The Indonesia Times - Sampah kemasan makanan ringan berbahan plastik multilapis atau multi-layered plastic (MLP) mulai dimanfaatkan menjadi fasilitas publik di Bali. Material yang selama ini dikenal sulit didaur ulang tersebut diolah menjadi papan nama jalan dan penunjuk arah yang dipasang di sejumlah ruang publik di Denpasar dan Gianyar.

Proyek tersebut dikembangkan PepsiCo Indonesia bersama Bali Waste Cycle (BWC) melalui PepsiCo Greenhouse Program IMPACT Edition Asia Pacific 2026. Salah satu hasilnya berupa papan nama “Taman Kota Sewaka Dharma” di kawasan Lumintang, Denpasar, yang dibuat dari material MLP bekas kemasan makanan ringan.

Bahan tersebut berasal dari kemasan pascakonsumsi yang dikumpulkan dan dikelola BWC dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar. Selain di Taman Lumintang, material hasil pengolahan sampah kemasan juga digunakan untuk papan penunjuk arah di sejumlah lokasi publik, termasuk Kemenuh Monkey River di Gianyar.

Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, pemanfaatan sampah menjadi fasilitas publik dapat sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

“Ruang publik seperti taman kota banyak dikunjungi oleh masyarakat. Karena itu, ruang-ruang publik ini dapat kita manfaatkan tidak hanya untuk menjaga kebersihan, tetapi sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa sampah dapat diolah menjadi bahan yang produktif,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Direktur Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang mengatakan, pengolahan MLP menunjukkan bahwa material yang sulit didaur ulang masih dapat memiliki nilai guna dan ekonomi apabila dikelola dengan tepat.

“Proyek ini tidak semata tentang keberhasilan mengubah sampah menjadi produk baru, melainkan tentang bagaimana mempertahankan nilai material selama mungkin sekaligus menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Director of Government Affairs, Corporate Communications and Sustainability PepsiCo Indonesia Gabrielle Angriani Johny mengatakan, pemanfaatan kembali kemasan pascakonsumsi menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah.

Menurut dia, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra pengelola sampah diperlukan agar material MLP memiliki pemanfaatan setelah dikumpulkan dari masyarakat.

Inisiatif tersebut juga berkaitan dengan penerapan prinsip extended producer responsibility (EPR) serta target pemerintah mengurangi sampah produsen sebesar 30 persen pada 2029.

PepsiCo Indonesia sebelumnya telah menjalankan program pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan melalui sejumlah mitra, termasuk Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle.

Bagi BWC, proyek di Bali menjadi bagian dari pengembangan solusi untuk material plastik yang sulit didaur ulang. Startup tersebut pada 2025 terpilih sebagai finalis Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific dan kembali masuk Greenhouse Program IMPACT Edition Asia Pacific pada 2026.

Melalui program tersebut, BWC memperoleh pendanaan dan pendampingan untuk mengembangkan solusi pengelolaan sampah serta memperluas penerapannya.

Ke depan, kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas pemanfaatan material pascakonsumsi sehingga lebih banyak sampah kemasan dapat kembali masuk ke rantai ekonomi dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk fasilitas publik.