theindonesiatimes - Ketakutan tidak selalu muncul dari sosok menyeramkan yang terlihat di depan mata. Terkadang, suara yang tidak diketahui sumbernya justru memicu imajinasi dan membuat seseorang membayangkan ancaman yang lebih menakutkan. Pendekatan inilah yang diangkat film horor Indonesia Hasut melalui perpaduan misteri, teror suara, dan konflik psikologis.

Film yang sedang tayang di bioskop ini menempatkan suara sebagai elemen penting dalam membangun ketegangan. Gangguan frekuensi, suara statis, hingga komunikasi terputus melalui perangkat handy talkie (HT) menjadi bagian dari pengalaman horor yang ditawarkan kepada penonton.

Berbeda dari film horor yang mengandalkan kemunculan sosok gaib, Hasut membiarkan penonton berhadapan dengan ketidakpastian. Ketika sumber suara tidak diketahui, imajinasi mengambil alih dan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang justru memperkuat rasa takut.

Penulis sekaligus sutradara Ilya Sigma mengaku lebih takut terhadap sesuatu yang dibayangkan daripada sesuatu yang terlihat secara langsung.

“Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak,” ujar Ilya, Selasa (13/10/2026).

Pemilihan HT sebagai medium teror juga berangkat dari karakteristik perangkat tersebut. Suara yang muncul melalui gangguan sinyal dan frekuensi yang terputus menciptakan pertanyaan mengenai siapa yang sedang berbicara dan apakah informasi yang diterima bisa dipercaya.

Di balik permainan suara tersebut, Hasut turut mengangkat persoalan luka batin dan trauma masa lalu. Cerita berpusat pada empat karakter yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Mereka memasuki sebuah hutan sambil membawa beban masa lalu, kemudian menghadapi suara-suara yang menambah ketidakpastian dalam perjalanan mereka.

Tema tersebut berkaitan dengan gagasan tentang hasutan yang menjadi inti cerita. Menurut Ilya, pengaruh dari luar terkadang dapat masuk ke dalam pikiran hingga seseorang menganggapnya sebagai suara dan keyakinannya sendiri.

“Aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” kata Ilya, merefleksikan pengalamannya ketika memulai penyutradaraan film panjang pertamanya.

Bagi Ilya, Hasut menjadi ruang untuk mengeksplorasi hubungan antara ketakutan, pikiran, dan proses penyembuhan luka batin. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana elemen suara dapat digunakan bukan sekadar sebagai pembangun suasana, melainkan juga sebagai bagian dari konflik cerita.

Film produksi Tuta Films ini menjadi debut penyutradaraan film panjang Ilya Sigma setelah berkiprah di industri perfilman sejak 2010. Sebelumnya, ia terlibat sebagai penulis dalam sejumlah film, termasuk Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), dan A Man Called Ahok (2018).

Melalui Hasut, Ilya menggabungkan teror yang tidak selalu terlihat dengan persoalan psikologis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini menghadirkan pertanyaan tentang batas antara ancaman dari luar dan ketakutan yang tumbuh di dalam pikiran manusia.