The Indonesia Times - Krisis iklim yang memicu banjir dan bencana hidrometeorologi di sejumlah negara Asia Tenggara mendorong Indonesia menawarkan pendekatan ekonomi berbasis alam dalam forum Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026.
Pendekatan tersebut dibawa melalui Paviliun Ekonomi Berbasis Alam (Nature-Based Economy Pavilion) yang digelar Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) di Lumphini Park, Bangkok, Thailand, pada 5-7 Oktober 2026.
Direktur Eksekutif KEM Fito Rahdianto mengatakan paviliun tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha, komunitas, investor, pemerintah, masyarakat sipil hingga peneliti untuk membahas model ekonomi yang memanfaatkan potensi biodiversitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
“Kami meyakini strategi aksi iklim tidak boleh bersifat tertutup atau terisolasi, melainkan melalui kolaborasi aktif antarpihak,” kata Fito, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, ekonomi berbasis alam dapat menjadi salah satu cara membangun rantai nilai baru yang menghubungkan produsen, industri, pemilik modal, masyarakat sipil dan pemerintah. Model tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi tanpa mengorbankan fungsi lingkungan.
Urgensi pendekatan itu semakin terlihat dari rentetan bencana yang terjadi di kawasan. Sepekan sebelum BKKCAW 2026, banjir melanda Bangkok dan dilaporkan menewaskan 24 orang serta berdampak terhadap lebih dari 300 ribu keluarga.
Banjir juga terjadi di Johor Bahru, Malaysia. Sementara di Indonesia, bencana hidrometeorologi sebelumnya melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
KEM menilai rangkaian bencana tersebut menunjukkan tingginya kerentanan negara-negara Global South terhadap dampak perubahan iklim. Karena itu, kolaborasi regional dinilai penting untuk mencari model pembangunan yang tidak semata bertumpu pada aktivitas ekstraktif.
Selama BKKCAW, Paviliun Ekonomi Berbasis Alam menghadirkan diskusi, pameran produk serta kegiatan solidaritas untuk merespons dampak krisis iklim di Asia Tenggara. Pesertanya berasal dari berbagai kelompok masyarakat sipil, pengusaha sosial, investor berdampak, seniman, jurnalis dan peneliti dari negara-negara Global South.
KEM juga mengaitkan agenda tersebut dengan target pengembangan bioekonomi Indonesia menuju 2045. Organisasi itu menyebut ekonomi berbasis alam diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 18 persen serta mendukung upaya penurunan emisi karbon nasional.
Fito mengatakan perubahan menuju ekonomi berbasis alam membutuhkan evaluasi terhadap praktik ekstraksi yang selama ini menjadi bagian dari sistem ekonomi.
“Jika bermimpi akan dunia yang lebih baik dianggap terlalu mengawang-awang, setidaknya kita dapat menawarkan cara pandang baru untuk membayangkan kehidupan yang melampaui sistem ekstraktif yang kita warisi,” ujarnya.
BKKCAW 2026 menjadi bagian dari rangkaian forum iklim yang mempertemukan komunitas, pemerintah, dunia usaha, seniman dan organisasi masyarakat untuk membahas solusi terhadap krisis iklim. Hasil dan gagasan dari forum tersebut juga diarahkan menjadi bahan advokasi menuju COP31 yang dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki, pada 9-20 November 2026.