The Indonesia Times -Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tengah mengkaji sejumlah opsi keras terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan militer, menyusul gelombang demonstrasi besar di negara tersebut yang dilaporkan menewaskan lebih dari 500 orang. “Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga sedang meninjaunya. Ada beberapa opsi yang sangat kuat, dan kami akan mengambil keputusan,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (11/1/2026), seperti dikutip AFP.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap situasi Iran. Kelompok hak asasi manusia berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 538 orang tewas, terdiri atas 490 demonstran dan 48 aparat keamanan, sejak unjuk rasa pecah pada akhir Desember lalu. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap.
Baca juga: Donald Trump Setujui Gencatan Senjata Tanpa Batas dengan Iran, Ini Alasannya
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi jumlah korban. Laporan HRANA juga belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters, namun angka tersebut memperkuat dugaan bahwa aparat keamanan Iran menggunakan kekerasan secara masif untuk meredam protes.
Gelombang demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember itu disebut sebagai yang terbesar sejak 2022. Aksi awal dipicu krisis moneter dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk seruan penggulingan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Amerika Serikat dan Israel sejak awal menyatakan dukungan terbuka terhadap para demonstran. Trump sebelumnya menegaskan tidak akan tinggal diam jika aparat Iran melakukan kekerasan terhadap warga sipil.
Pada Selasa (13/1/2026), Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior keamanan nasional untuk membahas langkah lanjutan terkait Iran. The Wall Street Journal melaporkan, Trump telah membuka opsi intervensi langsung, termasuk penggunaan kekuatan militer.
Sementara itu, The Jerusalem Post mengutip sejumlah pejabat yang menyebut Trump telah memutuskan untuk membantu demonstran Iran.
Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir Besok, Trump Tunggu Hasil Negosiasi
Opsi yang sedang dibahas meliputi bantuan militer terbatas, operasi siber, hingga dukungan jaringan internet, menyusul pemutusan akses internet di Iran sejak Kamis (8/1/2026).
Pemutusan internet terjadi di tengah eskalasi aksi protes. Laporan lembaga HAM menyebutkan demonstran membakar gedung pemerintah, kendaraan dinas, serta fasilitas umum. Aksi unjuk rasa disebut telah menyebar ke hampir seluruh provinsi Iran.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar rapat dengan para menteri dan pejabat keamanan untuk membahas perkembangan situasi Iran. Netanyahu memilih tidak terlibat secara terbuka di Teheran dan menyerahkan langkah strategis kepada Washington, sembari bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Baca juga: Shehbaz Sharif dan Presiden Iran Sepakat Dorong Stabilitas Kawasan
Pemerintah Iran telah memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak mencampuri urusan dalam negerinya. Teheran mengancam akan menyerang Israel serta pangkalan dan kapal militer AS di kawasan jika intervensi dilakukan.
Situasi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan potensi dampak geopolitik yang luas, di tengah krisis domestik Iran yang kian memburuk.
Editor : Rico