The Indonesia Times - Pemuda Katolik dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mendesak dilakukannya investigasi independen atas rangkaian kekerasan yang menewaskan sejumlah warga sipil di Tanah Papua, sekaligus menyoroti pentingnya perlindungan terhadap masyarakat di wilayah konflik.
Dalam pernyataan bersama yang disampaikan Selasa (7/7/2026), kedua organisasi kepemudaan itu menilai eskalasi kekerasan yang terjadi belakangan ini telah melukai rasa kemanusiaan dan memperpanjang penderitaan warga sipil.
Sejumlah insiden menjadi sorotan, termasuk pembakaran pesawat misionaris serta penembakan yang menewaskan pilot, tokoh agama, ibu hamil dan bayinya, serta warga sipil lainnya.
Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menegaskan bahwa serangan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Ia menilai keberadaan tenaga pelayanan di Papua seharusnya dilindungi karena berperan penting bagi masyarakat di daerah terpencil.
Senada, Ketua Umum GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat menekankan bahwa kekerasan tidak pernah bisa menjadi jalan penyelesaian konflik. Menurutnya, Papua membutuhkan pendekatan dialog yang inklusif dan berkeadilan, bukan siklus kekerasan yang terus berulang.
“Setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Tidak ada legitimasi moral dalam tindakan kekerasan terhadap siapa pun,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Selain mendorong investigasi independen, Pemuda Katolik dan GAMKI juga meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap warga sipil, tenaga kesehatan, guru, serta tokoh agama yang bertugas di wilayah rawan konflik.
Ketua Gugus Tugas Papua Pemuda Katolik, Melkior Sitokdana, menambahkan bahwa penguatan peran sumber daya manusia lokal menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan pelayanan publik sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
Di sisi lain, kedua organisasi menilai keterlibatan tokoh agama, gereja, dan tokoh adat dalam dialog damai menjadi kunci untuk meredakan konflik. Mereka menegaskan bahwa upaya rekonsiliasi harus mengedepankan keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Menutup pernyataan, GAMKI dan Pemuda Katolik menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan serta perlindungan terhadap masyarakat sipil, termasuk ribuan warga yang terdampak dan mengungsi akibat konflik.
Mereka menegaskan bahwa perdamaian di Papua hanya dapat dicapai melalui dialog, keadilan, dan komitmen bersama untuk menghormati kehidupan.