The Indonesia Times - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah tidak tercapai kesepakatan dalam pembicaraan intensif selama 21 jam di Islamabad, Pakistan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan pihaknya telah mengajukan “tawaran terakhir dan terbaik” terkait isu utama, yakni komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. “Kami meninggalkan pembicaraan dengan proposal sederhana. Sekarang tinggal apakah Iran akan menerimanya,” ujar Vance, Minggu (12/4/2026).
Baca juga: PLTN Pertama Indonesia Ditargetkan Beroperasi 2032, Ini Persiapan yang Sudah Dilakukan
Menurutnya, Amerika Serikat membutuhkan jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak hanya menahan diri sementara, tetapi benar-benar menghentikan ambisi nuklirnya. Namun hingga kini, komitmen tersebut dinilai belum terlihat.
Baca juga: Amerika Tahan Sawit dari Indonesia, 9 Indikator Kerja Paksa Ditemukan pada Pekerja
Sebelumnya, Washington sempat memberi ruang negosiasi dengan menghentikan serangan bersama Israel selama dua pekan. Meski demikian, hasil perundingan belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Di sisi lain, Iran tetap membantah tudingan pengembangan senjata nuklir. Sementara itu, Presiden Donald Trump disebut telah memberikan fleksibilitas dalam proses negosiasi, meski tidak terlalu mempersoalkan hasil akhir.
Baca juga: AS Bongkar Dugaan Aliran Dana Hamas Rp33 Miliar Lewat Organisasi Amal di Prancis
Mandeknya perundingan ini memperpanjang ketegangan geopolitik di kawasan, terutama terkait isu keamanan dan stabilitas energi global.
Editor : Rico