The Indonesia Times - Solois perempuan Ika Putri kembali meramaikan industri musik Tanah Air lewat interpretasi baru lagu Sadis. Setelah sempat rehat dari panggung hiburan, penyanyi asal Surabaya itu memilih pendekatan vokal yang lebih intim untuk menghadirkan warna emosional berbeda pada karya yang sebelumnya populer dibawakan Afgan.
Proyek musik tersebut digarap di bawah naungan BHS Productions dengan arahan produser Seno M. Hardjo. Ika ditantang untuk menekan karakter vokal bertenaga yang selama ini melekat pada dirinya, dan menggantinya dengan teknik semi-whisper yang lebih tenang dan reflektif.
“Menyanyikan lagu ini egonya harus diturunkan, nyanyinya dibuat semi berbisik. Justru cara seperti itu jauh lebih sulit dibanding bernyanyi lantang dan menggelegar,” ujar Ika Putri saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut dipilih untuk menonjolkan kedalaman makna lirik yang menggambarkan luka emosional dalam hubungan yang tidak sehat. Lagu ini, menurutnya, bukan sekadar kisah patah hati, tetapi potret pengkhianatan yang berlangsung secara diam-diam.
Dalam strategi perilisan, Ika tidak mengejar tren viral instan, melainkan memilih konsep “premium pop” dengan fokus pada daya tahan karya dan loyalitas pendengar. Pendekatan itu menunjukkan hasil positif melalui pertumbuhan streaming digital yang berlangsung secara organik.
“Setelah hampir tujuh tahun tidak aktif, angka 100 ribu pendengar terasa seperti mimpi. Ketika akhirnya tercapai dalam waktu kurang dari dua bulan, saya sangat terharu,” kata Ika.
Seno M. Hardjo menilai kualitas vokal Ika menjadi faktor utama kekuatan interpretasi lagu tersebut. Menurutnya, kedewasaan teknik bernyanyi menjadi nilai pembeda di tengah tren musik populer saat ini.
“Cara menyanyi Ika sekarang lebih tenang dan menusuk perlahan. Kualitas vokalnya sangat terjaga, dan itu membuatnya tetap relevan di industri musik,” ujar Seno.
Melalui kolaborasi dengan Bebi Romeo dan Irwan Simanjuntak, Ika Putri berharap rilisan ini menjadi pijakan untuk karya-karya berikutnya sekaligus menandai kembalinya ia ke industri musik dengan identitas artistik yang lebih matang.