The Indonesia Times - Sungai Eufrat yang menjadi salah satu pusat peradaban dunia kini mengalami penyusutan drastis. Data satelit GRACE milik NASA mencatat wilayah Tigris–Eufrat kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air sejak 2003.
Ahli hidrologi University of California, Irvine, Jay Famiglietti, menyebut kondisi ini sangat mengkhawatirkan. “Penurunan cadangan air di kawasan ini terjadi sangat cepat dan berisiko besar,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Krisis ini dipicu perubahan iklim, penurunan curah hujan, serta pembangunan bendungan di hulu sungai yang mengurangi aliran air ke Irak dan Suriah.
Sejumlah peneliti memperingatkan, jika tidak ada langkah serius, Sungai Eufrat berpotensi mengering pada 2040. Selain mengancam kehidupan jutaan warga, kondisi ini juga berisiko memicu konflik baru akibat perebutan sumber daya air.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa krisis air global kini nyata dan semakin mendesak untuk ditangani.
Editor : Rico