The Indonesia Times -Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang siap bekerja keras memenangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak hanya dibaca sebagai langkah politik, tetapi juga sebagai sinyal psikologis seorang pemimpin yang menata ulang peran publiknya setelah lengser dari jabatan.

Di forum Rakernas PSI, Jokowi menegaskan komitmennya untuk turun langsung menggerakkan dukungan. Elite PSI menafsirkan sikap itu sebagai energi konsolidasi nasional. “Momentum besar ini tidak boleh disia-siakan. Bapak Jokowi telah mengarahkan penguatan struktur hingga tingkat akar rumput,” kata Plt Ketua DPW PSI Sumatera Utara Sahat Martin Philip Sinurat, Rabu (11/2/2026).

Pernyataan Jokowi juga dibaca sebagai upaya menjaga relasi emosional dengan basis pendukungnya—relasi yang selama dua periode kekuasaan dibangun melalui citra kedekatan dan kerja lapangan. Dalam perspektif psikologi politik, kedekatan personal sering menjadi fondasi loyalitas yang melampaui struktur partai.

Sahat menegaskan PSI memposisikan diri sebagai wadah keberlanjutan gagasan Jokowi. “Kalau figur utama sudah all out, tidak ada ruang bagi kader yang pasif,” ujarnya, seraya mendorong mobilisasi kader di tingkat komunitas.