan berbasis teknologi merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sistem kesehatan nasional. “Penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pengembangan layanan berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin aman, presisi, dan berkualitas.

Inovasi seperti bedah robotik juga memperkuat sistem kesehatan nasional agar masyarakat dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat,” ujarnya.

Pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi terus didorong untuk memperkuat sistem kesehatan nasional yang mampu bersaing di tingkat global. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengadaan alat, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi dokter, tata kelola klinis yang kuat, pemanfaatan data dan riset, serta kolaborasi dengan pusat-pusat unggulan dunia.

Siloam International Hospitals menjadi salah satu institusi yang aktif membangun ekosistem tersebut. Dalam satu tahun terakhir, Siloam telah mengoperasikan tujuh sistem bedah robotik, termasuk da Vinci Xi, di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar.

Kehadiran teknologi ini memungkinkan lebih banyak pasien di dalam negeri mendapatkan layanan bedah berteknologi tinggi tanpa harus berobat ke luar negeri.

Teknologi da Vinci Xi dikenal mampu meningkatkan akurasi tindakan bedah melalui lengan robotik yang dikendalikan langsung oleh dokter, dengan rentang gerak yang lebih fleksibel dibandingkan tangan manusia. Berbagai studi menunjukkan bahwa penggunaan sistem ini dapat mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi hingga 44 persen, menurunkan risiko kematian dalam 30 hari hingga 46 persen, serta mempercepat masa rawat inap pasien hampir dua hari lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

Selain da Vinci, Siloam juga memanfaatkan teknologi robotik lainnya seperti ROSA Knee Robotic Surgery untuk prosedur ortopedi, khususnya penggantian sendi lutut.

Teknologi ini membantu dokter mencapai tingkat presisi tinggi dalam penempatan implan, sehingga meningkatkan keberhasilan operasi dan mempercepat pemulihan pasien.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, Siloam Hospitals Kebon Jeruk dikembangkan menjadi Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery. Fasilitas ini menjadi pusat unggulan layanan, pendidikan, dan penelitian bedah robotik lintas disiplin. Didukung oleh dokter bedah robotik tersertifikasi, rumah sakit ini telah melakukan lebih dari 100 prosedur sejak mulai mengoperasikan da Vinci Xi pada 2025.

CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menyampaikan bahwa transformasi layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukungnya.

“Kami membangun ekosistem yang memastikan teknologi bedah robotik memberikan manfaat nyata bagi pasien, melalui investasi pada kompetensi dokter, tata kelola klinis, penelitian, serta budaya pembelajaran berkelanjutan,” katanya.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, menambahkan bahwa hasil evaluasi internal menunjukkan manfaat signifikan dari penggunaan teknologi robotik. Berdasarkan data registri operasi lutut Siloam, pasien yang menjalani prosedur robotik memiliki rata-rata lama rawat inap 4,5 hari, lebih singkat dibandingkan 6,2 hari pada metode konvensional, dengan tingkat keamanan yang tetap terjaga.

Pengalaman pasien juga menunjukkan hasil positif. Salah satu pasien yang menjalani prosedur Total Knee Replacement berbasis robotik mengaku pemulihannya lebih cepat dengan rasa nyeri yang minimal, sehingga dapat kembali beraktivitas dalam waktu lebih singkat.

Melalui penguatan ekosistem dan pemanfaatan teknologi seperti da Vinci Xi, pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi diharapkan mampu memperkuat sistem kesehatan nasional yang berstandar global. Kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga medis, dan mitra internasional menjadi kunci dalam memastikan inovasi ini dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Ke depan, pengembangan bedah robotik tidak hanya difokuskan di kota besar, tetapi juga diharapkan dapat menjangkau lebih banyak wilayah, sehingga pemerataan layanan kesehatan berkualitas dapat terwujud di seluruh Indonesia.