The Indonesia Times -Pemerintah mempercepat penguatan infrastruktur logistik di Pelabuhan Yos Sudarso Merauke menyusul lonjakan aktivitas bongkar muat yang memicu kepadatan terminal.
Direktur Kepelabuhanan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Anto Julianto, menegaskan peningkatan kapasitas pelabuhan menjadi prioritas untuk menjaga kelancaran distribusi barang di kawasan timur Indonesia.
Baca juga: Arus Peti Kemas Pelindo Tembus 13,34 Juta TEUs pada 2025
“Potensi komoditas di Merauke sangat besar, seperti gula, beras, dan jagung. Ini harus diimbangi dengan sistem distribusi dan infrastruktur yang memadai agar mobilitas barang lebih optimal,” ujar Anto saat meninjau operasional pelabuhan, Minggu (26/4/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan, tingkat kepadatan lapangan penumpukan petikemas (Yard Occupancy Ratio/YOR) telah mencapai sekitar 90 persen. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada keterbatasan kapasitas terminal serta meningkatnya waktu tunggu kapal.
Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, menjelaskan bahwa kepadatan dipicu oleh aktivitas stuffing dan stripping yang masih berlangsung di dalam area terminal, serta belum lancarnya arus keluar kontainer. “Kami melihat kepadatan ini juga dipengaruhi oleh belum optimalnya distribusi keluar pelabuhan. Karena itu, pengembangan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak,” jelasnya.
Sebagai solusi, operator pelabuhan melalui Pelindo tengah menyiapkan pembangunan depo petikemas di luar area pelabuhan yang akan difungsikan sebagai buffer yard. “Rencana ini sudah kami siapkan dan mengacu pada Rencana Induk Pelabuhan. Lokasinya sekitar 500 meter dari pelabuhan, namun masih membutuhkan dukungan akses jalan dari pemerintah daerah,” tambah Rasul.
Pemerintah berharap langkah ini dapat memperkuat konektivitas maritim sekaligus meningkatkan efisiensi logistik nasional, khususnya dalam mendukung distribusi komoditas unggulan dari Papua Selatan.
Editor : Rico