The Indonesia Times - Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) kian dilirik investor kripto di Indonesia sebagai pendekatan investasi jangka panjang yang menekankan konsistensi pembelian di tengah volatilitas harga aset digital. Metode ini memungkinkan investor membeli Bitcoin, Ethereum, dan aset kripto lain secara berkala dengan nominal tetap, tanpa harus menebak waktu terbaik masuk pasar.
Pintu Academy, platform edukasi aplikasi kripto PINTU, menjelaskan DCA membantu investor mengurangi risiko psikologis akibat fluktuasi harga ekstrem sekaligus membangun portofolio secara bertahap.
“DCA mendorong disiplin investasi karena pembelian dilakukan rutin sesuai jadwal, bukan berdasarkan spekulasi harga. Dalam jangka panjang, strategi ini berpotensi menurunkan rata-rata harga beli,” ujar Ari Budi Santosa, Blockchain & Crypto Researcher PINTU dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).
Cara Kerja DCA Kripto
Dalam praktiknya, investor mengalokasikan dana tetap untuk membeli aset digital pada interval waktu tertentu, misalnya mingguan atau bulanan. Dengan pendekatan ini, jumlah unit yang diperoleh akan menyesuaikan harga pasar saat pembelian dilakukan.
Sebagai ilustrasi, jika dana US$50.000 digunakan untuk membeli Bitcoin sekaligus saat harga US$50.000, investor memperoleh 1 BTC. Namun jika dana tersebut dibagi menjadi lima pembelian bertahap pada harga berbeda—misalnya US$50.000, US$45.000, hingga US$25.000—investor dapat mengumpulkan sekitar 1,4 BTC dengan harga rata-rata sekitar US$40.000 per BTC.
Pendekatan bertahap ini menjadikan DCA sebagai strategi akumulasi aset jangka panjang yang lebih disiplin dan terukur,
Dengan mekanisme ini, investor otomatis membeli lebih banyak unit saat harga turun dan lebih sedikit saat harga naik. Strategi tersebut dinilai membantu menekan risiko membeli pada puncak harga.
DCA vs Investasi Sekaligus
Pendekatan DCA berbeda dengan strategi lump-sum investing yang menempatkan seluruh dana pada satu waktu. Strategi lump sum berpotensi memberi keuntungan lebih besar jika harga aset langsung melonjak, namun memiliki risiko tinggi jika pembelian dilakukan saat harga puncak.
“DCA tidak menjanjikan keuntungan instan, tetapi memberikan pendekatan investasi yang lebih terukur karena risiko salah waktu masuk pasar bisa ditekan,” jelas Ari Budi.
Investasi Multi Aset Secara Otomatis
Perkembangan teknologi platform kripto di Indonesia turut mempermudah penerapan strategi ini. Melalui fitur investasi otomatis, investor dapat menjadwalkan pembelian beberapa aset sekaligus dalam satu periode.
Sebagai ilustrasi, investor menyiapkan dana Rp1.000.000 per bulan dengan komposisi:60% Bitcoin, 20% Ethereum, dan 20% XRP.
Aplikasi kripto Pintu menghadirkan fitur Auto DCA Multiple Assets yang memungkinkan pengguna membeli beberapa aset digital sekaligus secara otomatis dalam satu jadwal investasi rutin. Fitur ini dirancang untuk mempermudah pembentukan portofolio jangka panjang tanpa harus melakukan transaksi manual berulang.
Pengguna cukup membuka aplikasi Pintu dan memilih menu Auto DCA atau Nabung Rutin, lalu membuat jadwal baru dengan memilih beberapa aset kripto yang diinginkan. Setelah itu, pengguna menentukan nominal pembelian serta frekuensi investasi—mulai dari per jam, harian, mingguan hingga bulanan—kemudian mengonfirmasi pengaturan tersebut.
Dengan pembelian rutin, portofolio akan terbentuk secara bertahap tanpa perlu memantau pergerakan harga setiap saat.
“Fitur Auto DCA membantu pengguna membangun portofolio kripto secara konsisten dan sistematis, terutama bagi investor yang berorientasi jangka panjang,” tegas Ari.
Risiko Tetap Perlu Diperhatikan
Meski dinilai lebih stabil dalam menghadapi volatilitas, DCA tidak menghilangkan risiko pasar sepenuhnya. Jika tren penurunan harga berlangsung lama, nilai portofolio tetap dapat tertekan.
Pelaku industri mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan fundamental aset, likuiditas pasar, serta melakukan diversifikasi investasi.
Di tengah dinamika pasar kripto global yang fluktuatif, strategi DCA dinilai menjadi pendekatan rasional bagi investor ritel Indonesia untuk membangun kepemilikan aset digital secara bertahap dan disiplin — pola investasi yang kini makin relevan seiring meningkatnya literasi kripto di dalam negeri, tegas Ari.