The Indonesia Times - Transformasi kecerdasan buatan (AI) mulai menggeser definisi tenaga kerja bernilai di industri perbankan global. Standard Chartered mengambil langkah strategis dengan merencanakan pengurangan sekitar 15% posisi di fungsi korporasi hingga 2030, sebagai bagian dari peralihan menuju model bisnis berbasis teknologi.
Kebijakan ini diperkirakan berdampak pada lebih dari 7.000 pekerja dari sekitar 52.000 pegawai di divisi terkait. Alih-alih sekadar efisiensi, bank asal Inggris tersebut menegaskan bahwa langkah ini merupakan reposisi kualitas sumber daya manusia.
Baca juga: Heksa Insurance Percepat Verifikasi Data Nasabah dengan OCR Verihubs
CEO Standard Chartered, Bill Winters, menyebut perusahaan kini memprioritaskan investasi pada teknologi dan modal finansial dibanding mempertahankan peran dengan nilai tambah rendah.
“Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan investment capital,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Transformasi ini terutama menyasar fungsi back-office di sejumlah pusat operasional global seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. Peran administratif yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia kini mulai digantikan oleh sistem otomatis berbasis AI.
Baca juga: Pacu Ekonomi Digital, Smartfren Hadirkan Jaringan 5G Blanket Coverage di Surabaya
Meski demikian, perusahaan tetap membuka peluang reskilling bagi karyawan terdampak. Winters menegaskan pegawai yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan baru akan diprioritaskan untuk reposisi dalam organisasi.
Langkah Standard Chartered mencerminkan tren global, di mana perusahaan keuangan berlomba meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing melalui AI. Sebelumnya, Mizuho Financial Group juga mengumumkan rencana pengurangan ribuan pekerjaan dalam dekade mendatang.
Di tengah transformasi ini, Standard Chartered tetap agresif menargetkan pertumbuhan. Bank tersebut membidik return on tangible equity (ROTE) di atas 15% pada 2028 dan meningkat hingga 18% pada 2030, dengan fokus pada segmen nasabah premium dan institusi keuangan.
Baca juga: Tablet Mulai Dilirik First Jobber, Efektifkah untuk Kerja Serius?
Namun, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan telah mencadangkan provisi sebesar US$190 juta terkait konflik di Timur Tengah. “Kami tetap tangguh menghadapi dinamika global,” kata Winters.
Perubahan ini menegaskan bahwa di era AI, bukan hanya jumlah tenaga kerja yang dipertaruhkan, tetapi juga relevansi keterampilan yang dimiliki.
Editor : Rico